Senin, 1 Juni 2026

Berita Aceh Tamiang

Kelapa Sawit Semakin Terpukul Dihantam TBS Terjun Bebas, Harga Pupuk Naik

Kenaikan harga ini terjadi di tengah anjloknya harga tandan buah segar (TBS), sehingga semakin memperburuk kondisi pekebun.

Tayang:
Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: Mursal Ismail
Chat GPT
HARGA PUPUK NAIK - Harga pupuk NPK dan urea yang biasa digunakan pekebun kelapa sawit merangkak naik. Kenaikan harga ini terjadi di tengah anjloknya harga tandan buah segar (TBS), sehingga semakin memperburuk kondisi pekebun. Foto ilustrasi dibuat menggunakan Chat GPT. 

Ringkasan Berita:
  • Harga pupuk yang digunakan pekebun sawit di Aceh Tamiang terus naik, dengan pupuk NPK mencapai Rp800 ribu per zak dan urea Rp550 ribu per zak, jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya.
  • Kenaikan harga pupuk terjadi di tengah anjloknya harga TBS sawit dari sekitar Rp3.300 menjadi Rp2.120 per kilogram, sehingga pendapatan petani menurun drastis.
  • Pekebun berharap pemerintah melakukan intervensi untuk menstabilkan harga pupuk dan TBS. 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang

SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG – Harga pupuk NPK dan urea yang biasa digunakan pekebun kelapa sawit merangkak naik.

Kenaikan harga ini terjadi di tengah anjloknya harga tandan buah segar (TBS), sehingga semakin memperburuk kondisi pekebun.

El Mahdi, pekebun di Tenggulun, Aceh Tamiang menyampaikan kenaikan harga pupuk terjadi secara bertahap sejak pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).

Pupuk NPK saat ini berkisar Rp800 ribu per zak, sedangkan urea menjadi Rp550 ribu per zak.

“Kalau sebelumnya masih dapat Rp700 ribu untuk NPK, kalau urea masih bisa Rp400 ribu," kata El Mahdi, Senin (1/6/2026).

Diakuinya kenaikan harga ini sangat memberatkan karena bersamaan dengan anjloknya harga TBS.

Baca juga: Harga Sawit di Aceh Tamiang Terjun Bebas, Turun Rp1.000 Lebih Per Kg, Petani Merana

Sebagai gambaran, pemilik kebun seluas 2 hektare, saat ini hanya bisa mendapatkan hasil Rp2,5 juta per bulan.

“Waktu harga masih normal, setidaknya uang Rp4 juta di tangan. Sudah cukup untuk bekal makan sebulan di kampung,” ungkapnya.

Kebijakan harga baru ini sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat Aceh Tamiang yang selama ini bergantung dari perkebunan kelapa sawit.

Terlebih sebagian besar warga belum memiliki sumber penghasilan yang normal akibat banjir bandang.

“Harapan kami ada kebijakan yang bisa membuat harga normal lagi, Aceh Tamiang sedang berusaha bangkit dari bencana banjir, pemerintah harus bisa memberi intervensi,” harapnya.

Bukan hanya harga pupuk, pekebun juga berharap ada solusi terhadap perubahan harga TBS yang sebelumnya Rp3.300 per kilogram kini merosot tajam menjadi hanya Rp2.120 per kilogram di tingkat petani.

Baca juga: Kerap Melintasi Medan Ekstrem, Pekerja Kebun Sawit Dibekali Edukasi Berkendara Aman

Penurunan lebih dari Rp1.000 per kilogram itu memicu keresahan di kalangan petani sawit.

Bagi sebagian besar masyarakat pedesaan di Aceh Tamiang yang menggantungkan hidup dari hasil kebun, anjloknya harga dinilai langsung menghantam pendapatan rumah tangga. (*) 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved