Rabu, 3 Juni 2026

Berita Banda Aceh

PT Pema Terus Berbenah, Menata Fondasi Menuju BUMD Masa Depan Aceh

“Transformasi ini tidak bisa instan. Namun, kami percaya bahwa dengan tata kelola yang baik, disiplin, dan pengembangan usaha yang terukur, PT Pema...

Tayang:
Penulis: Jamaluddin | Editor: Nurul Hayati
Serambinews.com/HO/DOK PT PEMA
DIRUT PT PEMA - Direktur Utama (Dirut) PT Pembangunan Aceh (Perseroda), Mawardi Nur. 

Namun, bagi dunia usaha, tata kelola adalah fondasi.

Tanpa itu, perusahaan mudah goyah ketika menghadapi tekanan bisnis maupun sorotan publik.

Baca juga: PT PEMA Perluas Bisnis melalui Investasi Jaringan Telekomunikasi

Ibarat rumah besar, sehebat apa pun bangunannya, ia tetap membutuhkan pondasi yang kokoh agar tidak runtuh diterpa waktu.

Keseriusan tersebut mulai terlihat dalam sejumlah keputusan penting.

Salah satunya ketika PT Pema memenangkan perkara kopi melawan PT Jingki Roda Gayo (JRG) melalui Putusan Pengadilan Negeri (PN) Banda Aceh Nomor 9/Pdt.G/2025/PN Bna.

Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya perkara hukum biasa.

Namun bagi perusahaan daerah, kemenangan tersebut menjadi sinyal bahwa aset dan kepentingan daerah mulai dijaga dengan lebih serius.

Di balik perkara itu, ada pesan yang lebih besar yakni perusahaan milik daerah tidak boleh lagi dipandang lemah dalam menjaga haknya sendiri.

Ada tanggung jawab yang harus dipertahankan, sebab di dalam setiap aset daerah, ada harapan masyarakat yang ikut dititipkan.

Di sektor energi, pembenahan juga mulai menunjukkan hasil.

Melalui PT Pema Global Energy (PGE), PT Pema yang kini dinakhodai oleh Mawardi Nur berhasil meningkatkan harga jual gas dari 6,20 dolar AS per MMBTU menjadi 6,75 dolar AS per MMBTU.

Peningkatan ini lahir dari proses negosiasi panjang dan koordinasi intensif bersama Kementerian ESDM.

Langkah tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan tidak selalu harus ditempuh lewat ekspansi besar, tapi juga melalui strategi negosiasi dan optimalisasi kontrak yang tepat.

Dampaknya tidak hanya memperkuat posisi bisnis perusahaan, tapi juga membuka peluang peningkatan kontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD).

Dalam situasi ekonomi yang penuh tantangan, capaian seperti ini menjadi angin segar sekaligus jawaban bahwa kritik publik perlahan mulai direspons melalui kerja nyata.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved