Berita Banda Aceh
PT Pema Terus Berbenah, Menata Fondasi Menuju BUMD Masa Depan Aceh
“Transformasi ini tidak bisa instan. Namun, kami percaya bahwa dengan tata kelola yang baik, disiplin, dan pengembangan usaha yang terukur, PT Pema...
Penulis: Jamaluddin | Editor: Nurul Hayati
Ringkasan Berita:
- PT Pema berhasil melakukan ekspor kopi perdana ke Amerika Serikat.
- Meningkatkan harga jual gas dari 6,20 dolar AS per MMBTU menjadi 6,75 dolar AS per MMBTU.
- PT Pema juga mendapat kepercayaan untuk pengembangan investasi sektor telekomunikasi sepanjang 400 kilometer.
- Perusahaan ini juga akan meresmikan pengembangan fasilitas cold storage dan membangun rice milling unit (RMU).
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Jamaluddin I Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Di tengah riuhnya tuntutan publik terhadap kinerja badan usaha milik daerah, PT Pembangunan Aceh (Perseroda) atau PT Pema memilih jalan yang tidak selalu terlihat gemerlap.
Jalan dimaksud adalah membenahi diri dari dalam.
Tahun 2025 lalu menjadi fase penting bagi perusahaan daerah ini, bukan karena ekspansi besar-besaran atau gebrakan sensasional, melainkan karena upaya sunyi membangun fondasi.
Di banyak tempat, perubahan besar sering dimulai dari pekerjaan yang tidak terlihat.
Dari ruang-ruang rapat yang panjang, evaluasi yang melelahkan, hingga keputusan-keputusan kecil yang jarang masuk pemberitaan.
Tak ada tepuk tangan, tidak ada pula sorotan berlebihan.
Namun, justru dari ruang-ruang sunyi seperti itulah masa depan sebuah perusahaan sering ditentukan.
Itulah yang kini sedang dijalankan oleh PT Pema.
Perusahaan ini tampak mulai menyadari bahwa tantangan utama BUMD bukan sekadar mencari keuntungan, tapi membangun kepercayaan.
Sebab, kepercayaan publik tidak lahir dari slogan, melainkan dari konsistensi.
Karena itu, pembenahan good corporate governance (GCG) menjadi salah satu fokus utama.
Struktur organisasi diperkuat, SOP diperjelas, pengawasan internal dibenahi, serta sistem pelaporan mulai diarahkan lebih transparan dan terukur.
Langkah itu mungkin terdengar administratif.
Namun, bagi dunia usaha, tata kelola adalah fondasi.
Tanpa itu, perusahaan mudah goyah ketika menghadapi tekanan bisnis maupun sorotan publik.
Baca juga: PT PEMA Perluas Bisnis melalui Investasi Jaringan Telekomunikasi
Ibarat rumah besar, sehebat apa pun bangunannya, ia tetap membutuhkan pondasi yang kokoh agar tidak runtuh diterpa waktu.
Keseriusan tersebut mulai terlihat dalam sejumlah keputusan penting.
Salah satunya ketika PT Pema memenangkan perkara kopi melawan PT Jingki Roda Gayo (JRG) melalui Putusan Pengadilan Negeri (PN) Banda Aceh Nomor 9/Pdt.G/2025/PN Bna.
Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya perkara hukum biasa.
Namun bagi perusahaan daerah, kemenangan tersebut menjadi sinyal bahwa aset dan kepentingan daerah mulai dijaga dengan lebih serius.
Di balik perkara itu, ada pesan yang lebih besar yakni perusahaan milik daerah tidak boleh lagi dipandang lemah dalam menjaga haknya sendiri.
Ada tanggung jawab yang harus dipertahankan, sebab di dalam setiap aset daerah, ada harapan masyarakat yang ikut dititipkan.
Di sektor energi, pembenahan juga mulai menunjukkan hasil.
Melalui PT Pema Global Energy (PGE), PT Pema yang kini dinakhodai oleh Mawardi Nur berhasil meningkatkan harga jual gas dari 6,20 dolar AS per MMBTU menjadi 6,75 dolar AS per MMBTU.
Peningkatan ini lahir dari proses negosiasi panjang dan koordinasi intensif bersama Kementerian ESDM.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan tidak selalu harus ditempuh lewat ekspansi besar, tapi juga melalui strategi negosiasi dan optimalisasi kontrak yang tepat.
Dampaknya tidak hanya memperkuat posisi bisnis perusahaan, tapi juga membuka peluang peningkatan kontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD).
Dalam situasi ekonomi yang penuh tantangan, capaian seperti ini menjadi angin segar sekaligus jawaban bahwa kritik publik perlahan mulai direspons melalui kerja nyata.
Hal serupa terlihat pada pengelolaan komoditas sulfur.
Dengan pendekatan yang lebih adaptif terhadap pasar, PT Pema mampu meningkatkan nilai jual komoditas tersebut.
Perlahan, pola bisnis yang sebelumnya cenderung pasif mulai bergerak menjadi lebih dinamis dan responsif.
Ada upaya untuk tidak lagi sekadar bertahan, tapi mulai membaca arah perubahan.
Di balik semua itu, ada satu aspek yang jarang menarik perhatian publik namun sangat menentukan yaitu, disiplin keuangan.
Efisiensi anggaran, rasionalisasi biaya, hingga penguatan kontrol pengeluaran menjadi pekerjaan mendasar yang terus diperkuat.
Langkah-langkah ini memang tidak menghasilkan sorotan besar, tapi justru menjadi penopang utama keberlanjutan perusahaan.
Sebab, perusahaan yang sehat bukan hanya yang terlihat besar dari luar, tapi yang mampu menjaga ritme dari dalam.
Dan sering kali, pekerjaan paling berat adalah mengendalikan diri ketika ingin melangkah terlalu cepat.
Pada saat yang sama, PT Pema juga mulai menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman.
Dorongan digitalisasi dan peningkatan layanan menunjukkan upaya perusahaan untuk tidak hanya mengejar profit, tapi juga memperbaiki kualitas pelayanan sebagai entitas milik daerah.
Tantangannya tentu tidak ringan, sebab digitalisasi sering kali berhenti sebatas simbol tanpa benar-benar mengubah budaya kerja.
Namun, perubahan memang selalu membutuhkan proses.
Tidak semua hal bisa selesai dalam semalam.
Ada kebiasaan lama yang harus ditinggalkan, ada pola kerja baru yang harus dibangun, dan ada mentalitas yang perlahan perlu diubah.
Selain pembenahan tata kelola, PT Pema juga mulai menunjukkan langkah ekspansi yang lebih terukur.
Salah satu capaian pentingnya adalah keberhasilan melakukan ekspor kopi perdana ke Amerika Serikat (AS).
Langkah ini menjadi tonggak baru dalam upaya diversifikasi usaha perusahaan sekaligus membuka peluang pasar internasional bagi komoditas unggulan Aceh.
Tidak berhenti di sana, PT Pema juga mendapat kepercayaan untuk pengembangan investasi sektor telekomunikasi sepanjang 400 kilometer sebagai bagian dari strategi memperluas lini bisnis strategis di luar sektor energi.
Dalam waktu dekat, perusahaan ini juga akan meresmikan pengembangan fasilitas cold storage sebagai bagian dari upaya mendorong kemandirian sektor perikanan, serta pembangunan rice milling unit (RMU) guna memperkuat sektor pangan dan hilirisasi komoditas unggulan daerah.
Berbagai capaian tersebut merupakan hasil kerja keras seluruh jajaran PT Pema dalam menjalankan transformasi perusahaan.
Mengingat pada periode 2021 hingga 2024 pendapatan perusahaan masih sangat bergantung pada sektor PT PGE sebagai sumber pendapatan rutin.
Makanya, langkah diversifikasi usaha dan pengembangan sektor baru yang dilakukan PT Pema saat ini menjadi kemajuan signifikan yang patut diapresiasi.
Langkah tersebut menunjukkan adanya keberanian untuk membuka sumber pendapatan baru di luar sektor utama perusahaan.
Namun, ekspansi juga membutuhkan kehati-hatian.
Banyak BUMD terjebak pada ambisi memperluas usaha tanpa kesiapan kompetensi yang memadai.
Karena itu, bagi PT Pema, ukuran keberhasilan ke depan bukan terletak pada seberapa banyak lini bisnis yang dibuka, tapi seberapa kuat dan profesional setiap lini tersebut dikelola.
Pada akhirnya, perjalanan transformasi sebuah perusahaan daerah memang tidak bisa diukur dalam waktu singkat.
Perubahan budaya kerja, penguatan integritas, dan penataan sistem adalah proses panjang yang membutuhkan konsistensi serta keteladanan pimpinan.
Tahun 2025 mungkin belum menjadi tahun lompatan besar bagi PT Pema.
Namun setidaknya, perusahaan ini sedang mencoba bergerak dari pola lama BUMD yang administratif menuju entitas bisnis yang lebih profesional, adaptif, dan berorientasi pada keberlanjutan.
Publik tentu menunggu hasil akhirnya.
Sebab, ukuran keberhasilan sebuah BUMD bukan hanya pada laporan yang rapi atau strategi yang terdengar meyakinkan, tapi pada seberapa besar manfaat yang benar-benar kembali kepada masyarakat Aceh.
Dan mungkin, harapan itu memang sedang dibangun perlahan.
Tidak dengan kegaduhan, tapi melalui langkah-langkah kecil yang suatu hari nanti diharapkan mampu membawa dampak besar bagi daerah.
Direktur Utama (Dirut) PT Pema, Mawardi Nur, menegaskan bahwa seluruh proses pembenahan yang dilakukan perusahaan merupakan bagian dari upaya membangun fondasi BUMD yang lebih sehat dan profesional.
“Transformasi ini tidak bisa instan. Namun, kami percaya bahwa dengan tata kelola yang baik, disiplin, dan pengembangan usaha yang terukur, PT Pema dapat tumbuh menjadi perusahaan daerah yang memberi manfaat nyata bagi Aceh,” ujar Mawardi Nur dalam bincang-bincang dengan Serambinews.com, pada Minggu (31/5/2026) pagi. (*)
Direksi dan Komisaris PT PEMA
PT PEMA
BUMDes
Badan Usaha Milik Desa (BUMDes)
Serambinews.com
Serambinews
Banda Aceh
| Sekda Aceh Tegaskan Pancasila Jadi Jangkar Moral Bangsa di Tengah Tantangan Global |
|
|---|
| PKS Banda Aceh Sembelih 8 Ekor Hewan Kurban, Wujudkan Kepedulian dan Semangat Berbagi |
|
|---|
| Integrasikan AI dan Nilai-Nilai Islam, Dua Mahasiswa USK Harumkan Nama Aceh di Ajang Nasional |
|
|---|
| Idul Adha di Rutan Banda Aceh, Warga Binaan dan Petugas Nikmati Kuah Beulangong Bersama |
|
|---|
| Mahad Daarut Tahfizh Al-Ikhlas Wisuda Syahadah 30 Juz, Cetak Generasi Qurani |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Direktur-Utama-Dirut-PT-Pembangunan-Aceh-Perseroda-Mawardi-Nur.jpg)