Jumat, 5 Juni 2026

Harga Emas di Aceh

Harga Emas di Langsa Stabil di Awal Juni 2026, Begini Pasarannya Per 4 Juni

Emas perhiasan kadar 99,5 persen tetap di Rp8.450.000 per mayam, kadar 97 persen Rp8.200.000 per mayam dan kadar 70 persen Rp2.300.000 per gram.

Tayang:
Penulis: Zubir | Editor: Saifullah
Chat GPT
HARGA EMAS STABIL - Harga emas di Kota Pangsa masih stabil pada awal bulan Juni 2026. Foto ilustrasi dibuat menggunakan Chat GPT. 

Ringkasan Berita:
  • Harga emas di Kota Langsa awal Juni 2026 tercatat stabil tanpa perubahan signifikan.
  • Emas perhiasan kadar 99,5 persen tetap di Rp8.450.000 per mayam, kadar 97 persen Rp8.200.000 per mayam, dan kadar 70 persen Rp2.300.000 per gram.
  • Stabilitas ini menunjukkan emas masih menjadi pilihan utama masyarakat sebagai investasi dan perhiasan, sekaligus menyimpan sejarah panjang asal-usulnya dari proses geologi hingga bernilai budaya.

 

Emas perhiasan kadar 99,5 persen tetap di Rp8.450.000 per mayam, kadar 97 persen Rp8.200.000 per mayam, dan kadar 70 persen Rp2.300.000 per gram.

SERAMBINEWS.COM, LANGSA - Pasaran emas di Kota Langsa hingga awal Juni 2026, masih menunjukkan kestabilan harga.

Menurut pengelola Toko Emas Berkat Jasa Sejahtera, Fahrurrazi, harga emas perhiasan belum mengalami pergerakan berarti.

Emas perhiasan kadar 99,5 persen, tetap berada di kisaran angka Rp8.450.000 per mayam, belum termasuk ongkos Rp50 ribu.

Sementara itu, emas kadar 97 persen, juga bertahan di Rp8.200.000 per mayam, dan emas kadar 70 persen, masih berada di Rp2.300.000 per gram.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meski pasar global sering berfluktuasi, harga emas di tingkat lokal relatif kokoh.

Baca juga: UPDATE Harga Emas Per Mayam di Aceh 4 Juni 2026: Banda Aceh Naik Rp90 Ribu, Lhokseumawe Ikut Bangkit

Asal Usul Emas

Namun, di balik angka-angka tersebut, emas memiliki asal-usul panjang yang menarik. 

Emas terbentuk dari proses geologi yang berlangsung jutaan tahun di dalam kerak bumi.

Unsur emas biasanya ditemukan dalam bentuk bijih di batuan, sungai, atau endapan aluvial.

Proses alami seperti erosi dan aktivitas vulkanik membawa emas ke permukaan, sehingga dapat ditambang oleh manusia.

Sejak zaman kuno, emas telah menjadi simbol kekayaan dan kekuasaan, digunakan sebagai alat tukar, perhiasan, hingga cadangan devisa negara.

Di Aceh sendiri, emas memiliki sejarah panjang. 

Beberapa daerah dikenal sebagai penghasil emas tradisional, di mana masyarakat menambang secara manual menggunakan teknik sederhana.

Dari hasil tambang tersebut, emas kemudian diolah menjadi perhiasan dengan kadar berbeda sesuai kebutuhan pasar.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved