Jumat, 5 Juni 2026

Berita Aceh Timur

9 Warga Julok Terserang DBD, Mayoritas Santri yang Baru Pulang Kampung

Kasus DBD di desa tersebut mulai terdeteksi sejak Selasa, 26 Mei 2026, tepat pada momentum Meugang  tradisi memasak dan makan daging bersama

Tayang:
Penulis: Maulidi Alfata | Editor: Amirullah
Serambinews.com/Maulidi Alfata
Tiga warga Julok yang masih dirawat di RSUD Zubir Mahmud, akibat serangan DBD pada hari Meugang Idul Adha 1447 Hijriah, camat Julok mengunjunginya pada Jumat (5/6/2026). 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Maulidi Alfata | Aceh Timur

SERAMBINEWS.COM, IDI - Sembilan warga Julok harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Zubir Mahmud, setelah terjangkit Demam Berdarah Dengue (DBD).

Kasus DBD di desa tersebut mulai terdeteksi sejak Selasa, 26 Mei 2026, tepat pada momentum Meugang  tradisi memasak dan makan daging bersama yang lazim dilakukan masyarakat Aceh menjelang hari raya.

Hingga Kamis, 4 Juni 2026, tiga pasien masih menjalani perawatan intensif di RSUD Zubir Mahmud, sementara enam lainnya telah diizinkan pulih di rumah masing-masing.

Di antara sembilan pasien tersebut, satu orang adalah perempuan berinisial DY, berusia 34 tahun. Delapan pasien lainnya adalah anak-anak di bawah umur dengan rentang usia 13 hingga 16 tahun mayoritas merupakan santri yang baru pulang kampung menjelang lebaran.

Camat Julok, Muhammad Ishak, S.Pd.I., yang akrab disapa Cek Mad atau Teungku Muhammad, menyempatkan diri menjenguk warganya langsung di RSUD Zubir Mahmud di sela kesibukannya.

Ia pun menelusuri kronologi kejadian untuk memastikan titik awal penularan  terlebih karena desa tersebut baru saja menjalani fogging pencegahan DBD sebelum kasus ini muncul.

"Mayoritas warga yang terjangkit DBD ini anak pesantren yang pulang kampung menjelang lebaran. Saya perlu memastikan kronologisnya untuk upaya pencegahan lanjutan di dalam desa," terangnya.

Baca juga: Puluhan Anak Jalani Operasi Bibir Sumbing di RSUD Sigli, Ditangani 3 Dokter Spesialis Bedah

Upaya pencegahan sejatinya telah lebih dulu dijalankan. Pada Senin, 1 Juni 2026, petugas melakukan fogging di kawasan desa.

Keesokan harinya, Selasa 2 Juni 2026, dilanjutkan dengan sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada warga. Namun, rentetan upaya itu belum cukup membendung penularan.

Cek Mad menegaskan bahwa kondisi ini harus menjadi titik balik untuk memperkuat pencegahan jangka panjang, bukan sekadar respons sesaat.

"Sebelumnya kita sudah lakukan fogging untuk pencegahan. Dengan adanya warga yang terkena DBD seperti ini, maka upaya pencegahan jangka panjang perlu kita lakukan lebih intens. Jagalah kebersihan lingkungan, kebersihan dalam rumah, hingga kamar mandi. Kebersihan harus lebih terpelihara lagi, untuk anak-anak kita," tegasnya.

Camat Julok juga menyampaikan apresiasi atas respons cepat Bupati Aceh Timur yang langsung memerintahkan Dinas Kesehatan setempat untuk menangani wabah ini secara serius. Langkah itu diharapkan dapat memutus rantai penularan sebelum DBD meluas ke desa-desa tetangga.

"Sebagai perpanjangan tangan Bapak Bupati, maka tentu kami mengajak kita semua untuk membiasakan hidup sehat, sehingga berbagai penyakit dapat kita hindari," pungkasnya

Warga diimbau untuk tidak mengabaikan kebersihan lingkungan, secara rutin menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, dan mengubur barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti penyebab utama demam berdarah.

Baca juga: BBPOM Bina Pedagang Jamu Gerobak, Temukan Produk tanpa Izin Edar

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved