Kamis, 4 Juni 2026

Berita Aceh Timur

Bahan Baku Meroket, Pengusaha Warkop di Aceh Timur Terhimpit

"Kalau dulu harga kopi robusta dan arabika masih bisa kami dapatkan dengan harga segitu, sekarang sudah tidak lagi," ujar Ikbal.

Tayang:
Penulis: Maulidi Alfata | Editor: Faisal Zamzami
SERAMBINEWS.COM/ MAULIDI ALFATA
OWNER WARKOP - Ikbal Farabi, Owner Warung Kopi Cotta Kupi Idi Rayeuk, saat diwawancarai Serambi terkait bahan baku, pada Kamis (4/6/2026). 

 

Ringkasan Berita:
  • Kenaikan harga sejumlah bahan baku utama dalam beberapa bulan terakhir mulai menekan para pelaku usaha warung kopi di Kabupaten Aceh Timur.
  • Harga biji kopi, susu, gula, hingga kemasan plastik terus merangkak naik, sementara para pengusaha belum berani menyesuaikan harga jual minuman kepada pelanggan.
  • Pemilik Cotta Kupi di Idi Rayeuk, Ikbal Farabi, mengungkapkan bahwa kenaikan harga bahan baku terasa sangat signifikan, terutama pada dua jenis kopi yang menjadi andalan racikan di Aceh Timur.

 


Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Maulidi Alfata | Aceh Timur

SERAMBINEWS.COM, IDI – Kenaikan harga sejumlah bahan baku utama dalam beberapa bulan terakhir mulai menekan para pelaku usaha warung kopi (warkop) di Kabupaten Aceh Timur.

Harga biji kopi, susu, gula, hingga kemasan plastik terus merangkak naik, sementara para pengusaha belum berani menyesuaikan harga jual minuman kepada pelanggan.

Pemilik Cotta Kupi di Idi Rayeuk, Ikbal Farabi, mengungkapkan bahwa kenaikan harga bahan baku terasa sangat signifikan, terutama pada dua jenis kopi yang menjadi andalan racikan di Aceh Timur.

Menurutnya, harga kopi robusta bubuk yang sebelumnya Rp115.000 per kilogram kini naik menjadi Rp125.000 hingga Rp135.000 per kilogram. Sementara itu, harga kopi arabika mengalami kenaikan lebih tajam, dari Rp185.000 menjadi Rp230.000 per kilogram atau meningkat sekitar 24 persen.

"Kalau dulu harga kopi robusta dan arabika masih bisa kami dapatkan dengan harga segitu, sekarang sudah tidak lagi," ujar Ikbal.

Tekanan biaya tidak hanya terjadi pada kopi. Ikbal juga mengeluhkan kelangkaan susu di pasaran yang turut mendorong kenaikan harga. Susu yang sebelumnya dibeli seharga Rp580.000 per dus kini naik menjadi Rp680.000 per dus, atau bertambah Rp100.000.

Menurut Ikbal, kelangkaan susu tersebut diduga dipengaruhi tingginya permintaan untuk kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang berjalan.

"Memang hukum ekonomi akan bermain ketika permintaan meningkat sementara pasokan bermasalah. Namun, seharusnya ketika harga naik, barang juga tersedia sehingga kami tetap bisa mendapatkannya," katanya.

Baca juga: Pengusaha Warkop di Aceh Diminta Daftar Nobar Piala Dunia 2026

Di tengah meningkatnya biaya produksi, Ikbal mengaku masih menahan diri untuk tidak menaikkan harga jual minuman di warungnya. Ia memilih mengamati perkembangan harga bahan baku sambil menghitung ulang Harga Pokok Penjualan (HPP) sebagai langkah antisipasi.

Dalam komunitas pengusaha warkop setempat, pembahasan mengenai penyesuaian harga jual disebut sudah menjadi topik yang sering dibicarakan. Bahkan, sejumlah warung kopi lainnya telah lebih dahulu menaikkan harga.

"Saat ini saya belum menaikkan harga kopi. Namun, beberapa warkop lain sudah mulai melakukannya dan di grup komunitas juga sudah banyak dibahas. Saya masih menunggu perkembangan. Jika tidak ada penyesuaian harga bahan pokok, terpaksa harga jual juga harus dinaikkan," tutur Ikbal.

Ia menegaskan, keputusan menahan kenaikan harga saat ini dilakukan untuk menjaga kepercayaan pelanggan yang selama ini setia.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved