Berita Banda Aceh
Jangan Terjebak Debat Offshore-Onshore, Aceh Harus Perjuangkan Hilirisasi Gas Andaman
Yang lebih penting adalah bagaimana Aceh memperoleh nilai tambah terbesar dari proyek Gas Andaman,” kata Humam
Penulis: Indra Wijaya | Editor: Nur Nihayati
Yang lebih penting adalah bagaimana Aceh memperoleh nilai tambah terbesar dari proyek Gas Andaman,” kata Humam
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Indra Wijaya | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Polemik mengenai lokasi fasilitas pengolahan Gas Andaman dinilai tidak boleh mengaburkan agenda yang lebih besar, yakni bagaimana Aceh memperoleh manfaat ekonomi maksimal dari penemuan cadangan gas terbesar di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir.
Sosiolog sekaligus Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK), Prof Humam Hamid, mengatakan perdebatan apakah fasilitas pengolahan gas dibangun di laut (offshore/floating) atau di darat (onshore) seharusnya ditempatkan dalam konteks yang lebih strategis.
“Jangan sampai perhatian publik tersita pada perdebatan lokasi fasilitas pengolahan.
Yang lebih penting adalah bagaimana Aceh memperoleh nilai tambah terbesar dari proyek Gas Andaman,” kata Humam kepada Serambinews.com, Sabtu (6/5/2026).
Baca juga: Polemik Gas Blok Andaman, ForBINA Dorong Skema Win-Win Solution antara Pemerintah Aceh dan Mubadala
Menurutnya, bagi investor, termasuk Mubadala Energy sebagai operator utama proyek tersebut, pertimbangan mengenai lokasi fasilitas pengolahan sangat dipengaruhi aspek teknis dan bisnis, seperti efisiensi investasi, keekonomian proyek, keselamatan operasi, serta manajemen risiko.
Karena itu, kata Humam, yang perlu diperjuangkan Pemerintah Aceh bukan semata-mata lokasi pengolahan awal gas, melainkan memastikan sebagian gas Andaman dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembangunan industri hilir di Aceh.
“Pertanyaan strategisnya bukan di mana gas pertama kali diproses, tetapi apakah gas itu bisa menjadi fondasi pembangunan industri pupuk, amonia, metanol, dan petrokimia di Aceh,” ujarnya.
Humam mengingatkan, apabila gas Andaman hanya diekspor atau dialirkan ke luar daerah tanpa hilirisasi, Aceh berpotensi mengulangi pengalaman masa lalu sebagai daerah penghasil sumber daya alam tanpa menjadi pusat pertumbuhan industri.
“Nilai tambah terbesar, lapangan kerja terbesar, dan investasi manufaktur terbesar justru akan berkembang di tempat lain.
Aceh hanya menerima sebagian manfaat fiskal, sementara aktivitas ekonomi utama berlangsung di luar daerah,” katanya.
Menurut Humam, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun di Lhokseumawe memiliki modal yang sangat kuat untuk dikembangkan sebagai pusat industri berbasis gas.
Kawasan itu telah memiliki pelabuhan laut dalam, infrastruktur energi, kawasan industri, serta pengalaman panjang dalam pengelolaan industri gas.
Selain itu, posisi geografis Aceh dinilai sangat strategis karena berada di pintu masuk Selat Malaka dan dekat dengan pasar besar di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Prof Ahmad Humam Hamid
Prof Humam Hamid
Gas Andaman
Pengolahan Gas Andaman
Debat Offshore-Onshore
Serambi Indonesia
Mualem
| Polemik Gas Blok Andaman, ForBINA Dorong Skema Win-Win Solution antara Pemerintah Aceh dan Mubadala |
|
|---|
| Aceh Besar Masuk Jajaran Daerah Terpanas Nasional, Suhu Tembus 34,5 Derajat Celsius |
|
|---|
| Siswa TK Medina Gaungkan Hafalan Al-Quran di Masjid Baitul Musyahada |
|
|---|
| Jawara Teknisi dan Service Advisor Aceh Menuju Pentas Nasional |
|
|---|
| Satpol PP-WH Banda Aceh Tahan Tersangka Kasus Khalwat dan Batalkan Penangguhan, Ini Pejelasan Kasat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Humam-Hamid-20260411.jpg)