Opini
Langkah Cerdas Pemkab Aceh Selatan Penguatan SDM Berkelanjutan
Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan menyadari hal ini. Mereka mengambil langkah cerdas. Mereka fokus pada penguatan SDM secara berkelanjutan.
Oleh: Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si., osn Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK serta Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh
TIGA sektor unggulan menopang perekonomian Aceh Selatan. Pertanian pala, perikanan laut, dan pariwisata alam menyimpan potensi luar biasa. Namun potensi alam tidak akan berarti tanpa sumber daya manusia yang kompeten.
Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan menyadari hal ini. Mereka mengambil langkah cerdas. Mereka fokus pada penguatan SDM secara berkelanjutan.
Apa yang membuat langkah ini cerdas? Bukan sekadar karena mereka menggelar pelatihan. Banyak daerah juga menggelar pelatihan. Yang membedakan adalah pendekatan sistemik yang dibangun. Pemda Aceh Selatan tidak bekerja sendiri.
Mereka membangun sinergi dengan perguruan tinggi. Mereka melibatkan masyarakat sebagai subjek utama. Mereka merancang program berdasarkan data, bukan asumsi.
Membaca Data dengan Seksama
Langkah cerdas pertama adalah membaca data dengan seksama. Badan Pusat Statistik mencatat rata rata lama sekolah warga Aceh Selatan mencapai 9,25 tahun pada 2025. Angka ini berarti rata rata warga hanya tamat SMP atau kelas 1 SMA.
Ini tidak cukup untuk mengelola industri modern. Industri pengolahan pala membutuhkan keterampilan teknis. Industri perikanan membutuhkan manajemen rantai pasok. Industri pariwisata membutuhkan standar pelayanan internasional.
Pemda tidak menutup mata dari fakta ini. Mereka juga membaca data ekonomi. Realisasi belanja modal APBK Aceh Selatan masih rendah, hanya 12 persen hingga Oktober 2025. Artinya ruang fiskal terbatas. Tidak mungkin mengandalkan anggaran daerah saja untuk membiayai seluruh program peningkatan SDM.
Dari dua fakta ini, Pemda menarik kesimpulan logis. Mereka perlu mitra. Mereka perlu strategi yang tidak mahal namun berdampak besar. Mereka memilih perguruan tinggi sebagai mitra utama.
Membangun Sinergi dengan Universitas Syiah Kuala
Langkah cerdas kedua adalah membangun sinergi terstruktur dengan Universitas Syiah Kuala. Kedua pihak menandatangani nota kesepahaman pada Desember 2024. Isinya sederhana namun strategis. USK membantu peningkatan mutu SDM. Pemda menyediakan akses lapangan dan data. USK mengirim dosen dan mahasiswa untuk pengabdian. Pemda memfasilitasi riset dan magang.
Kerja sama ini tidak berhenti di atas kertas. Program magister ilmu ekonomi USK membuka kelas khusus untuk Aparatur Sipil Negara Aceh Selatan. Para birokrat belajar analisis ekonomi, perencanaan pembangunan, dan evaluasi kebijakan. Mereka tidak hanya mendapat gelar. Mereka mendapat alat analisis untuk bekerja lebih baik.
Hasilnya mulai terlihat. Pejabat yang lulus dari program ini mampu menyusun perencanaan berbasis bukti. Mereka tidak lagi mengandalkan intuisi semata. Mereka menggunakan data BPS, menghitung multiplier effect, dan merancang intervensi yang tepat sasaran. Ini perubahan fundamental dalam birokrasi.
Pelatihan yang Tepat Sasaran
Langkah cerdas ketiga adalah merancang pelatihan berdasarkan kebutuhan riil. Pemda tidak mengundang trainer dari luar yang tidak paham konteks lokal. Mereka menggandeng dosen USK yang sudah melakukan riset di Aceh Selatan. Para dosen ini tahu persis masalah di lapangan.
Di sektor pala, misalnya. Petani hanya memanfaatkan biji, fuli, dan minyak pala. Daging pala yang melimpah terbuang menjadi limbah. Dosen USK bersama Dinas Pertanian merancang pelatihan pengolahan daging pala menjadi dodol dan produk makanan lain.
Hasilnya, limbah berkurang, pendapatan petani bertambah. Satu ekor ayam potong berharga sekitar Rp35.000, sedangkan satu kilogram dodol pala bisa dijual Rp80.000 hingga Rp100.000. Angka ini menunjukkan nilai tambah yang signifikan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/apridarrr.jpg)