Banda Aceh

Mahasiswa USK Buat Inovasi Deteksi Penyakit Paru Diberi Nama SUNSTONE, Ini Kegunaannya

Dikatakan, perangkat ini menggunakan sensor gas untuk menangkap data pernapasan secara real-time, lalu menganalisisnya...

Penulis: Sara Masroni | Editor: Eddy Fitriadi
FOR SERAMBINEWS.COM
SUNSTONE - Para mahasiswa USK saat memegang inovasi alat deteksi Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), SUNSTONE ciptaan mereka di halaman Kantor Pusat Administrasi, kampus setempat, Senin (1/9/2025). 

Laporan Sara Masroni | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) dari dua fakultas berbeda berhasil membuat inovasi alat deteksi Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), SUNSTONE

Mereka berasal dari Fakultas Teknik Komputer diketuai Nur Hidayah Naimah Harahap, Muhammad Ilham, Muhammad Suhaili dan Fakultas kedokteran Dzakiroh Mufidah Hasibuan dan Farah Narizki serta dibimbing oleh Dr dr Budi Yanti SpP(K).

Ketua Tim, Nur Hidayah Naimah Harahap menjelaskan, data WHO (2021) menyebutkan PPOK menyebabkan 3,5 juta kematian, sehingga menjadikan penyakit ini termasuk urutan keempat penyebab kematian tertinggi di dunia.

“Kami berinisiatif menciptakan alat deteksi dini berbasis Internet of Things (IoT) dan Matching Learning (ML) melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC). Perangkat ini sangat bermanfaat bagi kesehatan masyarakat terutama kalangan perokok,” ujar Naimah dalam keterangannya, Senin (1/9/2025).

Dikatakan, perangkat ini menggunakan sensor gas untuk menangkap data pernapasan secara real-time, lalu menganalisisnya dengan machine learning untuk mengidentifikasi indikasi awal PPOK dan tingkat keparahan penyakitnya secara akurat serta dapat digunakan secara mandiri oleh masyarakat.

“Kami sepakat memberi nama SUNSTONE atau Screening Unit for Noninvasive Detection of COPD Using Exhaled VOCs and Internet of Things,” jelas Naimah.

Baca juga: Kisah Pemuda Lembah Seulawah, dari Ayam Guling Meraih Sarjana USK dan Sekolahkan Adik

SUNSTONE berbentuk detektor yang dapat menganalisis gas dari hembusan napas perokok menggunakan sensor gas Volatile Organic Compounds (VOCs) dan dapat melihat keseluruhan data melalui website. terintegrasi IoT untuk mendeteksi PPOK dengan akurat dan real time.

Pendeteksian VOCs dari napas dilakukan dengan meminta pasien berkumur menggunakan air putih, menarik napas dalam, lalu menghembuskannya ke dalam mouthpiece. Proses ini dilakukan beberapa kali untuk mendapatkan data yang bervariasi dan lebih akurat.

Selama prosedur berlangsung, pengawasan ketat diterapkan guna memastikan kenyamanan, keamanan, serta menjaga privasi pasien. Setelah pengambilan sampel selesai, setiap data yang terkumpul akan melalui tahap validasi untuk menilai kondisi kesehatan pasien terkait PPOK.

“Harapan kami, inovasi yang kami ciptakan dapat membantu tenaga kesehatan (Nakes) untuk meninjau data dan melakukan evaluasi terhadap hasil deteksi, serta mengurangi jumlah penderita PPOK dengan tingkat keparahan tinggi,” pungkasnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved