Kamis, 23 April 2026

Aceh Selatan

Maulid Nabi di Aceh: Tradisi, Cinta Rasul, dan Identitas Budaya yang Terjaga

Wakil Pimpinan MPU Aceh Selatan, Ustaz H. Riza Nazlianto, Lc., MA, mengatakan bahwa salah satu amalan utama dalam peringatan Maulid adalah salawat.

Penulis: Ilhami Syahputra | Editor: Eddy Fitriadi
Dok SERAMBINEWS.COM/HO
MPU - Wakil Pimpinan MPU Aceh Selatan, Ustaz H. Riza Nazlianto, Lc., MA. Maulid Nabi di Aceh: Tradisi, Cinta Rasul, dan Identitas Budaya yang Terjaga. 

Laporan Ilhami Syahputra | Aceh Selatan 

SERAMBINEWS.COM,TAPAKTUAN – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Aceh merupakan ekspresi kecintaan umat kepada Rasulullah. 

Tradisi ini dikemas dalam berbagai amalan yang dianjurkan Baginda, seperti salawat meudike, berbagi makanan, mendengar tausiah sirah nabawiyah, serta mempererat silaturahmi antar-gampong maupun antara pemerintah dengan masyarakat.

Setiap bulan Rabiul Awal, masyarakat Aceh tidak pernah melewatkan momentum Maulid begitu saja. 

Bahkan, peringatan ini dilaksanakan selama tiga bulan berturut-turut yang dikenal dengan sebutan Molod(Maulid) Tuha, Molod Tengoeh, dan Molod Akhe. 

Rangkaian prosesi ibadah di bulan Maulid berpadu dengan nilai dan budaya masyarakat Aceh yang senang berkumpul, berkanduri, serta berbagi kebahagiaan dengan sesama. Karena itu, Maulid Nabi telah menjadi tradisi turun-temurun yang terus diwariskan dengan istilah Kenduri Molod Nabi.

Wakil Pimpinan MPU Aceh Selatan, Ustaz H. Riza Nazlianto, Lc., MA, mengatakan bahwa salah satu amalan utama dalam peringatan Maulid adalah salawat. 

Menurutnya, lantunan salawat berjamaah dalam prosesi Molod dinilai mampu menumbuhkan kebersamaan dan menyatukan batin masyarakat untuk semakin mencintai Rasulullah SAW. 

“Selain bernilai pahala besar, salawat juga diyakini membawa keselamatan dan ketentraman hidup di dunia maupun akhirat. Karena itu, mari kita melantunkan salawat dengan khusyuk, bukan sekadar meninggikan suara atau lingiek dike yang berlebihan, agar makna batiniah dari salawat benar-benar dapat dirasakan,” ujarnya.

Lebih lanjut, jelasnya, peran ulama juga sangat besar dalam menjaga kesinambungan tradisi Maulid di Aceh. Setiap memasuki bulan Rabiul Awal, para pimpinan dayah selalu mengagendakan pelatihan Dikee Molod bagi para santri, yang kemudian digelar serentak di seluruh Aceh pada malam 12 Rabiul Awal, tepat di hari kelahiran Rasulullah SAW. 

Mayoritas perangkat gampong juga turut mendorong generasi muda untuk belajar dan mengikuti tradisi tersebut.

“Untuk itu, kami menghimbau generasi muda Aceh agar mempelajari, memahami, dan mempertahankan tradisi Maulid di tengah arus modernisasi. Ini bagian penting dalam menjaga identitas keislaman sekaligus adat budaya Aceh yang telah menyatu sejak lama, sebagaimana falsafah leluhur kita: ‘Hukom dengon adat lagee zat dengon sifeut,’” pungkas Ustaz Riza.(*)

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved