Kamis, 23 April 2026

Abdya

Jumlah Prevalensi Stunting Meningkat, Ini Upaya Dinkes Abdya 

“Penyebab terjadi stunting karena kurangnya gizi dalam waktu yang lama, infeksi berulang sehingga pertumbuhan terganggu...

Penulis: Masrian Mizani | Editor: Eddy Fitriadi
SERAMBINEWS.COM/HO
DINKES - Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh Barat Daya (Abdya) Adi Arulan Munda. 

Laporan Masrian Mizani I Aceh Barat Daya

SERAMBINEWS.COM, BLANGPIDIE - Jumlah prevalensi stunting di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mengalami meningkatkan pada tahun 2025.

Berdasarkan data EPPGDM (Aplikasi elektronik-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat) bulan Juli 2025, prevalensi stunting berada di angka 9,2 persen, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya 8,4 persen.

Plt Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Abdya, dr. Adi Arulan Munda, mengatakan stunting masih menjadi masalah serius yang perlu ditangani bersama.

“Penyebab terjadi stunting karena kurangnya gizi dalam waktu yang lama, infeksi berulang sehingga pertumbuhan terganggu, dan juga ada kaitannya dengan pengetahuan ibu hamil," kata Adi Arulan Munda, Rabu (3/9/2025).

Ia menjelaskan, mulai dari masa hamil hingga balita harus diperhatikan gizi dan asupan nutrisi.

Untuk menekan angka stunting, kata Adi, Dinkes menjalankan program prioritas secara berjenjang. Upaya ini mencakup pelacakan anak stunting, pemeriksaan dokter anak, serta edukasi langsung kepada masyarakat.

“Memang berjenjang, pelacakan anak stunting untuk selanjutnya ditangani oleh dokter anak. Edukasi kepada masyarakat juga terus kita lakukan,” ucap Adi.

Ia juga mengatakan bahwa penanganan stunting tidak hanya tugas Dinas Kesehatan, namun berbagai sektor harus ikut serta, mulai dari DPMP4, hingga pemerintahan gampong.

“Penanganannya bukan hanya di Dinas Kesehatan, tapi juga dinas yang lain. Semua harus terlibat sampai ke gampong,” ujarnya.

Dalam hal dukungan gizi, Adi, memastikan bantuan untuk ibu hamil dan balita sudah tepat sasaran. 

Salah satu bentuknya, sebut Adi, memberikan Oral Nutrition Supplement (ONS) berupa susu khusus berdasarkan resep dokter.

“Pemberian ONS untuk menurunkan stunting harus menggunakan susu resep dari dokter. Susu ini tidak diperjualbelikan, khusus untuk anak,” jelasnya.

Baca juga: Tolak PT Abdya Mineral Prima, Aliansi Masyarakat Kuala Batee Surati DPRK, Minta Lakukan RDP

Ia menambahkan, jika ada anak yang memerlukan perawatan intensif, pihak rumah sakit juga akan memfasilitasi. 

“Kalau memang perlu dirawat di rumah sakit juga difasilitasi,” terangnya.

Ia merincikan, dari 830 jumlah anak stunting yang diperoleh pihaknya, tersebar di 13 Puskesmas di sembilan kecamatan dalam wilayah Kabupaten Abdya.

Berdasarkan data yang diperoleh dari 13 Puskesmas yang ada di Abdya, kata Adi, terdapat 156 anak stunting di Puskesmas Manggeng, 45 di Puskesmas Lembah Sabil, 15 di Puskesmas Tangan-Tangan, dan 26 di Puskesmas Bineh Krueng.

Kemudian, sambungnya, 86 anak di Puskesmas Lhang, 23 di Puskesmas Blangpidie, 119 di Puskesmas Alue Sungai Pinang, 22 di Puskesmas Sangkalan, 13 di Puskesmas Kuala Batee, 126 di Puskesmas Alue Pisang, 73 di Puskesmas Babahrot, dan 41 di Puskesmas Ie Mirah. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved