Jumat, 8 Mei 2026

Info Subulussalam

Melihat Cagar Budaya Penyair Sufi di Kota Subulussalam

Suka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Makam Syekh Hamzah Fansuri di Kampong Oboh, Kecamatan Rundeng.

Tayang:
Penulis: Dede Rosadi | Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM/DEDE ROSADI
Makam Syekh Hamzah Fansuri: Makam Syekh Hamzah Fansuri di Kampong Oboh, Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam, Selasa (11/11/2025). 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Dede Rosadi I Subulussalam 

SERAMBINEWS.COM, SUBULUSSALAM - Hujan menemani laju kendaraan, di jalanan Kota Subulussalam, Selasa (11/11/2025) pagi. 

Kemudi mengarah ke Suka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Makam Syekh Hamzah Fansuri di Kampong Oboh, Kecamatan Rundeng. 

Dari pusat Kota Subulussalam, peristirahatan terakhir penyair sufi itu, sekitar 22 kilometer. Menggunakan kendaraan roda empat bisa ditempuh kira-kira 35 menit. 

Ketika sampai di komplek makam Syekh Hamzah Fansuri, sedang sepi pengunjung. Sehingga cukup leluasa untuk mengamati setiap detail banguna. 

Makam Syekh Hamzah Fansuri: Makam Syekh Hamzah Fansuri di Kampong Oboh, Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam, Selasa (11/11/2025).
Makam Syekh Hamzah Fansuri: Makam Syekh Hamzah Fansuri di Kampong Oboh, Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam, Selasa (11/11/2025). (SERAMBINEWS.COM/DEDE ROSADI)

Situs cagar budaya dan objek wisata religi tersebut telah difasilitasi aula, kamar mandi, tempat ibadah, dapur serta tempat istirahat peziarah di pinggir sungai. 

Fasilitas itu dapat digunakan oleh peziarah yang ingin menginap.

 "Paling ramai pengunjung saat bulan Sya'ban dan Syawal," kata Abdullah penjaga makam Syekh Hamzah Fansuri.  

Baca juga: Wali Kota Subulussalam M Rasyid Berikan Hadiah Tabungan Haji kepada Fathasururi Juara MTQ Aceh 2025

Abdullah sang penjaga makam Syekh Hamzah Fansuri, langsung menyambut  tamu yang datang. 

Usianya senja, namun Abdullah tetap energik. Pagi itu, ia baru saja membersihkan kompleks pemakaman. 

Salah satunya membersihkan prasasti berisi syair Perahu, yang terletak di sekitar bangunan yang di dalamnya terdapat kuburan Syekh Hamzah Fansuri dan keluarga.

Komplek makam ulama yang hidup antara abad 16 sampai 17 Masehi tersebut masih terawat dengan baik. 

Masuk banguna tempat Syekh Hamzah Fansuri dikuburkan, Abdullah segera membuka kain hijau penutup makam. 

Abdullah bersedia membacakan bait syair Perahu bertuliskan hurup arab yang tergantung di dinding ketika pengunjung memintanya.

Banyak karya-karya Syekh Hamzah Fansuri ditempat di dinding. Untuk syair Perahu, secara khusus ditulis dalam hurup latin di prasasti yang di letakan di luar banguna makam. 

Hal itu cukup memudahkan pengunjung yang ingin membacanya.

Baca juga: Syair-Syair Hamzah Fansuri Resmi Diakui UNESCO sebagai Memory of The World

"Syair Perahu yang di dinding hanya sebagian saja, lengkapnya ada di luar," kata Abdullah. 

Abdullah merupakan generasi kelima yang menjaga makam Syekh Hamzah Fansuri

Ia merelakan dirinya untuk merawat makam yang telah turun temurun dilakukan ayah dan kakek buyutnya. 

Dari pusat Kota Subulussalam makam Syekh Hamzah Fansuri, dapat ditempuh sekitar 35 menit menggunakan kendaraan. 

Sepanjang jalan terdapat penunjuk arah. Jika ragu warga yang ditanya akan menjelaskan secara detail lokasi makam Syekh Hamzah Fansuri.

Baca juga: Adnan Batam Klarifikasi Soal Peusijuek ‘Tongkat Pengobatan’ di Masjid Raya: Bukan Dipuja, Hanya Adat

Makam Syekh Hamzah Fansuri di Kampong Oboh, telah ditetapkan menjadi Suka Peninggalan Sejarah dan Purbakala. 

Makam itu juga telah menjadi lokasi wisata religi yang rutin didatangi peziarah lokal, Nusantara dan manca negara.

Penyair dan ahli tasawuf tersebut pada 2013 lalu mendapat anugerah Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.(*)

Baca juga: Syair Tauhid Hamzah Fansuri

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved