Sabtu, 2 Mei 2026

Berita Abdya

Listrik Padam, Warga Abdya Angkut Air Sungai untuk Keperluan di Rumah

Pemadaman listrik yang sudah berlangsung tiga hari ini sangat berefek bagi masyarakat Abdya khususnya, terutama bagi Ibu-ibu Rumah Tangga (IRT).

Tayang:
Penulis: Masrian Mizani | Editor: Mursal Ismail
Serambinews.com/Masrian Mizani
ANGKUT AIR SUNGAI - Seorang ibu rumah tangga sedang mengisi air ke galon di Sungai Krueng Beukah, Kecamatan Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Jumat (28/11/2025). 

Ringkasan Berita:
  1. Sembilan tower transmisi 150 kV PLN di Bireuen dan sekitarnya roboh, menyebabkan pemadaman listrik meluas di Aceh, termasuk di Abdya, dan sudah berlangsung tiga hari.
  2. Warga Abdya kesulitan air bersih, sehingga ibu-ibu terpaksa mengambil air dari Sungai Krueng Beukah untuk minum, wudhu, mencuci, dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
  3. Pemadaman listrik berdampak besar pada aktivitas harian, seperti memasak dan penyimpanan makanan. 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Masrian Mizani I Aceh Barat Daya 

SERAMBINEWS.COM, BLANGPIDIE - Banjir yang melanda sejumlah kabupaten/kota di Provinsi Aceh memicu kerusakan parah pada infrastruktur kelistrikan.

Setidaknya, ada sembilan tower transmisi 150 kV milik Perusahaan Listrik Negara (PLN) di daerah Bireuen dan sekitarnya roboh.

Kondisi ini menyebabkan listrik padam di Aceh, termasuk di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya).

Pemadaman listrik yang sudah berlangsung tiga hari ini sangat berefek bagi masyarakat Abdya khususnya, terutama bagi Ibu-ibu Rumah Tangga (IRT).

Samsiah, warga Blangpidie, kepada Serambinews.com, Jumat (28/11/2025) mengaku dirinya bersama ibu-ibu lainnya terpaksa menggunakan air Sungai Krueng Beukah (Krueng Susoh) untuk keperluan rumah tangga.

"Selama listrik padam, kami terpaksa mengangkut air dari Sungai Krueng Beukah untuk keperluan di rumah. Sebab, stok air di bak sudah habis," ucapnya.

Baca juga: Detik-detik Bupati Aceh Singkil Selamatkan Warga Terjebak Banjir di Pohon Sawit 

Ia menyebutkan, air sungai Krueng Beukah tersebut diangkut menggunakan galon untuk keperluan air minum, cuci piring dan bak kamar mandi.

"Kalau untuk cuci pakaian dan mandi, kami langsung ke sungai. Air yang kami angkut ini untuk keperluan wudhu, cuci piring, minum, dan keperluan di kamar mandi untuk persiapan di malam hari," ucapnya.

Untuk keperluan air minum, jelasnya, tidak langsung diambil dari air yang mengalir, tetapi dari lubang-lubang kecil yang mereka buat di sekitaran pantai sungai.

Selain terkendala ketersediaan air di rumah, kata Samsiah, pemadaman listrik ini juga berefek pada kegiatan memasak sehari-hari.

"Banyak mudharatnya dari efek listrik padam ini, belum lagi banyak bahan-bahan makanan yang busuk di kulkas," ujarnya.

Namun demikian, kata Samsiah, semua ini perlu disyukuri, sebab yang dirasakan oleh masyarakat Abdya tidak sebanding dengan kondisi yang dialami oleh masyarakat kabupaten/kota lainnya yang terkena musibah banjir.

Baca juga: Update Banjir Aceh di 17 Kabupaten/Kota, 239 Kecamatan Terdampak, Sebagian Besar Air Belum Surut

"Kami ikut bersedih atas musibah yang dialami oleh saudara-saudara kami yang terkena musibah banjir.

Kami mendoakan semoga Allah memberikan keselamatan untuk kita semua, dan musibah ini cepat berlalu," pungkasnya. (*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved