Amerika Vs Venezuela
10 Pemimpin Dunia yang Digulingkan Amerika Serikat Sepanjang Sejarah, dari Mossaddegh hingga Maduro
Berikut deretan pemimpin dunia yang digulingkan AS sepanjang sejarah, seperti dilansir Newsweek.
Ringkasan Berita:
- Amerika Serikat memiliki rekam jejak panjang dalam pergantian rezim dunia, baik lewat kudeta intelijen, tekanan politik, hingga invasi militer dengan dalih keamanan nasional dan demokrasi.
- Sejumlah pemimpin dunia pernah digulingkan dengan peran AS, mulai dari Iran, Guatemala, Irak, Vietnam Selatan, Libya, hingga Venezuela, terutama di wilayah kaya sumber daya strategis.
- Penangkapan Nicolás Maduro pada 2026 menegaskan pola lama kebijakan agresif AS, yang kerap memicu kontroversi global
SERAMBINEWS.COM – Sejarah politik global menunjukkan bahwa Amerika Serikat kerap terlibat dalam pergantian rezim di berbagai negara, baik secara langsung melalui intervensi militer maupun secara tidak langsung lewat operasi intelijen dan tekanan politik.
Keterlibatan tersebut umumnya dibenarkan dengan alasan keamanan nasional, penegakan demokrasi, serta stabilitas regional, meski kerap menuai kontroversi di tingkat internasional.
Kasus Venezuela, di mana Presiden Nicolás Maduro ditangkap pada Sabtu (3/1/2026), menambah daftar panjang negara yang pernah menjadi sasaran kebijakan luar negeri agresif Washington.
Sepanjang sejarah, Amerika Serikat tercatat berperan dalam kejatuhan sejumlah pemimpin dunia yang dinilai bertentangan atau mengancam kepentingan strategisnya, mulai dari kawasan Timur Tengah, Amerika Latin, hingga Asia.
Berikut deretan pemimpin dunia yang digulingkan AS sepanjang sejarah, seperti dilansir Newsweek.
Baca juga: BERITA POPULER - iPhone 15 Turun, Menkeu Soal Gaji ASN Naik di Januari 2026, Konflik AS vs Venezuela
1. Mohammad Mossaddegh — Iran (1953)
Pada 19 Agustus 1953, badan intelijen Amerika Serikat, CIA, bersama Inggris, mengatur kudeta untuk menggulingkan Perdana Menteri Iran Mohammad Mossadegh dari kekuasaan.
Kudeta tersebut bertujuan memperkuat kekuasaan Raja (Shah) Mohammad Reza Pahlavi.
AS dan Inggris melabeli Mossadegh sebagai seorang diktator, padahal ia dipilih secara demokratis oleh rakyat Iran.
Mossadegh baru saja menasionalisasi industri minyak yang sebelumnya dioperasikan oleh perusahaan-perusahaan Inggris.
Nasionalisasi industri minyak berarti pemerintah mengambil alih kepemilikan dan pengelolaan sektor minyak dari pihak swasta atau asing, lalu menjadikannya milik negara.
Kudeta tersebut, yang memulihkan pemerintahan otoriter Reza Pahlavi, secara luas dipandang sebagai upaya melindungi kepentingan industri minyak Inggris di kawasan tersebut.
2. Jacobo Arbenz — Guatemala (1954)
Pada Juni 1954, Presiden Guatemala yang terpilih secara demokratis, Jacobo Arbenz, digulingkan dalam operasi yang didukung CIA.
Arbenz disingkirkan karena kebijakan-kebijakannya yang condong ke kiri, yang memicu kekhawatiran pejabat AS di tengah ketegangan Perang Dingin.
Kudeta tersebut menempatkan diktator militer Carlos Castillo Armas sebagai penguasa baru dan memicu kekerasan politik selama beberapa dekade di negara tersebut.
| Venezuela Raup Rp 5 Triliun dari Penjualan Minyak ke AS, Ekonomi Mulai Bernapas |
|
|---|
| Trump Raup Keuntungan dari Minyak Venezuela, AS Dijual 30 Persen Lebih Mahal |
|
|---|
| 27 Tahun ‘Marahan’, Venezuela Mengisyaratkan Dimulainya Kembali Hubungan Diplomatik dengan AS |
|
|---|
| Trump Mulai Garap Minyak Venezuela, 17 Eksekutif Migas Dikumpulkan di Gedung Putih |
|
|---|
| Bukan Cuma Bisnis! Terbongkar Alasan Trump Mati-Matian Incar Minyak Venezuela |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Saddam-Hussein-Nicolas-Maduro-dan-Manuel-Noriega.jpg)