Selasa, 12 Mei 2026

Kian Rapuh, Rupiah Nyaris Tembus Rp17.000 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada awal perdagangan Selasa (20/1/2027) masih melanjutkan pelemahan.

Tayang:
Editor: Amirullah
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Karyawati menunjukkan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di tempat penukaran uang asing 

SERAMBINEWS.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada awal perdagangan Selasa (20/1/2027).

Tekanan terhadap mata uang Garuda masih berlanjut seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dalam negeri.

Berdasarkan data perdagangan sekitar pukul 09.03 WIB, rupiah spot berada di posisi Rp16.988 per dolar AS.

Angka tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 0,19 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp16.955 per dolar AS.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah dipicu oleh faktor domestik, khususnya kekhawatiran pasar terhadap kesehatan fiskal Indonesia yang kembali mencuat.

Hal itu tidak terlepas dari posisi defisit anggaran 2025 yang mendekati batas aman 3 persen, sementara penerimaan negara dinilai masih belum optimal.

"Kondisi ini menambah tekanan terhadap pergerakan mata uang rupiah," kata Ibrahim.

Menurutnya, Bank Indonesia (BI) sebenarnya disebut sudah melakukan intervensi untuk mengendalikan volatilitas, tetapi terdapat cukup banyak keterbatasan dari sisi kebijakan.

Ia menyebut BI secara rutin melakukan pembelaan terhadap rupiah, baik di pasar DNDF maupun pasar NDF.

Baca juga: Lowongan Kerja KemenPU Januari 2026, Sekretariat Dewan SDA Nasional Buka 4 Posisi, Cek Syaratnya

"Namun, toleransi Bank Indonesia terhadap pelemahan rupiah yang moderat dapat membatasi efektivitas intervensi tersebut," ujar Ibrahim.

Guna menopang mata uang rupiah, BI diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan saat rapat kebijakan pada Rabu mendatang.

BI juga disebut telah mengerahkan berbagai instrumen untuk menahan pelemahan rupiah.

Upaya itu dilakukan melalui penyesuaian penerbitan surat berharga bank sentral, intervensi di pasar valuta asing, serta pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder.

Selain itu, rencana pemerintah untuk memperketat pengelolaan devisa hasil ekspor dinilai dapat memberikan bantalan bagi rupiah.

"Namun, para analis tetap menyuarakan kekhawatiran bahwa defisit fiskal tahun ini berpotensi melebar melampaui batas hukum 3 persen, seiring upaya pemerintah meningkatkan belanja di tengah lemahnya penerimaan pajak," ucap Ibrahim.  

Mata Uang Negara Asia

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved