Minggu, 31 Mei 2026

Timur Tengah

Armada Perang AS Bergerak ke Teluk, Perang AS-Iran Semakin Dekat

Militer Amerika Serikat terakhir kali melakukan pengerahan besar-besaran ke Timur Tengah pada Juni lalu, tepat sehari sebelum menyerang

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
US NAVY/NAVY MEDIA CONTENT SERVICE (NMCS)
Salah satu kapal induk milik Amerika Serikat (AS), USS Nimitz. 

Pejabat senior Iran memperingatkan keras langkah AS tersebut. Ali Abdollahi Aliabadi, koordinator antara militer Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), mengatakan setiap serangan terhadap Iran akan menjadikan seluruh pangkalan AS di kawasan sebagai “target yang sah”.

Komandan IRGC Jenderal Mohammad Pakpour menegaskan Iran “lebih siap dari sebelumnya” dan memperingatkan AS serta Israel agar tidak salah perhitungan.

Washington sendiri telah menarik sebagian personelnya dari pangkalan di Timur Tengah bulan ini, menyusul ancaman Teheran akan menyerang jika AS melancarkan agresi.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam artikelnya di The Wall Street Journal menegaskan Iran akan membalas “dengan segala yang dimiliki” jika diserang. Ia memperingatkan bahwa konfrontasi penuh akan berlangsung lama dan jauh lebih brutal dari perkiraan Israel dan sekutunya.

Dampak terhadap Penerbangan

Ketegangan AS-Iran juga berdampak pada penerbangan internasional. Sejumlah maskapai sempat menangguhkan atau membatalkan penerbangan ke kawasan Teluk.

Air France membatalkan dua penerbangan Paris–Dubai akhir pekan lalu sebelum kembali melanjutkan operasinya. Luxair menunda penerbangan Luksemburg–Dubai selama 24 jam, sementara KLM dan Transavia membatalkan sejumlah penerbangan dari dan ke Dubai serta Tel Aviv.

Sanksi Baru AS terhadap Iran

AS juga menjatuhkan sanksi baru pada Jumat terhadap sembilan kapal dan pemiliknya yang dituduh mengangkut minyak Iran senilai ratusan juta dolar ke pasar internasional, melanggar sanksi.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan sanksi ini bertujuan menargetkan sumber pendanaan Iran yang digunakan untuk menekan rakyatnya, termasuk dengan memutus akses internet selama penindakan protes.

Iran menyebut protes yang dimulai sejak 28 Desember telah menewaskan 3.117 orang, sebagian besar akibat aksi “teroris” yang didukung AS dan sekutunya. Namun, Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di AS mengklaim telah mengonfirmasi sedikitnya 5.137 kematian, dengan ribuan lainnya masih diselidiki.

Dewan HAM PBB pada Jumat juga mengeluarkan resolusi yang mengutuk Iran atas penindakan keras terhadap demonstrasi tersebut.(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved