Timur Tengah
Armada Perang AS Bergerak ke Teluk, Perang AS-Iran Semakin Dekat
Militer Amerika Serikat terakhir kali melakukan pengerahan besar-besaran ke Timur Tengah pada Juni lalu, tepat sehari sebelum menyerang
Pejabat senior Iran memperingatkan keras langkah AS tersebut. Ali Abdollahi Aliabadi, koordinator antara militer Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), mengatakan setiap serangan terhadap Iran akan menjadikan seluruh pangkalan AS di kawasan sebagai “target yang sah”.
Komandan IRGC Jenderal Mohammad Pakpour menegaskan Iran “lebih siap dari sebelumnya” dan memperingatkan AS serta Israel agar tidak salah perhitungan.
Washington sendiri telah menarik sebagian personelnya dari pangkalan di Timur Tengah bulan ini, menyusul ancaman Teheran akan menyerang jika AS melancarkan agresi.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam artikelnya di The Wall Street Journal menegaskan Iran akan membalas “dengan segala yang dimiliki” jika diserang. Ia memperingatkan bahwa konfrontasi penuh akan berlangsung lama dan jauh lebih brutal dari perkiraan Israel dan sekutunya.
Dampak terhadap Penerbangan
Ketegangan AS-Iran juga berdampak pada penerbangan internasional. Sejumlah maskapai sempat menangguhkan atau membatalkan penerbangan ke kawasan Teluk.
Air France membatalkan dua penerbangan Paris–Dubai akhir pekan lalu sebelum kembali melanjutkan operasinya. Luxair menunda penerbangan Luksemburg–Dubai selama 24 jam, sementara KLM dan Transavia membatalkan sejumlah penerbangan dari dan ke Dubai serta Tel Aviv.
Sanksi Baru AS terhadap Iran
AS juga menjatuhkan sanksi baru pada Jumat terhadap sembilan kapal dan pemiliknya yang dituduh mengangkut minyak Iran senilai ratusan juta dolar ke pasar internasional, melanggar sanksi.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan sanksi ini bertujuan menargetkan sumber pendanaan Iran yang digunakan untuk menekan rakyatnya, termasuk dengan memutus akses internet selama penindakan protes.
Iran menyebut protes yang dimulai sejak 28 Desember telah menewaskan 3.117 orang, sebagian besar akibat aksi “teroris” yang didukung AS dan sekutunya. Namun, Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di AS mengklaim telah mengonfirmasi sedikitnya 5.137 kematian, dengan ribuan lainnya masih diselidiki.
Dewan HAM PBB pada Jumat juga mengeluarkan resolusi yang mengutuk Iran atas penindakan keras terhadap demonstrasi tersebut.(*)
| Mantan Mata-mata: Israel Targetkan Mesir dan Turki untuk Perang Berikutnya setelah Iran |
|
|---|
| Netanyahu Perintahkan Militer Kuasai 70 Persen Gaza, Krisis Kemanusiaan Makin Parah |
|
|---|
| Komandan Baru Al-Qassam Tewas Bersama Istri dalam Serangan Udara Israel di Gaza Barat |
|
|---|
| PBB Kembali Tuduh Israel Lakukan Genosida dan Pembersihan Etnis di Gaza |
|
|---|
| Israel Culik Puluhan Relawan Kemanusiaan di Perairan Internasional saat Bawa Bantuan ke Gaza |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Salah-satu-kapal-induk-milik-Amerika-Serikat-AS-USS-Nimitz.jpg)