Sabtu, 11 April 2026

Konflik Amerika vs Iran

AS–Iran Gagal Capai Kesepakatan, Teheran Tegaskan Pengayaan Uranium Berlanjut

Di sisi lain, Iran menegaskan bahwa pengayaan uranium merupakan haknya sebagai negara berdaulat.

|
Editor: Faisal Zamzami
Istimewa
NUKLIR IRAN - Donald Trump dan Ayatollah Ali Khamenei. 

Ringkasan Berita:
  • Amerika Serikat (AS) dan Iran gagal mencapai kesepakatan dalam negosiasi terkait program nuklir Teheran yang berlangsung di Jenewa, Swiss, Kamis (26/2/2026).
  • Perundingan tidak langsung tersebut dimediasi oleh Menteri Luar Negeri Oman, Badr Al-Busaidi.
  • Meski belum menghasilkan kesepakatan, ia menyebut terdapat perkembangan signifikan dalam pembahasan antara kedua negara.

 

SERAMBINEWS.COM, WASHINGTONAmerika Serikat (AS) dan Iran gagal mencapai kesepakatan dalam negosiasi terkait program nuklir Teheran yang berlangsung di Jenewa, Swiss, Kamis (26/2/2026).

Perundingan tidak langsung tersebut dimediasi oleh Menteri Luar Negeri Oman, Badr Al-Busaidi.

Meski belum menghasilkan kesepakatan, ia menyebut terdapat perkembangan signifikan dalam pembahasan antara kedua negara.

Namun, Al-Busaidi tidak merinci lebih jauh mengenai kemajuan yang dimaksud.

Negosiasi ini berfokus pada program nuklir Iran, khususnya terkait aktivitas pengayaan uranium.

Baca juga: VIDEO - Iran Klaim Hantam Kapal Perang AS, Markas Armada Kelima di Bahrain Jadi Sasaran

Sebelum perundingan berakhir, stasiun televisi Iran melaporkan bahwa Teheran bertekad melanjutkan pengayaan uranium dan menolak memindahkan hasil pengayaan ke luar negeri.

Iran juga kembali menuntut pencabutan sanksi internasional sebagai bagian dari kesepakatan.

Baca juga: Perang AS dan Iran Segera Meletus, Beberapa Negara Perintahkan Warganya Tinggalkan Timur Tengah

Sikap tersebut menunjukkan Iran belum siap memenuhi tuntutan Presiden AS, Donald Trump, yang menginginkan pembatasan ketat terhadap program nuklir Teheran.

Trump sebelumnya melihat adanya peluang kesepakatan di tengah tekanan domestik yang dihadapi pemerintah Iran akibat demonstrasi nasional.

Di sisi lain, Iran menegaskan bahwa pengayaan uranium merupakan haknya sebagai negara berdaulat.

Teheran juga menolak memperluas pembahasan ke isu lain, seperti program rudal jarak jauh maupun dukungan terhadap kelompok proksi di kawasan, termasuk Hamas dan Hizbullah.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa putaran negosiasi kali ini merupakan yang paling intens dan berlangsung paling lama.

Meski tidak menjelaskan detail hasil pembicaraan, Araghchi menegaskan bahwa posisi dan langkah Iran telah disampaikan secara jelas selama perundingan.

Sementara itu, Al-Busaidi menyebut pembicaraan teknis yang melibatkan perwakilan tingkat bawah akan dilanjutkan di Wina, Austria.

Di tengah kebuntuan tersebut, AS dilaporkan telah menyiapkan kapal perang di kawasan Teluk Persia.

Langkah itu sebelumnya disebut sebagai opsi yang akan ditempuh apabila kesepakatan antara Washington dan Teheran tidak tercapai.
 
 
 
 
 
 
 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved