Senin, 11 Mei 2026

AS dan Israel Serang Iran

Pemimpin Iran Pilih Lebih Baik Syahid dalam Perang daripada Menyerah ke AS

Menurut Parsi, strategi Washington dan Tel Aviv diduga bertumpu pada upaya menekan Iran dengan cara melemahkan atau bahkan menyingkirkan para

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
X/Twitter
MASOUD PEZESHKIAN - Presiden Iran, Masoud Pezeshkian terluka akibat serangan udara Israel pada 16 Juni lalu. Hal ini diungkapkan oleh kantor berita Fars News Agency yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran (IRGC), Minggu (13/7/2025). 

SERAMBINEWS.COM – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kian memanas. Di tengah ancaman militer dan pengerahan kekuatan besar-besaran ke Teluk, muncul pernyataan tajam yang menggambarkan kerasnya sikap Teheran: lebih baik syahid dalam perang daripada menyerah kepada Washington.

Pengamat politik internasional, Trita Parsi, salah satu pendiri Quincy Institute for Responsible Statecraft, menilai strategi Amerika Serikat dan Israel saat ini keliru arah.

Menurut Parsi, strategi Washington dan Tel Aviv diduga bertumpu pada upaya menekan Iran dengan cara melemahkan atau bahkan menyingkirkan para pemimpin seniornya, dengan harapan akan muncul sosok yang bersedia menerima penyerahan diri.

Namun, ia menyebut pendekatan tersebut sebagai salah perhitungan besar.

Berbicara kepada Al Jazeera, Parsi mengatakan bahwa Presiden AS, Donald Trump, kemungkinan meyakini pengerahan kapal induk dan kekuatan militer ke kawasan Teluk cukup untuk membuat Iran gentar.

Baca juga: Digempur Rudal, Trump Ajak Dialog Iran, Larijani: Kami tak Akan Bernegosiasi dengan AS

“Trump berpikir bahwa dengan membawa kapal induk ke Teluk, hal itu akan cukup menakut-nakuti Iran agar mereka menyerah. Tapi ia tidak memahami bahwa teokrasi ini lebih takut menyerah daripada takut perang,” kata Parsi.

Menurutnya, pemerintah Iran percaya mereka masih bisa bertahan dalam perang terbuka. Namun, jika menyerah, rezim tersebut justru berisiko runtuh dari dalam.

Untuk menemukan figur yang mau menyerah, lanjut Parsi, bukan hanya perlu menghilangkan satu atau dua lapis kepemimpinan. “Itu berarti benar-benar menghancurkan negara secara keseluruhan,” tegasnya.

Ia juga menyoroti bahwa Washington mungkin tidak menyadari berapa lama dan mahalnya proses tersebut, bahkan jika tujuan itu bisa tercapai.

Sementara itu, strategi Iran disebut berfokus pada satu hal: membuat harga konflik menjadi terlalu mahal bagi Amerika Serikat.

Caranya dengan menimbulkan kerusakan sebesar mungkin—baik terhadap pasukan AS, perekonomian global, negara-negara tetangga, maupun stabilitas pasar dunia.

Dengan kata lain, Teheran ingin memastikan bahwa eskalasi perang akan menjadi beban politik dan ekonomi yang sulit ditanggung oleh Gedung Putih.

Di tengah bayang-bayang konflik yang semakin terbuka, dunia kini menunggu: apakah tekanan militer akan memaksa perubahan sikap, atau justru memperkeras tekad perlawanan?
 
 
 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved