AS dan Israel Serang Iran
Drone Iran Hantam Kilang Saudi Aramco, Harga Minyak Dunia Langsung Melonjak
Ras Tanura dikenal sebagai salah satu pusat penyulingan dan ekspor minyak terpenting di dunia. Serangan ini langsung memicu kekhawatiran akan
SERAMBINEWS.COM - Serangan dramatis terekam kamera ketika drone Iran menghantam fasilitas kilang minyak utama milik Saudi Aramco di Ras Tanura, Arab Saudi.
Ledakan yang mengguncang kompleks penyulingan itu memaksa perusahaan energi terbesar dunia tersebut menutup sementara operasional kilangnya.
Ras Tanura dikenal sebagai salah satu pusat penyulingan dan ekspor minyak terpenting di dunia.
Serangan ini langsung memicu kekhawatiran akan gangguan serius terhadap pasokan energi global, terutama di tengah ketegangan geopolitik yang terus memburuk di kawasan Teluk.
Pasar Minyak Tersengat Ketegangan
Insiden ini terjadi saat pasar minyak dunia berada dalam kondisi sangat sensitif. Konflik Iran yang kian meluas telah menciptakan gangguan besar di Selat Hormuz, jalur sempit yang dilalui hampir 20 persen pasokan minyak harian dunia.
Baca juga: Digempur Rudal, Trump Ajak Dialog Iran, Larijani: Kami tak Akan Bernegosiasi dengan AS
Meski Teheran belum secara resmi menutup jalur tersebut, banyak perusahaan pelayaran memilih menghentikan operasionalnya karena alasan keamanan. Akibatnya, terjadi kemacetan de facto di salah satu koridor energi paling vital di dunia.
Dampaknya terasa cepat di pasar global. Harga minyak mentah Brent melonjak hingga menyentuh 80 dolar AS per barel pada awal perdagangan, mencatat lonjakan paling tajam dalam empat tahun terakhir.
Para pedagang memperkirakan risiko gangguan pasokan baru dari kawasan Teluk bisa memicu tekanan inflasi global yang segar.
Konflik Memanas, Serangan Meluas
Eskalasi meningkat tajam akhir pekan lalu ketika Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan rudal ke sejumlah target di Iran. Washington bahkan menyerukan warga Iran untuk bangkit melawan rezim yang berkuasa.
Teheran membalas dengan serangan ke berbagai sasaran, termasuk Israel serta pangkalan militer AS dan target di Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain. Kawasan Teluk kini berada di ambang konflik terbuka yang lebih luas.
Riyadh: Serangan Pengecut Tak Bisa Dibenarkan
Pemerintah Arab Saudi mengecam keras serangan tersebut. Riyadh menyebut aksi Iran sebagai “serangan terang-terangan dan pengecut” yang tidak dapat dibenarkan dengan dalih apa pun.
Kementerian Luar Negeri Saudi menegaskan bahwa kerajaan sebelumnya telah menyatakan wilayah udara dan teritorinya tidak digunakan dalam operasi militer AS maupun Israel terhadap Iran. Namun, serangan tetap terjadi.
Sebagai langkah diplomatik, otoritas Saudi memanggil Duta Besar Iran untuk kerajaan, Alireza Enayati, guna meminta penjelasan resmi terkait insiden tersebut.
Dengan infrastruktur energi strategis kini menjadi target, dunia menghadapi risiko ketidakstabilan berkepanjangan.
Jika gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut, dampaknya bukan hanya pada harga minyak tetapi juga pada ekonomi global secara keseluruhan.(*)
| Iran Bentuk Perisai Manusia Lindungi Pembangkit Listrik dan Jembatan, Trump Meradang |
|
|---|
| Iran: Jika Serangan Berhenti, Kami Hentikan Tembakan |
|
|---|
| Iran dan Oman Pungut Biaya Transit Selat Hormuz di Bawah Gencatan Senjata |
|
|---|
| Iran Klaim Kemenangan Bersejarah, AS Terima Syarat Jelang Perundingan Damai |
|
|---|
| Netanyahu tak Sudi Lebanon Masuk dalam Kerangka Penghentian Perang yang Diajukan Iran ke AS |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/aramco-u909ojkl.jpg)