AS dan Israel Serang Iran
AS Yakin Serangan ke Iran Bisa Picu Kerusuhan dan Perubahan Rezim Teheran
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menegaskan Washington tidak memulai perang, melainkan melakukan pembalasan atas tindakan pemerintah
SERAMBINEWS.COM – Amerika Serikat memperkirakan gelombang serangan militernya terhadap Iran dapat memicu kerusuhan internal, bahkan membuka jalan bagi perubahan rezim di Teheran.
Namun di balik optimisme tersebut, para analis menilai skenario itu jauh dari sederhana.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menegaskan Washington tidak memulai perang, melainkan melakukan pembalasan atas tindakan pemerintah Iran sejak Revolusi 1979.
Ia menyinggung sejumlah insiden, termasuk dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok proksi di Timur Tengah dan dugaan penggunaan alat peledak improvisasi (IED) di Irak yang menewaskan tentara AS.
Menurut pejabat Pentagon, operasi udara yang berlangsung saat ini diklaim “sangat sukses”. Target utama disebut jelas: melumpuhkan kekuatan angkatan laut Iran, menghancurkan kemampuan rudal balistik, serta merusak infrastruktur nuklirnya.
Baca juga: AS Panik, Desak Warganya Tinggalkan 14 Negara Timur Tengah Sekaligus, Kedutaan di Amman Dievakuasi
Presiden Donald Trump bahkan sempat menyebut operasi bisa berlangsung hingga empat minggu. Namun Hegseth menolak mengunci jadwal pasti, menegaskan bahwa ini bukan perang tanpa akhir, meski juga tidak memberikan tenggat waktu yang tegas.
Di sisi lain, terdapat harapan setidaknya secara retoris bahwa tekanan militer yang intens dapat memicu gelombang protes di dalam negeri Iran. Washington diyakini melihat peluang bahwa pukulan terhadap aset strategis Iran bisa menggoyahkan stabilitas politik di Teheran.
Namun sejumlah pakar menilai, perubahan rezim hampir mustahil dicapai hanya melalui serangan udara. Skenario tersebut, kata mereka, kemungkinan besar memerlukan kehadiran pasukan darat dalam jumlah besar bahkan bisa mencapai ratusan ribu personel untuk benar-benar mengubah dinamika kekuasaan di dalam negeri Iran.
Sementara itu, kelompok oposisi di Iran dinilai belum memiliki kekuatan terorganisir maupun dukungan militer yang memadai.
Gelombang protes sebelumnya justru berujung pada tindakan keras aparat keamanan, dengan ribuan korban tewas dalam beberapa tahun terakhir.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran bahwa tekanan eksternal justru dapat memperkuat represi internal.
Dengan demikian, meski Washington mengklaim memiliki tujuan militer yang terukur menghilangkan kapasitas rudal Iran, menetralisir angkatan lautnya, dan mencegah pengembangan senjata nuklir pertanyaan besarnya tetap menggantung: apakah keberhasilan militer dapat secara otomatis diterjemahkan menjadi perubahan politik di Teheran?
Untuk saat ini, jawabannya masih belum pasti.(*)
| Trump Hadapi Pilihan Sulit Usai Gagalnya Negosiasi dengan Iran |
|
|---|
| Netanyahu Berulang Kali Tekan Presiden AS untuk Serang Iran, hanya Trump yang Setuju |
|
|---|
| Kapal Perang AS Terobos Selat Hormuz, Iran Ultimatum Serangan dalam 30 Menit |
|
|---|
| Delegasi AS Tinggalkan Pakistan, Negosiasi Nuklir dengan Iran Berakhir Tanpa Hasil |
|
|---|
| AS-Iran Diambang Perang Dahsyat, Perundingan Gagal Capai Kesepakatan soal Nuklir dan Selat Hormuz |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Pete-Hegseth-909oijk.jpg)