Jumat, 8 Mei 2026

Konflik Amerika vs Iran

Profil Mojtaba Khamenei, Putra Ali Khamenei Resmi Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Sangat Berpengaruh

Sebelum penunjukan ini, Mojtaba Khamenei telah lama dianggap sebagai kandidat kuat penerus ayahnya.

Tayang:
Editor: Faisal Zamzami
Kompas.com
Ayatollah Mojtaba Khamenei, anak Ali Khamenei, resmi terpilih menjadi pemimpin tertinggi baru Iran, Senin (9/3/2026 
Ringkasan Berita:
  • Iran secara resmi menunjuk Ayatollah Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru pada Senin, 9 Maret 2026.
  • Ia menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang sebelumnya memimpin Republik Islam Iran.
  • Penunjukan Mojtaba dilakukan melalui pemungutan suara oleh Majelis Ahli, sebuah badan yang terdiri dari 88 ulama senior yang memiliki kewenangan memilih pemimpin tertinggi Iran.

 

SERAMBINEWS.COM, TEHERAN – Iran secara resmi menunjuk Ayatollah Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru pada Senin, 9 Maret 2026.

Ia menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang sebelumnya memimpin Republik Islam Iran.

Penunjukan Mojtaba dilakukan melalui pemungutan suara oleh Majelis Ahli, sebuah badan yang terdiri dari 88 ulama senior yang memiliki kewenangan memilih pemimpin tertinggi Iran.

Dalam pernyataan resminya, Majelis Ahli menyatakan bahwa dengan suara yang menentukan, Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei ditetapkan sebagai pemimpin ketiga dalam sistem Republik Islam Iran.

Jabatan Pemimpin Tertinggi merupakan posisi paling berkuasa di Iran, dengan kewenangan terakhir dalam berbagai urusan negara, termasuk politik, militer, dan kebijakan strategis.

Sebelum penunjukan ini, Mojtaba Khamenei telah lama dianggap sebagai kandidat kuat penerus ayahnya.

Ia dikenal memiliki pengaruh besar di kalangan pasukan keamanan Iran serta jaringan bisnis yang berkembang selama masa kepemimpinan Ali Khamenei.

Penunjukan ini juga terjadi di tengah ketegangan geopolitik.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengkritik kemungkinan Mojtaba menjadi pemimpin Iran.

Ia bahkan menyatakan bahwa pemimpin baru Iran harus mendapat persetujuan dari Amerika Serikat agar dapat bertahan lama.

Baca juga: Iran Tolak Gencatan Senjata, Tegaskan Perang Harus Berakhir Permanen

Sementara itu, laporan sebelumnya menyebut Mojtaba sempat menjadi target serangan udara oleh Amerika Serikat dan Israel pekan lalu.

Namun, dua sumber Iran kepada Reuters mengatakan bahwa Mojtaba selamat karena tidak berada di Teheran saat serangan terjadi.

Sebagai informasi, Pemimpin Tertinggi Iran tidak dipilih secara langsung oleh rakyat.

Pemilihan dilakukan oleh Majelis Ahli, yang anggotanya dipilih oleh publik setiap delapan tahun sekali.

Dalam sejarah Iran modern, pergantian kepemimpinan tertinggi sebelumnya hanya terjadi sekali, yaitu pada tahun 1989 ketika Ayatollah Ruhollah Khomeini meninggal dunia dan digantikan oleh Ali Khamenei.

Dengan penunjukan Mojtaba Khamenei, Iran kini memasuki babak baru kepemimpinan di tengah situasi politik dan keamanan kawasan yang semakin kompleks.

 

Profil Mojtaba Khamenei

Mojtaba Khamenei, putra dari Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, dikenal sebagai sosok yang sangat berpengaruh dalam lingkaran dalam rezim teokratis Iran, meski ia tidak pernah mencalonkan diri untuk jabatan publik atau mengikuti pemilihan umum, dikutip dari Al Jazeera.

Selama berpuluh-puluh tahun, Mojtaba membina hubungan erat dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), yang membuat posisinya kian kuat.

Naiknya pengaruh Mojtaba dipandang sebagai sinyal bahwa faksi garis keras tetap memegang kendali penuh pemerintahan Iran, sekaligus menutup peluang negosiasi dengan Barat dalam jangka pendek.

Sosok Tertutup dan Kontroversial

Mojtaba dikenal sangat tertutup.

Ia jarang memberikan pidato politik, khutbah Jumat, atau kuliah umum, sehingga banyak warga Iran bahkan belum pernah mendengar suaranya secara langsung.

Meski demikian, namanya terus disebut-sebut sebagai tokoh yang sedang naik daun dalam struktur kekuasaan negara.

Namun, namanya juga tak lepas dari kontroversi.

Para penentang, baik dari dalam maupun luar negeri, telah mengaitkan Mojtaba dengan tindakan keras terhadap demonstrasi di Iran.

Kubu reformis menuduhnya mencampuri Pemilu dan menggunakan pasukan Basij untuk menindak para demonstran dalam Gerakan Hijau 2009, yang muncul setelah pemilihan presiden kontroversial yang memenangkan Mahmoud Ahmadinejad.

Sejak itu, pasukan Basij menjadi tulang punggung tindakan keras pemerintah terhadap berbagai gelombang protes, termasuk demonstrasi nasional dua bulan lalu yang menurut laporan PBB menewaskan ribuan orang.

Baca juga: VIDEO Iran Tak Gentar Hadapi Serangan AS, Teheran Punya Amunisi Hingga 6 Bulan ke Depan

Hubungan Dekat dengan IRGC dan Dunia Bisnis

Mojtaba telah menjalin hubungan dengan IRGC sejak usia muda, ketika ia bertugas di Batalyon Habib selama Perang Iran-Irak tahun 1980-an.

Beberapa rekannya kemudian menempati posisi penting di aparat keamanan dan intelijen.

Selain politik dan militer, Mojtaba juga disebut-sebut memiliki kekayaan besar melalui jaringan bisnis yang melibatkan aset di berbagai negara.

Meskipun namanya diyakini tidak muncul langsung dalam transaksi, laporan media Barat menyebut ia memindahkan miliaran dolar AS melalui jaringan orang dalam terkait pemerintah Iran.

Bloomberg bahkan mengaitkan Mojtaba dengan Ali Ansari, pemilik Bank Ayandeh yang dibubarkan secara paksa akibat utang besar dan pinjaman kepada pihak dalam.

Pembubaran bank tersebut turut mendorong inflasi, memperparah kondisi ekonomi rakyat Iran.

Isu Kredibilitas Keagamaan

Kredibilitas keagamaan Mojtaba juga menjadi perdebatan.

Ia hanya memiliki gelar hojatoleslam, ulama tingkat menengah, bukan ayatollah dengan pangkat lebih tinggi.

Namun, ayahnya sendiri juga bukan ayatollah saat menjadi pemimpin pada 1989, dan hukum diubah untuk mengakomodasinya.

Hal serupa mungkin bisa terjadi untuk Mojtaba.

Dengan pengaruh yang besar dalam lingkaran elit dan hubungan erat dengan IRGC, sosok Mojtaba Khamenei tetap menjadi figur kunci dalam politik Iran, meski jarang muncul di muka publik.

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved