Konflik Amerika vs Iran
Pentagon: 140 Tentara AS Terluka dalam Perang Iran, 7 Personel Tewas
Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, mengatakan mayoritas personel yang terluka tidak berada dalam kondisi yang mengancam jiwa.
Ringkasan Berita:
- Kementerian Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon mengonfirmasi sekitar 140 personel militer Amerika mengalami luka-luka sejak pecahnya perang dengan Iran pada 28 Februari 2026.
- Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, mengatakan mayoritas personel yang terluka tidak berada dalam kondisi yang mengancam jiwa.
- Selain korban luka, militer Amerika Serikat sebelumnya juga melaporkan tujuh personel tewas dalam serangan Iran pada awal konflik.
SERAMBINEWS.COM, WASHINGTON DC — Kementerian Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon mengonfirmasi sekitar 140 personel militer Amerika mengalami luka-luka sejak pecahnya perang dengan Iran pada 28 Februari 2026.
Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, mengatakan mayoritas personel yang terluka tidak berada dalam kondisi yang mengancam jiwa.
Bahkan, sebagian besar di antaranya telah kembali menjalankan tugas.
“Mayoritas dari cedera ini bersifat ringan, dan 108 anggota militer telah kembali bertugas,” ujar Parnell seperti dilaporkan AFP, Selasa (10/3/2026).
Meski demikian, masih ada sejumlah prajurit yang memerlukan perawatan medis serius.
Pentagon menyebutkan delapan anggota militer mengalami luka parah dan saat ini masih menjalani perawatan intensif.
Baca juga: Megawati Kirim Surat ke Mojtaba Khamenei, Ucapkan Selamat atas Kepemimpinan Baru Iran
Selain korban luka, militer Amerika Serikat sebelumnya juga melaporkan tujuh personel tewas dalam serangan Iran pada awal konflik.
Enam di antaranya gugur di Kuwait, sementara satu personel lainnya tewas di Arab Saudi.
Perang dengan Iran sendiri mulai memanas sejak 28 Februari 2026, ketika pasukan Amerika Serikat bersama Israel melancarkan kampanye serangan udara besar-besaran ke wilayah Iran.
Teheran kemudian membalas dengan meluncurkan gelombang rudal dan drone yang menargetkan negara-negara di kawasan Timur Tengah yang menampung pangkalan atau pasukan militer AS.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan posisi militer Amerika kini semakin menekan pihak Iran.
Ia mengatakan intensitas serangan udara AS terhadap target di Iran terus meningkat.
Di sisi lain, Hegseth mengklaim kemampuan serangan balasan Iran mulai menurun.
Menurutnya, jumlah drone dan rudal yang diluncurkan Iran kini berkurang drastis dibandingkan pada awal konflik.
| AS Resmi Akhiri Kampanye Militer ‘Operasi Epic Fury’ Terhadap Iran: Kami Telah Mencapai Tujuan |
|
|---|
| Presiden Iran Tegaskan Tolak Tuntutan AS soal Program Nuklir: Kami Tidak Akan Tunduk |
|
|---|
| Iran Terapkan Sistem Navigasi Baru di Selat Hormuz, Kapal Wajib Izin Sebelum Melintas, Ini Syaratnya |
|
|---|
| Senator Amerika Serikat Sebut Trump dan Netanyahu sebagai Pemicu Konflik Timur Tengah |
|
|---|
| Operasi Militer AS ke Iran Berakhir, Fokus Amankan Selat Hormuz |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/tentara-as.jpg)