Luar Negeri
Pakistan Naikkan Harga BBM Hingga 55 Persen Akibat Perang Iran
"Kenaikan harga tak terhindarkan karena harga pasar internasional tidak terkendali setelah perang AS-Iran," ujar Malik.
Ringkasan Berita:
- Pemerintah Pakistan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) secara signifikan sebagai respons terhadap lonjakan harga minyak global akibat perang yang terjadi di Timur Tengah.
- Kenaikan harga ini terjadi setelah penutupan Selat Hormuz, jalur penting bagi impor minyak Pakistan dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
- Harga bensin naik 43 persen menjadi 6,25 dollar AS per galon (sekitar Rp 106.000), sementara harga solar meningkat 55 persen menjadi 7 dollar AS per galon (sekitar Rp 118.000).
SERAMBINEWS.COM, ISLAMABAD – Pemerintah Pakistan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) secara signifikan sebagai respons terhadap lonjakan harga minyak global akibat perang yang terjadi di Timur Tengah.
Kenaikan harga ini terjadi setelah penutupan Selat Hormuz, jalur penting bagi impor minyak Pakistan dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Menteri Energi Pakistan, Ali Pervaiz Malik, mengumumkan pada Kamis (2/4/2026) bahwa harga bensin naik 43 persen menjadi 6,25 dollar AS per galon (sekitar Rp 106.000), sementara harga solar meningkat 55 persen menjadi 7 dollar AS per galon (sekitar Rp 118.000).
"Kenaikan harga tak terhindarkan karena harga pasar internasional tidak terkendali setelah perang AS-Iran," ujar Malik.
Bulan lalu, Pakistan juga menaikkan harga bensin dan solar sekitar 20 persen akibat kondisi yang sama.
Untuk meringankan beban warga, pemerintah memberikan subsidi 100 rupee Pakistan (sekitar Rp 6.000) per liter bahan bakar bagi pengguna sepeda motor selama tiga bulan, dengan batas maksimal 20 liter per bulan.
Subsidi ini ditujukan bagi petani kecil, pengendara sepeda motor, serta transportasi barang dan penumpang antar kota.
Baca juga: BBM Subsidi Akan Dibatasi, Ini Batas Maksimal Beli Pertalite &Solar Hingga Kendaraan yang Diizinkan
Menurut Menteri Keuangan Pakistan Muhammad Aurangzeb, pemerintah telah menyalurkan subsidi senilai 129 miliar rupee Pakistan (sekitar Rp 7,8 triliun) dalam tiga minggu terakhir.
Namun, dengan harga minyak internasional yang terus meningkat, pemerintah mengaku tidak dapat melanjutkan subsidi secara penuh.
"Dengan sumber daya terbatas dan belum ada tanda-tanda perang ini akan berakhir, tidak mungkin untuk melanjutkan subsidi secara menyeluruh," jelas Aurangzeb.
Sementara itu, harga minyak dunia melonjak tajam.
Minyak AS naik lebih dari 11 persen pada Kamis (2/4/2026), sedangkan minyak Brent meningkat lebih dari 7 persen setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana intensifikasi operasi militer di kawasan.
| PBB Berduka atas Gugurnya Prajurit UNIFIL RI, Kecam Serangan Israel di Lebanon |
|
|---|
| Demo Meluas di AS, 8 Juta Orang Turun ke Jalan Menentang Kebijakan Trump |
|
|---|
| Detik-detik Pesawat Militer Kolombia Jatuh Saat Lepas Landas, 66 Orang Tewas |
|
|---|
| Kim Jong Un Kembali Terpilih sebagai Presiden Korea Utara |
|
|---|
| Malaysia Jadi Negara Pertama Batalkan Perjanjian Dagang dengan AS Usai Putusan Mahkamah Agung |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Ilustrasi-BBM-mengandung-etanol.jpg)