Senin, 13 April 2026

AS dan Israel Serang Iran

Iran akan Melawan Blokade Laut AS di Selat Hormuz

Ketegangan di kawasan Teluk kembali memanas. Iran menegaskan tidak akan tinggal diam menghadapi rencana blokade laut Amerika Serikat di

Editor: Ansari Hasyim
Kompas.com/Seto Ajinugroho
KAPAL PERTAMINA - Dua kapal Pertamina Indonesia masih tertahan di Selat Hormuz. 

SERAMBINEWS.COM – Ketegangan di kawasan Teluk kembali memanas. Iran menegaskan tidak akan tinggal diam menghadapi rencana blokade laut Amerika Serikat di Selat Hormuz.

Pernyataan keras itu disampaikan Zohreh Kharazmi, profesor di Universitas Teheran, yang menilai langkah Washington sebagai pengulangan lama dari politik tekanan imperialis.

“Ini bukan pertama kalinya,” ujar Zohreh Kharazmi, seraya mengingatkan peristiwa 1953 ketika Inggris bereaksi atas nasionalisasi minyak Iran oleh Perdana Menteri Mohammed Mossadegh.

Langkah bersejarah itu berujung pada kudeta yang didukung CIA dan MI6. Menurutnya, pola unjuk kekuatan untuk mendikte negara lain sudah sangat akrab bagi rakyat Iran.

Baca juga: Militer AS akan Blokade Semua Pelabuhan Iran Mulai Senin, Harga Minyak Langsung Melonjak

Kharazmi menekankan bahwa makna Hormuz bagi Teheran jauh melampaui kepentingan militer. Ia membandingkannya dengan keputusan Mesir menasionalisasi Terusan Suez pada 1956 demi mematahkan dominasi Inggris dan Prancis.

“Pernyataan kendali atas Hormuz adalah simbol keputusan berdaulat Iran atas perairannya sendiri,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa Iran telah berhadapan langsung dengan militer AS di udara dan di darat. “Dimensi angkatan laut bukan pengecualian,” tegasnya, bahkan menyebut bahwa menargetkan kapal perang bisa lebih mudah ketimbang memburu jet tempur siluman F-35.

Tak berhenti di situ, Kharazmi membuka kemungkinan keterlibatan pihak lain.

Ia menyebut Beijing dapat memilih mengawal kapal-kapalnya sendiri, sebuah langkah yang berpotensi menyeret Amerika Serikat dan China ke dalam konfrontasi langsung. 

Di sisi lain, Iran juga mengancam memperluas tekanan dengan menutup Selat Bab el-Mandeb di lepas pantai Yaman, jalur vital menuju Laut Merah.

“Jika blokade ini berubah menjadi adu ketahanan antara Republik Islam dan pasar global, tak butuh waktu lama untuk melihat siapa yang akan kalah,” kata Kharazmi.

Ia menutup dengan nada menantang: “Secara teknis, mereka tidak bisa mengendalikan situasi. Dengan strategi gaya Hollywood, mereka tak akan menang di medan pertempuran ini.”(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved