Jumat, 17 April 2026

Berita Internasional

Arab Saudi Desak Trump Redakan Konflik Iran, Khawatir Jalur Minyak Global Terancam

Arab Saudi dilaporkan mendesak Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk meredam konflik dengan Iran.

Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Nurul Hayati
Istimewa
Arab Saudi dilaporkan mendesak Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk meredam konflik dengan Iran. (Dok./Truth Social) 

Arab Saudi Desak Trump Redakan Konflik Iran, Khawatir Jalur Minyak Global Terancam

SERAMBINEWS.COM – Dilansir Serambinews melalui GB News (15/4/2026), Arab Saudi dilaporkan mendesak Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk meredam konflik dengan Iran.

Desakan ini muncul di tengah kekhawatiran meningkatnya risiko eskalasi di kawasan Timur Tengah yang dapat berdampak luas, termasuk terhadap jalur distribusi energi dunia.

Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, secara langsung meminta AS menghentikan blokade angkatan laut di Selat Hormuz dan kembali ke jalur diplomasi.

Baca juga: Blokade Selat Hormuz AS Lumpuhkan Jalur Minyak Iran, 8 Tanker Dipaksa Putar Balik

Langkah ini dinilai sebagai perubahan signifikan dari sikap Riyadh yang sebelumnya dikenal cukup keras terhadap Iran.

Kini, Arab Saudi justru menunjukkan kekhawatiran bahwa konflik bisa semakin meluas dan sulit dikendalikan.

Trump sebelumnya mengumumkan bahwa militer AS akan mencegat kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz sebagai respons atas kegagalan perundingan dengan Iran.

Namun, kebijakan tersebut dinilai berpotensi memicu reaksi balasan dari Teheran.

Arab Saudi khawatir Iran akan memanfaatkan kelompok Houthi di Yaman untuk menutup Selat Bab al-Mandeb, jalur penting di Laut Merah yang menjadi rute utama ekspor minyak kerajaan.

Baca juga: Israel Serang Kendaraan Polisi di Gaza, 5 Orang Tewas Termasuk Balita

Jika jalur tersebut terganggu, maka distribusi minyak global akan semakin tertekan, terutama setelah sebelumnya Selat Hormuz juga menjadi titik panas konflik.

Sejarawan Iran-Amerika, Arash Azizi, menyebut kemungkinan tersebut cukup besar jika ketegangan terus meningkat.

Meski begitu, ia juga menilai Iran masih memiliki keinginan untuk meredakan konflik dan membuka peluang kesepakatan.

Sikap hati-hati Arab Saudi saat ini berbeda dengan posisi sebelumnya pasca serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu.

Saat itu, Riyadh cenderung mendukung langkah agresif, sejalan dengan sikap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang melihat peluang melemahkan Iran.

Baca juga: Negosiasi Nuklir Memanas: Iran Ajukan Pembekuaan 5 Tahun, AS Bersikukuh 20 Tahun

Secara geografis, Arab Saudi memang memiliki keuntungan karena memiliki akses ke Teluk Persia dan Laut Merah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved