Wabah Hantavirus
Waspada Klaster Hantavirus, WHO Ungkap Cara Penularan dan Gejala Mematikannya
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mengungkap perkembangan kasus klaster hantavirus yang terjadi di sebuah kapal
Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Amirullah
Waspada Klaster Hantavirus, WHO Ungkap Cara Penularan dan Gejala Mematikannya
SERAMBINEWS.COM – Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mengungkap perkembangan kasus klaster hantavirus yang terjadi di sebuah kapal pesiar berbendera Belanda dan melibatkan penumpang lintas negara.
Dilansir Serambinews melalui Website Resmi World Health Organization (WHO) (9/5/2026), wabah tersebut bermula ketika sejumlah penumpang kapal pesiar mengalami penyakit pernapasan berat saat melakukan perjalanan di kawasan Atlantik Selatan.
Hingga 4 Mei 2026, tercatat tujuh kasus terkait hantavirus, terdiri dari dua kasus yang telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium dan lima kasus dugaan.
Dari jumlah tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia, satu pasien berada dalam kondisi kritis, dan tiga lainnya mengalami gejala ringan.
WHO menyebut kapal pesiar tersebut membawa total 147 orang yang terdiri dari 88 penumpang dan 59 awak kapal dari 23 negara berbeda.
Kapal itu diketahui berangkat dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April 2026 dan melakukan perjalanan melintasi Atlantik Selatan dengan sejumlah persinggahan, termasuk Antartika, Georgia Selatan, Tristan da Cunha, Saint Helena, hingga Pulau Ascension.
Baca juga: Dokter Jelaskan Perbedaan Hantavirus dan Covid-19, Masyarakat Diimbau Tak Panik
Kronologi Kasus di Kapal Pesiar
Kasus pertama dialami seorang pria dewasa yang mulai mengalami demam, sakit kepala, dan diare ringan pada 6 April 2026 saat berada di atas kapal.
Kondisinya kemudian memburuk menjadi sesak napas dan meninggal dunia pada 11 April.
Kasus kedua terjadi pada seorang wanita dewasa yang merupakan kontak dekat dari pasien pertama.
Wanita tersebut turun di Saint Helena pada 24 April dengan gejala gangguan pencernaan.
Namun, kondisinya memburuk saat penerbangan menuju Johannesburg, Afrika Selatan, dan meninggal dunia sehari kemudian.
Hasil tes PCR kemudian mengonfirmasi bahwa korban terinfeksi hantavirus.
Sementara itu, kasus ketiga merupakan seorang pria dewasa yang mengalami demam, sesak napas, dan pneumonia pada 24 April.
Pasien tersebut dievakuasi ke Afrika Selatan dan kini masih dirawat intensif setelah hasil pemeriksaan memastikan infeksi hantavirus.
WHO juga melaporkan satu wanita dewasa lainnya meninggal dunia pada 2 Mei setelah mengalami pneumonia dan demam tinggi.
Baca juga: Kasus Hantavirus Gegerkan Kapal Pesiar, Kenali Gejala dan Bahaya Virus yang Bisa Serang Paru-paru
Apa Itu Hantavirus?
WHO menjelaskan hantavirus merupakan virus yang umumnya ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus.
Penularan terjadi ketika manusia menghirup partikel dari urin, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi.
Virus ini dapat menyebabkan sindrom paru hantavirus atau Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), penyakit pernapasan serius yang menyerang paru-paru.
Gejalanya meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah, diare, hingga sesak napas berat.
Pada kasus parah, pasien dapat mengalami gagal napas dan syok.
WHO menyebut angka kematian akibat hantavirus di kawasan Amerika dapat mencapai hingga 50 persen.
Meski demikian, kasus penularan dari manusia ke manusia sangat jarang terjadi.
Dalam wabah kali ini, WHO menduga jenis virus yang terlibat kemungkinan berkaitan dengan strain Andes yang memang pernah menyebabkan penularan antarmanusia secara terbatas di Amerika Selatan.
Baca juga: Fakta Hantavirus di Indonesia, Kemenkes Sebut 23 Kasus Terdeteksi Sejak 2024 dan 3 Pasien Meninggal
Respons WHO dan Negara Terkait
WHO menyatakan sejumlah negara seperti Inggris, Belanda, Afrika Selatan, Spanyol, dan Cabo Verde kini melakukan koordinasi internasional untuk menangani wabah tersebut.
Langkah yang dilakukan meliputi pelacakan kontak, isolasi penumpang, pengujian laboratorium, hingga evakuasi medis.
Para penumpang juga diminta melakukan pemantauan kesehatan selama 45 hari dan menjaga jarak fisik selama berada di kapal.
WHO menegaskan bahwa risiko wabah ini terhadap populasi global masih tergolong rendah.
Namun, masyarakat tetap diminta waspada, terutama saat berada di daerah dengan populasi tikus tinggi.
Baca juga: Hantavirus Tewaskan 11 Orang di Argentina, Diduga Menyebar dari Pesta Ulang Tahun
Cara Mencegah Penularan Hantavirus
WHO mengimbau masyarakat untuk menghindari membersihkan kotoran tikus dengan cara menyapu kering karena dapat menyebarkan virus ke udara.
Sebagai langkah pencegahan, WHO menyarankan menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan metode pembersihan basah, memastikan ventilasi ruangan baik, serta segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala pernapasan serius setelah bepergian ke daerah berisiko.
WHO juga memastikan saat ini belum ada rekomendasi pembatasan perjalanan maupun perdagangan internasional terkait wabah tersebut.
Baca juga: Virus Hanta Menggila! Kenali Gejala Hantavirus, Penyakit Berbahaya yang Dapat Menular melalui Tikus
(Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)
Hantavirus
Kasus Hantavirus
Cara Pencegahan Hantavirus
gejala Hantavirus
Wabah Hantavirus
ciri-ciri Hantavirus
Serambinews
Serambi Indonesia
| Dokter Jelaskan Perbedaan Hantavirus dan Covid-19, Masyarakat Diimbau Tak Panik |
|
|---|
| Kasus Hantavirus Gegerkan Kapal Pesiar, Kenali Gejala dan Bahaya Virus yang Bisa Serang Paru-paru |
|
|---|
| Fakta Hantavirus di Indonesia, Kemenkes Sebut 23 Kasus Terdeteksi Sejak 2024 dan 3 Pasien Meninggal |
|
|---|
| Hantavirus Tewaskan 11 Orang di Argentina, Diduga Menyebar dari Pesta Ulang Tahun |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ilustrasi-hantavirus-2.jpg)