Perang Rusia Vs Ukraina
Putin Akui Kewalahan Hadapi Tentara Ukraina karena Didukung Persenjataan dari NATO
Presiden Rusia Vladimir Putin secara terbuka mengakui beratnya tekanan militer yang dihadapi pasukannya di Ukraina.
Ringkasan Berita:
- Dalam pidato berapi-api saat Parade Hari Kemenangan di Lapangan Merah, Sabtu, Putin menegaskan bahwa tentara Rusia kini berhadapan dengan “kekuatan agresif” yang dipersenjatai dan didukung penuh oleh NATO.
- Di hadapan ribuan pasukan dan tamu undangan, Putin menyebut semangat generasi pemenang Perang Dunia II sebagai sumber inspirasi bagi prajurit Rusia yang tengah menjalankan apa yang ia sebut “operasi militer khusus” di Ukraina.
SERAMBINEWS.COM - Presiden Rusia Vladimir Putin secara terbuka mengakui beratnya tekanan militer yang dihadapi pasukannya di Ukraina.
Dalam pidato berapi-api saat Parade Hari Kemenangan di Lapangan Merah, Sabtu, Putin menegaskan bahwa tentara Rusia kini berhadapan dengan “kekuatan agresif” yang dipersenjatai dan didukung penuh oleh NATO.
Di hadapan ribuan pasukan dan tamu undangan, Putin menyebut semangat generasi pemenang Perang Dunia II sebagai sumber inspirasi bagi prajurit Rusia yang tengah menjalankan apa yang ia sebut “operasi militer khusus” di Ukraina.
“Pengalaman tempur modern telah mendorong ilmuwan dan insinyur kami mengembangkan senjata canggih dan memperluas produksi massal,” ujarnya, menekankan kesiapan Moskow menghadapi eskalasi.
Baca juga: UEA Keluar dari OPEC, Rusia Wanti-wanti Harga Minyak Dunia Bisa Anjlok, Produksi Akan Melimpah
Putin juga kembali menegaskan narasi sejarah Rusia, bahwa rakyat Soviet memainkan peran menentukan dalam mengalahkan Nazisme dan “menyelamatkan dunia” pada Perang Dunia II, sebuah pesan yang kini ia kaitkan dengan konflik Ukraina.
Parade tersebut dihadiri sejumlah pemimpin asing, di antaranya Presiden Belarus Alexander Lukashenko, Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev, Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev, Presiden Laos Thongloun Sisoulith, serta Raja Malaysia Sultan Ibrahim Iskandar. Pasukan Rusia dari berbagai matra, kadet militer, hingga prajurit Korea Utara turut ambil bagian.
Menjelang peringatan 8–9 Mei, Kementerian Pertahanan Rusia mengusulkan gencatan senjata dua hari dan memperingatkan akan ada respons rudal “besar-besaran” bila perayaan diganggu. Ukraina menyatakan akan mematuhi gencatan senjata sepihak tersebut, namun tak lama kemudian kedua pihak saling menuding pelanggaran.
Di Washington, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Rusia dan Ukraina sepakat pada gencatan senjata serta pertukaran tawanan 1.000 banding 1.000, dan menyampaikan apresiasi kepada Putin serta Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Trump berharap kesepakatan itu menjadi awal dari akhir perang yang ia sebut “paling besar sejak Perang Dunia II.”
Meski optimisme disuarakan, saling tuding pelanggaran di lapangan menunjukkan jalan menuju perdamaian masih panjang, sementara Moskow menegaskan siap menghadapi tekanan NATO yang kian nyata.(*)
| Status WNI Bripda Rio Anggota Brimob Polda Aceh di Ujung Tanduk Usai Gabung Tentara Bayaran Rusia |
|
|---|
| VIDEO - Rusia Balas Ukraina Usai Klaim Hancurkan Kapal Selam Rusia yang Ditakuti NATO |
|
|---|
| VIDEO - Detik-detik Kapal Selam Rusia Meledak Kena Drone Laut Ukraina |
|
|---|
| Pastikan Aman Usai Perang dengan Rusia, Presiden Ukraina Borong Senjata AS Senilai Rp 1.459 Triliun |
|
|---|
| Rudal Rusia Tewaskan 5 Orang, Ukraina Balas Serang Jet Tempur di Perbatasan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/tentara-rusia-9393.jpg)