Trump Pertimbangkan Venezuela Jadi Negara Bagian ke-51 AS, Tergiur Cadangan Minyak Rp650 Ribu T
Donald Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan Venezuela sebagai calon negara bagian ke-51 Amerika Serikat.
Ringkasan Berita:
- Donald Trump dikabarkan mempertimbangkan Venezuela menjadi negara bagian ke-51 Amerika Serikat setelah Nicolás Maduro digulingkan melalui intervensi militer AS.
- Trump tertarik pada cadangan minyak Venezuela senilai 40 triliun dolar AS dan mulai mendorong perusahaan-perusahaan minyak Amerika kembali berinvestasi di negara tersebut.
- Pemerintah Venezuela menolak keras wacana itu. Wakil Presiden Delcy Rodríguez menegaskan rakyat Venezuela tetap menjunjung tinggi kemerdekaan negaranya.
SERAMBINEWS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan Venezuela sebagai calon negara bagian ke-51 Amerika Serikat.
Wacana kontroversial itu muncul di tengah meningkatnya keterlibatan Washington dalam sektor energi Venezuela setelah Presiden Nicolás Maduro disingkirkan dari kekuasaan melalui intervensi militer AS.
Laporan Fox News menyebut pemerintahan Trump kini активно mendorong perusahaan-perusahaan minyak Amerika untuk kembali berinvestasi di negara Amerika Selatan tersebut.
Trump bahkan secara terbuka mengaku tertarik dengan cadangan minyak Venezuela yang diperkirakan bernilai 40 triliun dolar AS atau setara ratusan ribu triliun rupiah.
“Venezuela mencintai Trump,” ujar Trump dalam percakapan telepon dengan Fox News.
Baca juga: Kronologi Maling Mangga di Bontang Tewas Jatuh dari Pohon, Keluarga Ngamuk Sempat Mengira Dipukul
Trump Ingin “Kelola” Venezuela Saat Masa Transisi
Setelah Nicolás Maduro ditangkap pejabat militer AS pada Januari lalu atas tuduhan narkoterorisme, Trump mengatakan Amerika Serikat akan “mengelola” Venezuela selama masa transisi.
Dalam proses tersebut, Washington disebut bekerja sama dengan Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez.
Trump sebelumnya juga berjanji akan menghidupkan kembali industri minyak AS di Venezuela yang sempat runtuh akibat nasionalisasi sektor energi oleh mantan Presiden Hugo Chávez hampir dua dekade lalu.
Kebijakan Chávez saat itu membuat perusahaan energi besar seperti Exxon dan Conoco hengkang dari Venezuela, sementara Chevron menjadi satu-satunya perusahaan minyak besar AS yang masih bertahan di negara tersebut.
Perusahaan Minyak AS Mulai Masuk Lagi
Selama beberapa bulan terakhir, pejabat kabinet dan penasihat energi Gedung Putih dilaporkan aktif menggelar pertemuan dengan para eksekutif perusahaan minyak besar Amerika.
Mereka mendorong investasi besar-besaran di Venezuela setelah hubungan kedua negara mulai mencair.
Fox News melaporkan, sejak pemerintahan Trump mengambil alih pengelolaan sektor minyak Venezuela, ekspor minyak negara itu pada April 2026 menembus lebih dari 1 juta barel per hari.
Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak 2018.
“Seperti yang telah disampaikan Presiden, hubungan antara Venezuela dan Amerika Serikat sangat luar biasa. Minyak mulai mengalir, dan sejumlah besar uang yang belum pernah terlihat selama bertahun-tahun akan segera membantu rakyat Venezuela,” kata juru bicara Gedung Putih kepada Fox News Digital.
| Cek PIP 2026 Pakai NIK dan NISN, Begini Cara Tahu Dana Sudah Cair atau Masih Diproses |
|
|---|
| Setelah 10 Tahun Terisolasi, Warga Lae Sipola Kini Bisa ke Subulussalam Lewat Jembatan Bailey |
|
|---|
| 5 Manfaat Moisturizer untuk Wajah, Bantu Jaga Kulit Tetap Lembap dan Sehat |
|
|---|
| 6 Cara Agar Protein Diserap Maksimal oleh Tubuh, Jangan Asal Banyak Makan Daging |
|
|---|
| Puluhan Mahasiswa UNIKI Ikut Seleksi MTQ Tingkat Universitas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Presiden-AS-Trump-dan-Presiden-Venezuela-Maduro.jpg)