Rabu, 20 Mei 2026

Berita Luar Negeri

Pakistan Diam-Diam Kirim 8.000 Pasukan dan Jet Tempur ke Arab Saudi, Ada Apa?

bahwa pengerahan skala penuh yang baru pertama kali terungkap ini dilakukan berdasarkan pakta pertahanan bersama yang ditandatangani kedua negara

Tayang:
Penulis: Yeni Hardika | Editor: Nur Nihayati
SERAMBINEWS.COM/AI
ILUSTRASI JET TEMPUR - Ilustrasi jet tempur hasil generated by AI, Selasa (19/5/2026). Pakistan Diam-Diam Kirim 8.000 Pasukan dan Jet Tempur ke Arab Saudi, 

SERAMBINEWS.COM – Sebuah fakta mengejutkan di panggung geopolitik global akhirnya terkuak ke publik.

Di tengah perannya sebagai mediator utama dalam meredam konflik Iran, Pakistan dilaporkan telah mengerahkan kekuatan militer tempur yang substansial ke Arab Saudi.

Kekuatan tersebut mencakup 8.000 tentara, satu skuadron jet tempur, hingga sistem pertahanan udara canggih.

Reuters dalam laporan eksklusifnya yang dipublikasikan pada Senin (18/5/2026) dan diperbarui pada Selasa (19/5/2026) menyebutkan, bahwa pengerahan skala penuh yang baru pertama kali terungkap ini dilakukan berdasarkan pakta pertahanan bersama yang ditandatangani kedua negara pada September 2025 lalu. 

Langkah rahasia ini diambil demi memperkuat militer Riyadh dari potensi serangan lanjutan yang dapat memperluas eskalasi perang di kawasan Teluk.

Baca juga: Jaga Kerajaan Saudi dari Rudal Iran, Pakistan Kirim 8 Ribu Tentara, Jet Tempur, & Pertahanan Udara

Detail Persenjataan dan Pasukan yang Diterjunkan

Dilansir dari Reuters, Selasa (19/5/2026), berdasarkan konformasi dari tiga pejabat keamanan dan dua sumber internal pemerintah, bala bantuan militer dari Islamabad ini sudah mulai dikirim ke wilayah kerajaan Arab Saudi sejak awal April 2026. 

Skala dan komposisi armada yang dikirim membuktikan bahwa misi ini jauh dari sekadar misi simbolis atau penasihat biasa.

Berikut adalah rincian aset militer Pakistan yang kini bersiaga di Arab Saudi:

  • Pasukan Tempur: Sebanyak 8.000 personel militer dan angkatan udara telah ditempatkan, dengan komitmen siap mengirimkan lebih banyak pasukan jika situasi memburuk. Dokumen rahasia bahkan menyebut pakta ini membuka ruang pengerahan hingga 80.000 tentara Pakistan guna mengamankan perbatasan kerajaan.
  • Jet Tempur & Drone: Satu skuadron penuh berisi sekitar 16 pesawat tempur tipe JF-17, yang diproduksi bersama dengan China, serta dua skuadron drone tempur.
  • Sistem Pertahanan Udara: Rudal pertahanan udara jarak jauh HQ-9 buatan China.
  • Armada Laut: Perjanjian ini juga melibatkan pengerahan kapal perang Pakistan, meski sejauh ini posisinya masih dalam tahap verifikasi.

Baca juga: Diam-diam, Pakistan Lindungi Pesawat Militer Iran dari Serangan AS–Israel

Kehadiran sistem pertahanan udara HQ-9 buatan China ini kini beroperasi berdampingan secara tumpang tindih dengan sistem pertahanan udara berteknologi tinggi buatan Amerika Serikat milik Arab Saudi, seperti Patriot dan THAAD. 

Seluruh operasional peralatan tempur canggih ini dikendalikan langsung oleh personel militer Pakistan dengan dukungan pembiayaan penuh dari pihak Arab Saudi.

Dilema di Bawah Payung Nuklir Pakistan

Pakta pertahanan bersama antara Riyadh dan Islamabad ini disepakati menyusul rentetan serangan rudal dan ribuan drone balasan dari Iran ke negara-negara Teluk, yang dipicu oleh konflik AS-Israel di kawasan tersebut.

Konfrontasi sempat memanas saat infrastruktur energi vital Arab Saudi hancur terkena hantaman rudal Iran hingga menewaskan seorang warga negara Saudi.

Kondisi tersebut sempat memunculkan spekulasi luas di kalangan komentator dan media lokal Saudi, yang menyebut bahwa perjanjian rahasia ini secara tidak langsung menempatkan Arab Saudi di bawah perlindungan "payung nuklir" milik Pakistan.

Namun, laporan Middle East Eye (MEE), Senin (18/5/2026) menyebutkan bahwa pihak Islamabad sempat waspada terhadap narasi bahasa nuklir yang beredar dan langsung mendiskusikannya secara tertutup dengan pihak kerajaan guna menghindari salah paham global.

Di sisi lain, pengerahan kekuatan militer ini berjalan beriringan dengan posisi diplomasi Pakistan yang sangat kontradiktif.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved