Perang Iran vs AS
Update Hari ke-81 Perang Iran: AS Tunda Serangan, Teheran Siap Hadapi Agresi Baru
Memasuki hari ke-81 perang Iran, ketegangan di Timur Tengah masih terus meningkat meski jalur diplomasi mulai kembali dibuka.
Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Amirullah
Update Hari ke-81 Perang Iran: AS Tunda Serangan, Teheran Siap Hadapi Agresi Baru
SERAMBINEWS.COM - Memasuki hari ke-81 perang Iran, ketegangan di Timur Tengah masih terus meningkat meski jalur diplomasi mulai kembali dibuka.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan bahwa dirinya menunda rencana serangan militer terhadap Iran setelah mendapat permintaan dari para pemimpin negara Teluk seperti Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Serambinews.com dikutip melalui Al Jazeera, Senin (18/5/2026), melaporkan bahwa Trump menyebut saat ini sedang berlangsung “negosiasi serius” antara Washington dan Teheran di balik layar.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal adanya upaya diplomatik baru di tengah meningkatnya ancaman perang yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, Iran menegaskan tidak akan tunduk terhadap tekanan Amerika Serikat maupun Israel.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengatakan bahwa keterlibatan Teheran dalam perundingan bukan berarti menyerah.
“Dialog bukan berarti menyerah,” ujar Pezeshkian.
Ia menegaskan Iran tetap memasuki negosiasi dengan menjaga martabat dan hak-hak rakyatnya.
Baca juga: Trump Mendadak Tunda Serangan Besar ke Iran dengan 1 Syarat, Negara-negara Teluk Kompak Bersuara
Trump Akui Menunda Serangan ke Iran
Trump mengatakan perkembangan positif dalam pembicaraan dengan Iran membuatnya memutuskan untuk menunda operasi militer yang sebelumnya direncanakan.
Ia menyebut para sekutu AS di Timur Tengah memberi keyakinan bahwa peluang tercapainya kesepakatan masih terbuka.
Menurut Trump, kesepakatan tersebut diharapkan dapat memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir.
Namun di Amerika Serikat sendiri, tekanan politik terhadap Trump semakin besar.
Sejumlah pengamat menilai perang berkepanjangan di Timur Tengah mulai berdampak pada ekonomi AS, terutama kenaikan harga energi dan biaya hidup masyarakat.
Mike Hanna dari Al Jazeera melaporkan bahwa konflik Iran menjadi isu politik sensitif menjelang pemilu paruh waktu di AS.
Ketidakpuasan publik disebut dapat memengaruhi posisi Partai Republik dalam pemungutan suara mendatang.
Mantan Duta Besar AS untuk Aljazair, Henry Ensher, juga memperingatkan bahwa tidak ada pilihan militer yang benar-benar menguntungkan bagi Washington.
Menurutnya, serangan besar terhadap Iran justru berpotensi memperburuk situasi jika gagal mengubah sikap Teheran.
Baca juga: Trump Kian Frustrasi, Negosiasi AS–Iran Buntu, Opsi Militer Dibahas
Iran Tegaskan Siap Hadapi Agresi Baru
Sementara itu, Iran menunjukkan sikap keras terhadap ancaman militer AS dan Israel.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menggagalkan upaya penyelundupan senjata Amerika Serikat di wilayah perbatasan Kurdistan dekat Irak.
IRGC menuduh kelompok yang didukung AS dan Israel berupaya memasukkan senjata dan amunisi ke wilayah Iran.
Selain itu, Iran juga mulai memperketat kontrol di Selat Hormuz.
IRGC menyatakan kabel serat optik bawah laut yang melintasi Selat Hormuz kemungkinan akan dikenakan sistem perizinan baru sebagai bagian dari penguatan kedaulatan Iran atas jalur strategis tersebut.
Mayor Jenderal Ali Abdollahi memperingatkan bahwa setiap agresi baru akan mendapat respons yang jauh lebih keras dibanding sebelumnya.
Tokoh senior Iran, Mohsen Rezaei, bahkan mengejek Trump karena menetapkan lalu membatalkan tenggat waktu serangan militer.
Ia menegaskan Iran tidak akan menyerah di bawah tekanan asing.
Baca juga: Uptade Hari ke-80 Perang Iran: Trump Keluarkan Ancaman Keras, Israel Disebut Siap Menyerang
Pakistan dan Qatar Jadi Mediator
Dalam perkembangan diplomasi, Pakistan disebut memainkan peran penting sebagai penghubung komunikasi tidak langsung antara Washington dan Teheran.
Iran disebut menyampaikan respons terhadap proposal terbaru AS melalui Islamabad.
Perdana Menteri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, juga mendukung upaya mediasi Pakistan untuk mendorong penyelesaian konflik secara damai.
Lebanon dan Gaza Masih Memanas
Meski pembicaraan diplomatik meningkat, situasi di Lebanon dan Palestina masih memanas.
Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut jumlah korban tewas akibat serangan Israel sejak 2 Maret telah melampaui 3.000 orang.
Lebih dari 9.200 orang lainnya dilaporkan terluka, termasuk anak-anak dan tenaga medis.
Kelompok Hizbullah mengklaim menyerang pasukan Israel menggunakan pesawat tak berawak di wilayah Lebanon selatan sebagai balasan atas serangan udara Israel.
Sementara itu, Israel juga terus melakukan operasi militer di Tepi Barat, termasuk di Ramallah dan sejumlah desa Palestina lainnya.
Di Gaza, kelompok Global Sumud Flotilla menuduh Israel menyita kapal bantuan kemanusiaan yang menuju wilayah tersebut di perairan internasional.
Malaysia, Qatar, dan Turki turut mengecam tindakan Israel tersebut.
Baca juga: Update Perang Iran Hari ke-77: Hormuz Jadi Pusat Negosiasi Trump–Xi, Teheran Galang Dukungan BRICS
(Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)
| Update Perang Iran Hari ke-77: Hormuz Jadi Pusat Negosiasi Trump–Xi, Teheran Galang Dukungan BRICS |
|
|---|
| Update Hari ke-76 Perang Iran: JD Vance Klaim Ada Kemajuan, Israel Justru Gempur Lebanon |
|
|---|
| Update Hari ke-74 Perang Iran: Teheran Siap Balas ‘Agresi’, Trump Sebut Gencatan Senjata Kritis |
|
|---|
| Update Hari ke-70 Perang Iran: AS-Iran Saling Tembak di Selat Hormuz, Gencatan Senjata Terancam? |
|
|---|
| Trump Umumkan Misi Pengawalan Kapal di Hormuz, Iran Beri Peringatan Keras |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Benjamin-Netanyahu-Donald-Trump-Iran-Israel-Amerika-Serikat-AS.jpg)