Kamis, 4 Juni 2026

Perang Iran vs AS

Update Hari ke-96 Perang Iran: AS dan Iran Kembali Saling Serang, Negosiasi Damai Semakin Rumit

Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki hari ke-96 dengan ketegangan yang kembali meningkat di kawasan Teluk.

Tayang:
Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Nurul Hayati
SERAMBINEWS.COM/AI
Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki hari ke-96 dengan ketegangan yang kembali meningkat di kawasan Teluk. 

Update Hari ke-96 Perang Iran: AS dan Iran Kembali Saling Serang, Negosiasi Damai Semakin Rumit

SERAMBINEWS.COM – Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki hari ke-96 dengan ketegangan yang kembali meningkat di kawasan Teluk.

Kedua pihak melaporkan aksi militer baru di tengah mandeknya negosiasi yang diharapkan dapat mengakhiri perang dan membuka jalan menuju kesepakatan jangka panjang.

Dikutip Serambinews.com melalui Al Jazeera, Rabu (3/6/2026), militer AS mengaku telah melancarkan serangan yang disebut sebagai operasi "pertahanan diri" terhadap target militer Iran di Pulau Qeshm, wilayah strategis yang berada di dekat Selat Hormuz.

Di sisi lain, Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah sasaran militer AS di kawasan Teluk.

Baca juga: Trump Ngamuk ke Netanyahu karena Merusak Negosiasi: Gila! Kalau Bukan Saya, Anda Sudah Dipenjara

Serangan Baru di Selat Hormuz

Menurut laporan kantor berita semi-resmi Tasnim yang mengutip IRGC, rangkaian bentrokan terbaru bermula ketika pasukan AS menyerang sebuah kapal tanker minyak Iran di dekat Selat Hormuz.

Serangan itu disebut merusak ruang mesin kapal tersebut.

Sebagai respons, IRGC mengklaim menargetkan kapal yang disebut terkait dengan AS dan Israel menggunakan rudal angkatan laut.

Ketegangan kemudian meningkat ketika AS menyerang menara komunikasi milik IRGC di wilayah selatan Pulau Qeshm.

Iran menyebut serangan balasannya menyasar berbagai aset militer AS, termasuk pangkalan udara, markas Armada Kelima AS di Bahrain, hingga helikopter militer yang ditempatkan di negara-negara kawasan.

Namun, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Baca juga: Netanyahu Perintahkan Militer Israel Kuasai 70 Persen Gaza, Menlu AS Tegaskan Trump Tak Terlibat

AS Bantah Serangan Iran Berhasil

Komando Pusat AS (CENTCOM) membantah pernyataan Iran yang menyebut serangan mereka berhasil mengenai sasaran militer Amerika.

CENTCOM menegaskan bahwa seluruh rudal dan drone yang diluncurkan Iran gagal mencapai target.

Militer AS juga mengungkapkan bahwa sistem pertahanannya berhasil mencegat gelombang drone Iran yang mengarah ke Kuwait.

Tidak ada personel maupun fasilitas militer AS yang mengalami kerusakan akibat serangan tersebut.

Dalam pernyataan resminya, CENTCOM menyebut pasukan AS tetap siaga penuh dan siap mempertahankan diri dari setiap ancaman yang datang.

Sebelumnya, AS juga mengonfirmasi telah menyerang stasiun kendali darat Iran di Pulau Qeshm sebagai bagian dari operasi yang disebutnya sebagai tindakan pertahanan diri.

Baca juga: Timur Tengah Kian Memanas! Trump Tekan Oman agar Jauhi Iran, UEA dan Arab Saudi Ikut Geram

Negosiasi Damai Masih Penuh Ketidakpastian

Di tengah meningkatnya ketegangan militer, proses diplomasi antara Washington dan Teheran masih berjalan namun belum menunjukkan hasil konkret.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan bahwa pemimpin tertinggi Iran saat ini, Mojtaba Khamenei, masih aktif terlibat dalam proses negosiasi dengan Washington.

Rubio menegaskan bahwa AS tidak akan mencabut sanksi ekonomi terhadap Iran hanya sebagai imbalan atas pembukaan kembali Selat Hormuz.

Menurutnya, pelonggaran sanksi hanya akan diberikan jika Iran bersedia membuat konsesi terkait program nuklirnya.

Presiden Donald Trump juga mengakui bahwa pembicaraan dengan Iran masih berlangsung.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa hasil akhirnya masih belum dapat dipastikan.

"Kita tidak pernah tahu ke mana arah pembicaraan ini akan berujung," kata Trump.

Sementara itu, Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan bahwa Teheran dapat menghentikan seluruh proses negosiasi dan memilih jalur konfrontasi apabila serangan Israel ke Lebanon terus berlanjut.

Baca juga: Trump Mengamuk ke Netanyahu soal Eskalasi Lebanon: Semua Orang Membencimu

Tekanan Politik di AS dan Israel

Perang yang berkepanjangan juga memicu kritik di dalam negeri AS.

Sejumlah senator Partai Demokrat menilai kebijakan luar negeri pemerintahan Trump justru memperburuk situasi.

Senator Chris Van Hollen menyebut konflik tersebut sebagai "bencana besar" yang merugikan kepentingan Amerika.

Senator Cory Booker juga mengkritik dampak ekonomi akibat penutupan Selat Hormuz yang dinilai memberi keuntungan strategis bagi Iran.

Di Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengumumkan program besar untuk memperkuat keamanan wilayah utara yang berbatasan dengan Lebanon.

Pemerintah Israel disebut mengalokasikan dana sekitar 20 miliar dolar AS untuk memperkuat pertahanan dan pembangunan ekonomi di kawasan tersebut.

Namun, Netanyahu juga menghadapi tekanan politik dari dalam negeri.

Sejumlah pengamat menilai langkahnya memperluas operasi militer di Lebanon berpotensi mengganggu upaya diplomasi yang sedang dilakukan AS dengan Iran.

Baca juga: Trump Murka ke Netanyahu: Semua Orang Membencimu Sekarang, Semua Orang Membenci Israel

Korban Berjatuhan di Lebanon

Di Lebanon, konflik antara Israel dan Hizbullah masih terus berlangsung.

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya lima orang tewas, termasuk seorang anak-anak, akibat serangan Israel di sejumlah wilayah selatan Lebanon.

Sebanyak 45 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.

Selain serangan udara, pasukan Israel juga melancarkan tembakan artileri ke beberapa daerah perbatasan.

Hizbullah mengaku telah melakukan 13 operasi militer pada hari yang sama dengan menargetkan pasukan, kendaraan tempur, dan pos komando Israel di Lebanon selatan.

Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun negosiasi damai masih berlangsung, konflik di lapangan terus memanas dan berpotensi memperluas krisis keamanan di kawasan Timur Tengah.

Baca juga: Pejabat Militer Iran Peringatkan Perang dengan AS Tak Terhindarkan di Tengah Kebuntuan Negosiasi

(Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved