Rabu, 10 Juni 2026

Info Haji Aceh

Banyak Jamaah Haji Bermasalah, Syarat Kesehatan Diperketat pada 2027

Dalam pelaksanaan haji 2026 ditemukan banyak jamaah Indonesia, termasuk dari Aceh, bermasalah dalam aspek kesehatan.

Tayang:
Editor: mufti
for serambinews
MELAPORKAN DARI MEKKAH - Kontributor Serambi Indonesia, Hasan Basri M Nur, melaporkan suasana haji dan kegiatan jamaah haji Aceh dari Mekkah, Arab Saudi. 

Laporan Hasan Basri M Nur dari Makkah

Dalam pelaksanaan haji 2026 ditemukan banyak jamaah Indonesia, termasuk dari Aceh, bermasalah dalam aspek kesehatan. Aspek kesehatan meliputi fisik (jasmani) dan kejiwaan (rohani). Untuk itu, mulai tahun 2027 akan diperkuat dan diperketat persyaratan istita’ah (kemampuan) calon jamaah haji.

Wacana tersebut mengemuka dalam pertemuan ulama Aceh dengan pihak Kementerian Haji dan Umrah di Daerah Kerja (Daker) Makkah, Selasa (9/6/2026). Dari Aceh hadir Imam Masjid Raya Baiturrahman Abu Paya Pasi, Kepala Baitul Mal Aceh Muhammad Yunus (Abon Yunus), dan Syeh Jamaluddin Asyi. Sementara dari Kemenhaj hadir Sekretaris Dirjen Pelayanan Haji Dr Abdul Haris, Kepala Daker Makkah Ihsan Faisal, dan Inspektur Wilayah III Mulyadi Nurdin Lc MH.

Dr Abdul Haris mengatakan, pihak Kemenhaj akan memperkuat dan memperketat persyaratan istita’ah bagi calon jamaah haji mulai tahun depan. Penguatan dilakukan mulai sosialisasi, pemantapan petugas kesehatan dan screening akhir saat masuk asrama haji. “Kalau banyak yang bermasalah dari aspek kesehatan, kita ditegur oleh Kementerian Haji dan Wakaf Saudi Arabia,” ujarnya.

Sementara Abu Paya Pasi mengatakan, orang yang tidak kuat fisik dan bermasalah secara mental seperti demensia (sering lupa) adalah kelompok manusia yang tidak diwajibkan berhaji. Abu Paya Pasi meminta adanya kesadaran dari calon jamaah dan keluarga untuk tidak memaksakan diri berhaji. Dalam kondisi seperti itu, lebih baik digantikan oleh anggota keluarga yang memenuhi syarat istita’ah.

Abon Yunus menceritakan, terdapat beberapa jamaah haji yang sudah uzur dan mengalami demensia (Aceh: jawai). Di antara mereka ada yang meminta pulang kampung karena ingat ternak, tidak mampu menggunakan fasilitas MCK, mengutak-atik koper milik kawan sekamar, bahkan ada yang mengajak berkelahi karena tekanan mental. Keadaan seperti ini sangat mengganggu jamaah lain yang fokus untuk beribadah di tanah suci.

Mengantipasi kecolongan dari jamaah tidak memenuhi syarat kesehatan, Syeh Jamal mengusulkan agar ke depan pemeriksaan kesehatan calon jamaah dapat dilakukan di klinik haji (bukan Puskesmas) serta kontrol kesehatan calon jamaah dilakukan sejak 2 tahun prakeberangkatan. “Selanjutnya calon jamaah yang sehat diminta untuk menjaga kesehatan. Sedangkan calon jamaah yang sakit agar diobati secara teratur sampai memenuhi syarat,” ujar Syeh Jamal yang menjadi penghubung Wakaf Habib Bugak Asyi dengan pemerintah Aceh.

Aspek kesehatan patut menjadi perhatian utama dari calon jamaah haji. Pelaksanaan ibadah haji memerlukan kesehatan fisik dan mental. Puncak kekuatan fisik dan mental dibutuhkan saat wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah dan Mina. Khusus di Mina, jamaah berjalan kaki ke tempat melontar jumrah sejauh 8 KM (PP) selama 4 hari berturut-turut dan di bawah suhu matahari 42-46 derajat celcius. Di Arafah dan Mina jamaah tinggal di bawah tenda yang berdesakan.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved