Jumat, 5 Juni 2026

Pojok Humam Hamid

Jokowi, PSI, dan “Kerajaan Modern” Politik Indonesia: Pelajaran dari India dan Singapura

Kaesang dijadikan sebagai magnet loyalitas generasi baru, dengan Jokowi bertindak sebagai penjaga gravitasi

Tayang:
Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/HANDOVER
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Ahmad Humam Hamid*) 

Di tengah kondisi kesehatan yang kurang prima, Jokowi tetap hadir di Rakernas PSI di Makassar awal 2026. 

Banyak yang bertanya-tanya: kebetulan atau aneh? 

Jawabannya sederhana: sama sekali tidak. 

Kehadiran Jokowi bukan sekadar simbolik; ia menunjukkan bagaimana politik Indonesia pasca-reformasi sedang berevolusi menjadi apa yang bisa disebut sebagai “kerajaan modern”. 

Partai tampil kosmopolitan dan modern, namun secara struktural tetap mengikuti hukum klasik: figur tunggal sebagai matahari, loyalitas kader sebagai orbit, dan struktur partai sebagai gravitasi yang menjaga semuanya tetap bergerak. 

PSI, meski masih muda, menjadi laboratorium generasi baru. 

Kaesang Pangarep telah diupayakan untuk menjelma menjadi magnet loyalitas, sementara konfigurasi politik menuju 2030 menunjukkan bahwa kerajaan modern Indonesia bersifat adaptif, lintas generasi, dan lentur terhadap perubahan.

Baca juga: Jokowi Siap Bekerja Mati-Matian Demi PSI, Beri Kode Target Besar di Pemilu 2029

Dari India Hingga Singapura

Fenomena “matahari tunggal” ini bukan monopoli Indonesia. 

Di India, Indira Gandhi mewarisi basis politik ayahnya, Jawaharlal Nehru. 

Partai Kongres menjadikan figur tunggal sebagai pusat kekuasaan; loyalitas kader dan legitimasi politik diikat pada nama besar Nehru-Gandhi. 

Namun warisan itu tidak berdiri di ruang kosong. Indira Gandhi memiliki latar pendidikan elite: belajar di Shantiniketan, sebuah pusat pendidikan humaniora dan kebudayaan yang didirikan Rabindranath Tagore dan dikenal sebagai kawah candradimuka intelektual India modern, kemudian menimba ilmu politik dan filsafat di Eropa, serta kuliah di Oxford. 

Ia menghadapi ujian kepemimpinan nyata: krisis pangan, nasionalisasi perbankan, industrialisasi, hingga perang regional, yang mengukuhkan legitimasinya bukan hanya sebagai pewaris, tetapi sebagai pemimpin yang ditempa oleh krisis nasional.

Singapura menunjukkan pola serupa, tetapi dengan disiplin meritokrasi yang jauh lebih ketat. 

Lee Hsien Loong menapaki jalur politik di bawah bayang-bayang Lee Kuan Yew, namun ia diuji habis-habisan. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved