Kamis, 23 April 2026

Pojok Humam Hamid

37 Tahun Serambi Indonesia: Apakah Obituari Itu Sudah Perlu Ditulis?

Sejak pertama kali terbit pada 9 Februari 1989, Serambi Indonesia telah tumbuh menjadi sumber informasi terpercaya yang setia...

|
Editor: Subur Dani
Anadolu Agency
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Oleh Ahmad Humam Hamid*)

Setiap tanggal 9 Februari, Harian Serambi Indonesia merayakan ulang taun, momen penting untuk mengenang perjalanan media yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Aceh.

Sejak pertama kali terbit pada 9 Februari 1989, Serambi Indonesia telah tumbuh menjadi sumber informasi terpercaya yang setia menyuarakan berita lokal dan nasional.

Baca juga: APBA 2026: Layakkah Aceh Menjadi “Juara Terburuk” Musabaqah Pengelola APBD Nasional?

Perayaan ulang tahun ini tidak hanya menandai usia media, tetapi juga mengajak kita menghargai dedikasi jurnalis dalam menghadirkan informasi yang akurat dan bermanfaat bagi pembaca.

Tiga puluh tujuh tahun adalah usia yang ambigu bagi sebuah media. Tidak muda, tapi belum sepenuhnya tua. Cukup lama untuk membangun reputasi, cukup panjang untuk menciptakan kebiasaan, dan cukup rawan untuk terjebak dalam kenyamanan. Beberapa hari lalu, Serambi Indonesia genap berusia 37 tahun.

Baca juga: 79 Tahun HMI: Masih Relevankah Sintesis Islam dan Nasionalisme?

Sebuah usia yang, dalam logika manusia, sering disebut “usia matang”. Namun dalam logika media cetak global, usia ini justru berada di wilayah paling rapuh.

Di titik inilah pertanyaan yang tidak enak mulai mengemuka, bukan sebagai provokasi murahan, melainkan sebagai dilema eksistensial: apakah sudah saatnya menulis obituari untuk Serambi Indonesia, atau justru menunda pena karena masih ada bab yang belum selesai?

Serambi Indonesia lahir bukan di ruang hampa. Ia tumbuh di Aceh yang sedang mencari bentuk, di tengah konflik bersenjata, ketegangan identitas, dan negara yang sering hadir sebagai bayangan represif.

Dalam konteks itu, Serambi bukan sekadar koran harian. Ia menjelma institusi sosial. Di banyak rumah, koran ini menjadi penanda pagi. Di warung kopi, ia menjadi bahan debat.

Di kantor-kantor pemerintah, ia menjadi rujukan resmi sekaligus pengingat bahwa publik sedang mengamati. Dalam masyarakat yang lama hidup dengan rasa curiga, kehadiran media yang relatif stabil adalah bentuk normalitas yang mahal.

Jika media cetak global memasuki senja karena algoritma dan disrupsi digital, Serambi mengalami penuaan yang lebih kompleks. Ia menua bersamaan dengan perubahan sosial Aceh itu sendiri.

Tiga Generasi

Pembaca setianya adalah generasi yang tumbuh bersama konflik, tsunami, dan rekonstruksi. Generasi yang masih percaya bahwa berita perlu dibaca perlahan, dilipat, dan disimpan.

Sementara generasi baru Aceh lahir langsung ke dunia WhatsApp, Facebook, dan TikTok, tanpa pernah menjadikan koran sebagai ritual. Ini bukan kesalahan siapa pun. Ini logika zaman yang bergerak tanpa nostalgia.

Dalam lanskap global, kematian media cetak sering datang dramatis. Mesin cetak dimatikan, edisi terakhir dicetak, editor menulis surat perpisahan.

The Independent di Inggris menutup edisi cetaknya dengan elegi sunyi; The New York Times dan The Washington Post masih hidup, tetapi tubuhnya telah berpindah hampir sepenuhnya ke layar digital, menjadikan koran cetak lebih sebagai simbol prestise daripada denyut utama.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved