Kupi Beungoh
Saree di Persimpangan Jalan: Akankah UMKM Tergilas Roda Tol Sibanceh?
Selama puluhan tahun, wilayah ini bukan sekadar jalur yang dilewati, melainkan destinasi singgah wajib bagi siapa pun yang melakukan perjalanan...
Oleh:
Liza Maulida, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia USK
SERAMBINEWS.COM - Kawasan Saree selama ini telah mengukuhkan diri sebagai titik nadi utama dalam urat nadi lintas nasional Banda Aceh-Medan. Selama puluhan tahun, wilayah ini bukan sekadar jalur yang dilewati, melainkan destinasi singgah wajib bagi siapa pun yang melakukan perjalanan darat di Aceh. Namun, pemandangan yang kita lihat hari ini mulai menunjukkan wajah baru yang sunyi.
Suasana Saree yang biasanya akrab dengan aroma jagung rebus dan deretan keripik khas, perlahan berubah dari hiruk-pikuk yang dinamis menjadi kesunyian yang mencemaskan bagi para pedagang lokal. Perubahan drastis ini merupakan konsekuensi langsung dari beroperasinya Jalan Tol Banda Aceh-Sigli (Sibanceh) yang kerap dipandang sebagai simbol kemajuan zaman.
Di satu sisi, kehadiran jalan tol memang merupakan kemajuan infrastruktur yang patut diapresiasi. Kehadiran aspal mulus ini menjanjikan efisiensi waktu yang signifikan, kelancaran mobilitas logistik, hingga percepatan pertumbuhan ekonomi secara makro yang selama ini menjadi impian pembangunan daerah. Namun, di balik kecepatan itu, tersimpan kekhawatiran besar bagi para pelaku UMKM di jalur lama.
Masalah utama muncul ketika arus kendaraan yang dulunya memadati jalan nasional kini berpindah ke lintasan bebas hambatan. Hal ini membawa tantangan nyata yang tidak bisa dianggap remeh bagi eksistensi UMKM di Saree. Ketika mayoritas pelintas lebih memilih jalur tol demi mengejar waktu, geliat ekonomi di jalur konvensional otomatis meredup.
Saree yang dulu hidup dari uang yang berputar dari saku para pelancong, kini harus berhadapan dengan sepinya transaksi harian. Para pedagang keripik yang dulu menyambut ribuan pelanggan setiap harinya, kini harus berjuang ekstra keras hanya untuk mendapatkan segelintir pembeli. Fenomena ini sangat memprihatinkan karena menyentuh langsung sumber penghidupan masyarakat bawah.
Inilah risiko "tergilas" yang saya maksud: sebuah situasi di mana para pelaku ekonomi kecil tertinggal di jalur lama yang mulai terlupakan. Sementara itu, potensi ekonomi yang besar melaju kencang di jalur tol tanpa sempat melirik ke arah pinggir jalan lama. Jika tidak ada langkah mitigasi yang serius, kemajuan ini justru akan meminggirkan mereka yang sudah lama bertahan.
Secara sosiologis, fenomena ini menjadi pengingat penting bagi pemerintah dan kita semua. Kita harus sadar bahwa kemajuan infrastruktur yang megah seharusnya tidak dibayar dengan harga matinya ekonomi rakyat kecil. Pembangunan fisik tidak boleh mengesampingkan aspek kesejahteraan sosial dan keberlanjutan ekonomi kerakyatan.
Jangan sampai atas nama efisiensi, kita melupakan mereka yang telah puluhan tahun menghidupkan ekonomi di sepanjang lintas nasional. Mereka adalah bagian dari sejarah perjalanan Aceh yang tidak boleh dihapus begitu saja oleh roda modernisasi. Membiarkan mereka tanpa solusi sama saja dengan membiarkan pilar ekonomi lokal runtuh secara perlahan.
Oleh karena itu, diperlukan strategi pemberdayaan yang nyata dan terencana. Salah satu langkah konkret yang bisa diambil adalah penyediaan ruang usaha khusus bagi UMKM lokal di rest area jalan tol. Hal ini penting agar produk lokal Saree tetap memiliki panggung untuk bertemu dengan konsumennya yang berpindah jalur.
Kebijakan ini harus ditekankan agar identitas kuliner lokal tidak hilang ditelan merek-merek besar. Tanpa adanya intervensi dari pemerintah, sulit bagi pedagang tradisional untuk bersaing secara modal dan manajemen dengan waralaba modern di area peristirahatan tol. Keberpihakan politik anggaran dan kebijakan sangat dibutuhkan di sini.
Baca juga: VIDEO - Jalan Tol Hingga Sepinya Saree, Ketika UMKM Tertinggal di Jalur Lama
Selain itu, promosi wisata kuliner Saree harus digencarkan dengan cara-cara yang lebih inovatif. Saree tidak boleh lagi dianggap hanya sebagai tempat lewat, melainkan sebagai destinasi wisata yang unik. Branding Saree sebagai pusat jajanan tradisional harus diperkuat kembali agar orang tetap merasa rugi jika tidak singgah ke sana.
Dukungan pemerintah dalam hal promosi ini bisa dilakukan melalui kampanye digital maupun pemasangan papan informasi yang menarik di pintu-pintu keluar tol. Kita harus menciptakan alasan baru bagi pelancong untuk mau keluar sejenak dari jalan tol demi menikmati cita rasa khas Saree yang autentik.
Pemberian pelatihan inovasi produk juga sangat krusial bagi para pedagang agar mereka tidak tergilas oleh zaman. Diversifikasi kemasan dan pemanfaatan teknologi pemasaran digital bisa menjadi jalan keluar agar mereka tidak hanya bergantung pada pelintas jalan raya, tetapi bisa menjangkau pasar yang lebih luas di luar wilayah Saree.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Liza-Maulida-adalah-Mahasiswa-Pendidikan-Bahasa-Indonesia-USK.jpg)