Kupi Beungoh
Baby Blues: Ancaman Nyata bagi Kesehatan Mental Ibu
Sebagai perawat muda yang bekerja di ruang rawat kebidanan, saya hampir setiap hari menyaksikan dua sisi dari proses persalinan...
4. Hindari komentar yang menyakitkan
Ucapan seperti “ASI kok sedikit?” atau “Kenapa rumah berantakan?” bisa sangat melukai ibu yang sedang rapuh.
5. Beri apresiasi sederhana
Katakan, “Kamu hebat,” “Terima kasih sudah berjuang,” atau “Kamu ibu yang baik.” Kalimat sederhana bisa menjadi penguat besar.
6. Segera cari bantuan profesional jika gejala menetap
Jika ibu terus sedih, sering menangis, menarik diri, atau kehilangan semangat lebih dari dua minggu, segera konsultasikan ke tenaga kesehatan.
Sebagai perawat muda, saya sering merasa masyarakat masih terlalu sibuk menyambut bayi, tetapi lupa merawat ibunya. Padahal ibu yang sehat secara fisik dan mental adalah fondasi utama tumbuh kembang anak. Kita tidak bisa menuntut bayi bahagia jika ibunya tenggelam dalam kesedihan yang tidak tertangani.
Melahirkan bukan hanya tentang lahirnya seorang anak, tetapi juga lahirnya seorang ibu. Dan ibu baru itu membutuhkan waktu, dukungan, serta kasih sayang untuk beradaptasi. Jangan tunggu sampai baby blues berubah menjadi depresi baru kita peduli. Perhatikan sejak awal, temani sejak awal, dan bantu sejak awal. Karena ketika ibu merasa didukung, ia akan lebih kuat menjalani peran barunya. Dan ketika ibu sehat, keluarga pun ikut sehat.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Ns-Zafira-Nabilah-SKep-Edukator-Kesehatan-Gen-A-2026.jpg)