Kamis, 23 April 2026

Ramadhan 2026

Sering Langsung Tarawih Setelah Isya? Buya Yahya Ingatkan Shalat Ba’diyah Isya Jangan Terlewat

Buya Yahya mengingatkan agar umat Islam tidak melupakan shalat sunah ba’diyah Isya sebelum melaksanakan tarawih.

Penulis: Firdha Ustin | Editor: Nur Nihayati
Tangkapan layar/YouTube Al Bahjah
Pendakwah Buya Yahya mengingatkan umat Islam agar mengerjakan shalat ba'diyah Isya sebelum melaksanakan shalat tarawih. 

SERAMBINEWS.COM – Di bulan Ramadhan, umat Islam berbondong-bondong memakmurkan masjid dengan melaksanakan shalat tarawih.

Namun, masih banyak jamaah yang langsung mengikuti shalat tarawih setelah shalat Isya tanpa terlebih dahulu menunaikan shalat sunah ba’diyah Isya.

Dalam sebuah kajian, Buya Yahya mengingatkan agar umat Islam tidak melupakan shalat sunah ba’diyah Isya sebelum melaksanakan tarawih.

Menurutnya, shalat ba’diyah Isya merupakan shalat sunah yang sangat dianjurkan sehingga sebaiknya didahulukan sebelum melaksanakan salat tarawih.

“Shalat sunah ba’diyah Isya sangat dikuatkan. Jadi jangan sampai lupa. Dahulukan shalat ba’diyah Isya baru kemudian salat tarawih,” ujar Buya Yahya, dikutip dari YouTube Al Bahjah TV, Jumat (13/3/2026).

Ia menjelaskan, kedudukan shalat tarawih berada di bawah shalat sunah ba’diyah Isya, sehingga sebaiknya umat Islam tidak melewatkannya.

Baca juga: Hati Masih Kotor, Apakah Amal Tetap Diterima? Ini Penjelasan Buya Yahya

Meski demikian, jika seseorang terlanjur mengikuti shalat tarawih berjamaah tanpa melaksanakan ba’diyah Isya terlebih dahulu, shalat sunah tersebut tetap bisa dikerjakan setelahnya.

Hal itu karena waktu pelaksanaan shalat sunah ba’diyah Isya masih terbentang panjang hingga menjelang waktu Subuh.

“Kalaupun ba’diyah Isyanya nanti malam setelah tarawih juga tidak apa-apa, karena waktunya masih panjang sampai sebelum Subuh,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Buya Yahya juga menyinggung fenomena pelaksanaan shalat tarawih di masyarakat yang kerap berbeda-beda, ada yang dilakukan dengan bacaan panjang dan ada pula yang lebih singkat.

Menurutnya, perbedaan tersebut pada dasarnya tidak menjadi masalah selama bacaan dan gerakan salat tetap dilakukan dengan baik dan memenuhi syarat seperti tumakninah serta menjaga kejelasan bacaan Al-Qur’an.

Buya Yahya menegaskan, yang terpenting adalah tidak melaksanakan salat dengan tergesa-gesa hingga merusak bacaan.

Baca juga: Dilarang Puasa oleh Mandor, Bolehkah Berbohong Demi Ibadah? Ini Jawaban Buya Yahya

“Yang penting bacaan normal, gerakan normal, tumakninah lengkap. Jangan sampai terlalu cepat sampai merusak bacaan,” ujarnya.

Ia pun mengingatkan agar umat Islam tetap menjaga kualitas ibadah selama Ramadan, termasuk dengan tidak melupakan salat-salat sunah yang sangat dianjurkan seperti ba’diyah Isya sebelum menunaikan salat tarawih.

Apakah Dosa Kita Sudah Diampuni di Bulan Ramadhan? Ini Tanda yang Dijelaskan Buya Yahya

Banyak umat Islam berharap dosa-dosanya diampuni setelah menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Namun, apakah ada tanda bahwa dosa tersebut benar-benar telah diampuni oleh Allah SWT?

Pertanyaan ini dijawab oleh ulama pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah Al Bahjah, Buya Yahya, dalam sebuah kajian yang tayang di kanal YouTube Al Bahjah TV pada Kamis (12/3/2025).

Dalam penjelasannya, Buya Yahya menyebutkan bahwa manusia sebenarnya tidak dapat mengetahui secara pasti apakah dosa-dosanya telah diampuni atau belum.

“Pengampunan dosa kita tidak tahu. Kita tidak tahu apakah dosa kita sudah diampuni atau belum,” ujar Buya Yahya dalam kajian tersebut.

Meski demikian, Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk selalu memohon ampun kepada Allah dengan penuh keyakinan dan prasangka baik.

Menurut Buya Yahya, salah satu tanda seseorang diampuni dosanya adalah munculnya husnuzan atau prasangka baik kepada Allah setelah ia berusaha menjalankan amal saleh.

“Kalau kita memohon kepada Allah penuh keyakinan dan husnuzan bahwa Allah mengampuni, maka itulah tanda harapan pengampunan,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa husnuzan tidak bisa muncul tanpa dasar amal kebaikan yang telah dilakukan seseorang.

“Husnuzan tanpa dasar tidak ada. Beramal baik tidak, lalu bagaimana bisa husnuzan?” kata Buya Yahya.

Selain itu, para ulama juga menjelaskan bahwa tanda amal seseorang diterima oleh Allah dapat terlihat dari perubahan sikap setelah menjalani ibadah besar seperti Ramadan, haji, maupun umrah.

Buya Yahya menjelaskan, perubahan tersebut bisa terlihat ketika seseorang keluar dari bulan Ramadhan dan memasuki bulan Syawal.

Jika perilakunya menjadi lebih baik dibandingkan sebelum Ramadhan, maka itu bisa menjadi tanda bahwa ibadahnya diterima.

“Jika di bulan Syawal nanti lebih bagus daripada sebelum Ramadhan, walaupun tidak akan sekuat Ramadhan, tetapi aroma Ramadhan masih ada,” ujarnya.

Ia mencontohkan perubahan kecil yang menunjukkan perbaikan diri, misalnya berkurangnya kebiasaan buruk seperti menggunjing orang lain.

“Mungkin dulu gunjing sehari sampai empat kali, sekarang jadi sekali. Artinya sudah ada perubahan,” katanya.

Menurut Buya Yahya, perubahan menuju kebaikan itulah yang bisa menjadi tanda bahwa seseorang mendapatkan keberkahan Ramadan dan diampuni dosanya oleh Allah SWT.

“Kalau tampak pada dirinya ada perubahan menjadi lebih bagus, itu tanda bahwa Ramadan yang dia jalani diterima dan diampuni oleh Allah,” tegasnya.

Ia pun mengingatkan umat Islam agar terus menjaga amal baik setelah Ramadan serta tetap berprasangka baik kepada Allah atas ibadah yang telah dilakukan.

“Beramal di bulan Ramadan, kemudian berprasangka baik kepada Allah, lalu setelah Ramadan ada perubahan menjadi lebih baik. Itu tanda diampuni oleh Allah,” pungkas Buya Yahya. (Serambinews.com/Firdha)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved