Bencana Banjir Aceh
VIDEO - Jeritan Warga Usai Banjir Besar & Longsor: Air, Gas, hingga Minyak Sangat Susah Didapatkan
Ratusan kendaraan roda dua dan roda empat mengular di SPBU Cot Gapu Bireuen, dengan antrean yang membentang lebih dari 500 meter.
Penulis: Yusmandin Idris | Editor: Khusna Maulidia
Laporan Yusmandin Idris I Bireuen
SERAMBINEWS.COM, BIREUEN- Musibah banjir bandang di Bireuen telah menimbulkan dampak besar yang meluas, jauh melampaui kerusakan fisik seperti putusnya jembatan dan tenggelamnya rumah. Kini, masyarakat menghadapi kesulitan serius dalam mendapatkan kebutuhan sehari-hari, di mana untuk mengisi bahan bakar kendaraan, warga harus menjalani antrean panjang yang ekstrem. Amatan di lapangan menunjukkan ratusan kendaraan roda dua dan roda empat mengular di SPBU Cot Gapu Bireuen, dengan antrean yang membentang lebih dari 500 meter, mulai dari depan SMAN 2 Bireuen hingga ke lokasi SPBU. Antrean serupa juga terlihat di SPBU Juli Bireuen. Para pengendara bahkan harus bertahan dan mengantre selama hampir delapan jam. Rusli, seorang warga Bireuen, mengaku terpaksa ikut antrean karena isi tangki motornya sudah sangat sedikit, meskipun ia tidak memiliki kepastian ketersediaan minyak, bahkan setelah mengantre sejak pukul 15.00 WIB. Senada dengannya, Tarmizi, warga Blang Rheum, Kota Juang, yang membawa Carry pikap, juga sudah mengantre sejak jam 15.00 sore tanpa mengetahui apakah minyak akan tersedia.
Selain masalah BBM, krisis air bersih juga melanda wilayah tersebut. Pasokan air melalui PDAM Krueng Peusangan terhenti sejak Rabu (27/11/2025), bersamaan dengan terjadinya banjir bandang, dan hingga Sabtu (29/11/2025) belum kembali normal. Kondisi ini memaksa banyak warga untuk mencari air ke rumah atau meunasah yang kebetulan memiliki generator set, meskipun sebagian besar tetap mengandalkan jaringan PDAM. Serambinews.com sempat berupaya menghubungi karyawan PDAM untuk memastikan penyebab terhentinya air, namun belum berhasil memperoleh informasi resmi. Informasi yang berkembang di masyarakat menyebutkan bahwa lokasi tempat pengambilan atau alat pengisap air di kawasan Teupin Mane diduga ambruk akibat bencana banjir bandang.
Untuk melengkapi daftar kesulitan, masyarakat juga dihadapkan pada kelangkaan gas elpiji. Gas melon ukuran 3 kilogram (kg) menjadi sulit didapatkan, termasuk juga gas ukuran 12 kg. Dampak ganda dari kesulitan ini dialami oleh Hasballah, seorang pemilik warung kopi di Cot Gapu, yang terpaksa menutup usahanya. Ia menjelaskan, penutupan warung itu disebabkan oleh dua masalah utama: kesulitan mendapatkan air bersih karena PDAM mati, dan ketiadaan gas untuk memasak.
Baca juga: Ombudsman RI: Banjir Bandang Sumatera Harus Dianggap Bencana Nasional, Serukan Pertobatan Nasional