Jumat, 24 April 2026

Video

VIDEO Kisah Warga Matang Ara Aceh Tamiang Lari Ke Bukit Selamatkan Diri, Air Setinggi Kubah Masjid

Selama beberapa hari mereka harus bertahan di bukit tinggi karena sudah terkepung air, tidak ada akses jalan menuju ke tempat lain.

Penulis: Zubir | Editor: T Nasharul

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Zubir | Aceh Tamiang 


SERAMBINEWS.COM, ACEH TAMIANG -- Banyak kisah pilu dan mengerikan yang dialami masyarakat di wilayah Aceh Tamiang, saat bencana banjir besar dan angin kencang melanda daerah tersebut di tanggal 26 November 2025 lalu.

Menurut cerita warga pedalaman Desa Matang Ara, Kecamatan Bandar Pusaka ini, saat banjir air dengan ketinggian mencapai 10 meter lebih atau sebatas kubah masjid merendam desa tersebut.

Ketika air sungai terus meninggi, banyak warga memilih tak tidur untuk terus mengamati air disaat hujan dan angin masih melanda daerah tersebut. 

Hingga akhirnya, pagi tanggal 26 Desember 2025 itu air mulai merendam desa ini, mereka memilih menaiki bukti di sekitar Desa Matang Ara untuk berlindung guna mengantisipasi air akan meninggi.

Selama beberapa hari mereka harus bertahan di bukit tinggi karena sudah terkepung air, tidak ada akses jalan menuju ke tempat lain.

Barulah 2 hari kemudian air pun surut mereka turun dari bukit, namun melihat banyak rumah mereka yang telah hanyut dan rusak parah, bahkan berapa tiang listrik tumbang ke jalan.

Baca juga: Sembako Tak Tembus Pedalaman Aceh Tamiang, Vilmei: Warga Bawa Tombak dan Rela Nyamar Jadi Wanita

Usai banjir, stok makanan untuk bertahan hidup juga mulai menipis dan bahan makanan pokok susah mereka dapatkan.

Sedangkan bantuan logistik dari perkotaan Aceh Tamiang memang cukup sulit bisa masuk ke sana, karena akses jalan rusak yang dipenuhi lumpur tebal hampir setengah meter tidak bisa dilalui kendaraan.

Mereka mengaku hingga kini baru 2 kali mereka mendapatkan bantuan makanan dan mereka tidak tau asalnya dari mana, karena bagi mereka makanan untuk anak-anak yang penting ada.

Belum lagi susahnya mereka mendapatkan air bersih. 

Sedangkan air untuk mandi atau bersih-bersih selama ini mereka harus menggunakan air mengendap yang bercampur lumpur.

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved