Minggu, 26 April 2026

Video

VIDEO - Musuh Besar AS, Iran Bergejolak: Internet Mati Total, Demonstrasi Massal Pecah

Dilaporkan sedikitnya 21 orang tewas sejak demonstrasi pecah, termasuk di antaranya personel keamanan.

SERAMBINEWS.COM – Iran kembali berada dalam sorotan internasional setelah gelombang unjuk rasa berskala nasional mengguncang sejumlah kota besar. Situasi kian memanas ketika akses internet dilaporkan lumpuh hampir total, memicu dugaan bahwa pemerintah berupaya menutup arus informasi di tengah eskalasi krisis domestik yang juga dibumbui tudingan campur tangan Amerika Serikat.

Lembaga pemantau konektivitas global, NetBlocks, mencatat terjadinya pemadaman internet luas di Iran bersamaan dengan meluasnya aksi demonstrasi yang dipicu tekanan ekonomi. Dalam pernyataan yang diunggah Kamis (8/1/2026), NetBlocks menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari peningkatan pembatasan digital yang dinilai menghambat hak publik untuk berkomunikasi di saat genting.

Pemutusan jaringan ini membuat informasi dari dalam negeri Iran semakin sulit diakses, sekaligus memperbesar kekhawatiran dunia internasional terhadap cara otoritas menangani krisis sosial yang terus memburuk.

Baca juga: VIDEO - Iran Tegaskan Siap Membalas Jika Diserang, Abbas Araghchi Peringatkan AS dan Israel

Aksi protes dilaporkan telah berlangsung sejak penghujung Desember lalu. Lonjakan harga kebutuhan pokok, melemahnya mata uang nasional, serta tekanan ekonomi berkepanjangan memicu kemarahan publik. Bentrokan antara massa dan aparat keamanan pun tak terhindarkan, dengan laporan korban jiwa terus bertambah.

Berdasarkan perhitungan kantor berita AFP dari berbagai sumber resmi dan media lokal, sedikitnya 21 orang tewas sejak demonstrasi pecah, termasuk di antaranya personel keamanan.

Laporan Al Jazeera dari Teheran menyebut ribuan warga turun ke jalan di berbagai titik ibu kota pada Kamis malam. Aksi dimulai sekitar pukul 20.00 waktu setempat dan berlangsung hingga larut malam, menandai salah satu unjuk rasa terbesar dalam beberapa bulan terakhir.

Di tengah situasi yang membara, perbedaan pandangan muncul di jajaran elite Iran. Presiden Masoud Pezeshkian menyerukan aparat keamanan agar menahan diri dan tidak memperkeruh keadaan dalam menghadapi demonstran.

Namun, nada berbeda disampaikan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Ia menegaskan bahwa pihak-pihak yang dianggap membuat kekacauan harus ditindak tegas dan “ditempatkan pada tempatnya”.

Baca juga: Senator AS: Trump akan Bunuh Khamenei jika Rezim Iran terus Bunuh Demonstran

Sikap keras juga disuarakan Ketua Mahkamah Agung Iran, Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, yang secara terbuka menuding para pengunjuk rasa bertindak sejalan dengan kepentingan Amerika Serikat dan Israel. Ia menegaskan tidak akan ada toleransi terhadap pihak yang dinilai menciptakan instabilitas nasional.

Menurut Mohseni-Ejei, aksi-aksi tersebut tidak lagi murni bersifat domestik, melainkan telah bergerak seiring dengan agenda musuh-musuh Republik Islam Iran.

Iran sendiri memiliki catatan panjang gelombang demonstrasi besar. Pada 2022 dan 2023, negara itu diguncang protes masif menyusul kematian Mahsa Amini, perempuan muda yang meninggal dalam tahanan setelah ditangkap karena dugaan pelanggaran aturan berpakaian.

Dalam gelombang protes terbaru ini, kelompok pembela hak asasi manusia kembali menyoroti tindakan aparat. Amnesty International menuding pasukan keamanan melakukan penangkapan sewenang-wenang, termasuk mengejar demonstran yang terluka hingga ke fasilitas medis.

Amnesty melaporkan bahwa aparat bersenjata memasuki Rumah Sakit Imam Khomeini di Ilam, Iran barat, dengan menembakkan gas air mata, merusak pintu, dan mengintimidasi pasien serta tenaga kesehatan.

Organisasi tersebut mendesak pemerintah Iran untuk menghentikan penggunaan kekerasan berlebihan, menjamin akses perawatan medis bagi korban luka, serta menghormati netralitas dan keselamatan fasilitas kesehatan di tengah krisis yang terus membayangi negeri yang selama ini dikenal sebagai salah satu musuh utama Amerika Serikat.(*)

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved