Sabtu, 25 April 2026

Video

VIDEO - Detik-detik Saif, Anak Muammar Khadafi, Tewas Usai Rumahnya Diserbu Pria Bertopeng

Lahir di Tripoli pada Juni 1972, Saif Al Islam dikenal sebagai sosok terpelajar dan fasih berbahasa Inggris.

SERAMBINEWS.COM - Seif Al Islam Khadafi, putra dari mantan pemimpin Libya Muammar Khadafi, tewas dibunuh di kediamannya di Kota Zintan, Libya barat, Selasa (3/2/2026) siang. Kabar ini disampaikan oleh pengacaranya asal Perancis.

Kabar kematian pria berusia 53 tahun itu diumumkan oleh pengacaranya, Khaled Al Zaidi, serta penasihat politiknya, Abdulla Othman, dalam unggahan terpisah di Facebook. Keduanya tidak menyampaikan rincian lebih lanjut terkait kejadian tersebut.

Media lokal Libya, Fawasel Media, mengutip keterangan Othman yang menyatakan bahwa Saif tewas dibunuh di rumahnya oleh kelompok bersenjata.

Pernyataan itu juga menyebutkan bahwa Saif sempat melakukan perlawanan terhadap para pelaku, yang terlebih dahulu mematikan kamera CCTV di rumahnya.

Sementara itu, klaim berbeda diutarakan saudara perempuan Saif. Dikutip dari BBC, ia menyebutkan bahwa Saif tewas di dekat perbatasan negara dengan Aljazair.

Menanggapi insiden tersebut, mantan kepala Dewan Negara Tinggi Libya yang berbasis di Tripoli, Khaled Al Mishri, menyerukan adanya penyelidikan mendesak dan transparan atas pembunuhan anak Muammar Khadafi.

Lahir di Tripoli pada Juni 1972, Saif Al Islam dikenal sebagai sosok terpelajar dan fasih berbahasa Inggris.

Ia pernah menempuh pendidikan di London School of Economics dan dianggap sebagai wajah moderat dari pemerintahan represif ayahnya.

Saif memainkan peran penting dalam memperbaiki hubungan Libya dengan negara-negara Barat, termasuk memimpin negosiasi pembatalan program senjata pemusnah massal dan pemberian kompensasi atas tragedi bom Pan Am Flight 103 di Lockerbie, Skotlandia, tahun 1988.

Saif juga sempat menyerukan reformasi, termasuk pembentukan konstitusi dan penghormatan terhadap hak asasi manusia, sehingga kerap dipandang sebagai calon reformis di mata internasional.

Namun, ketika gelombang pemberontakan Arab Spring melanda Libya pada 2011, Saif justru memilih bertahan bersama ayahnya dan menjadi salah satu arsitek penindasan terhadap oposisi. (*)

Host   : Siti Masyithah
Editor : Rahmat Erik Aulia

 

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved