Selasa, 9 Juni 2026

Video

VIDEO Mengenal Tradisi Sadranan di Lereng Merapi–Merbabu, Seperti Lebaran sebelum Ramadhan

Bagi masyarakat setempat, menjamu tamu bukan sekadar kewajiban, tetapi juga sebuah kehormatan

Tayang:

SERAMBINEWS.COM - Warga yang tinggal di lereng Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, tepatnya di Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, memiliki tradisi khas dalam menjaga silaturahmi dan merawat warisan budaya.

Selain merayakan Idul Fitri dan Idul Adha, masyarakat setempat juga menggelar tradisi Sadranan menjelang Bulan Ramadhan. Bahkan, kemeriahannya kerap disebut melampaui suasana Lebaran.

Pada tahun ini, Sadranan dilaksanakan Rabu (4/2/2026). Sejak pagi, suasana desa di kawasan Merapi–Merbabu tampak berbeda. Rumah-rumah warga tak pernah sepi. Pintu terbuka lebar, panci-panci besar tersusun di teras, sementara tamu datang bergantian hingga sore hari. Atmosfernya menyerupai hari raya.

Warga Boyolali bahkan kerap berseloroh bahwa dalam setahun terdapat “tiga kali Lebaran”, yakni saat Idul Fitri, Idul Adha, dan menjelang Ramadan pada Bulan Syakban atau Ruwah. Tradisi menjelang puasa inilah yang dikenal sebagai Sadranan, dan paling meriah digelar di sebagian besar wilayah Kecamatan Cepogo.

Baca juga: Polres Sabang Terjunkan Personel Amankan Tradisi Meugang 2026, Pastikan Warga Nyaman

Seperti momen Idul Fitri, banyak perantau yang pulang kampung. Tradisi saling berkunjung pun berlangsung hangat. Kerabat menyambangi keluarga, generasi muda mendatangi yang lebih tua, bahkan kenalan dari kenalan tetap disambut dengan tangan terbuka.

Ada aturan tak tertulis yang selalu dijaga: tamu bukan sekadar mencicipi hidangan ringan, melainkan juga harus menyantap nasi. Tuan rumah telah menyiapkan sajian istimewa sebagai bentuk penghormatan.

Bagi masyarakat setempat, menjamu tamu bukan sekadar kewajiban, tetapi juga sebuah kehormatan. Bahkan, tuan rumah merasa kurang nyaman apabila tamu pulang tanpa makan.

“Ya, saya sendiri tidak tahu persis kapan mulai. Tapi sejak bapak saya masih ada, tradisi ini sudah berjalan,” ujar Saeri, warga Cepogo, Rabu (4/2/2026).

“Kita cuma datang, ngobrol sebentar atau tanya kabar saja,” lanjutnya.

“Sadranan mengajarkan kita menghormati leluhur sekaligus menjaga hubungan antar keluarga dan tetangga.” pungkasnya.

Baca juga: Lestarikan Tradisi Meugang, Polda Aceh Bagi Ribuan Paket Daging

Rangkaian Sadranan diawali dengan kenduri di kompleks pemakaman. Warga berkumpul untuk mendoakan leluhur melalui tahlil dan doa bersama.

Tak hanya warga setempat, keluarga dari berbagai daerah yang memiliki hubungan darah maupun sejarah dengan wilayah tersebut turut hadir. Salah satu lokasi yang ramai diziarahi adalah makam di Puroloyo.

Area makam yang biasanya lengang berubah menjadi ruang pertemuan penuh makna, tempat kenangan dan kerinduan dipertemukan kembali. Usai doa bersama, tradisi silaturahmi berlanjut ke rumah-rumah warga.

Jalan desa dipenuhi kendaraan yang terparkir di tepi sawah, bawah pepohonan, hingga pintu gang sempit. Namun tidak ada keluhan. Kemacetan justru dianggap sebagai berkah.

Di setiap rumah, suasana hangat terus berulang. Tamu dipersilakan duduk, berbincang santai, lalu disuguhi hidangan. Tak ada agenda resmi maupun percakapan serius. Hanya saling bertanya kabar, senyum ramah, dan sendok yang akhirnya menyentuh nasi—sering kali setelah bujukan lembut dari tuan rumah.

Sumber: Tribun Solo
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved