Jumat, 10 April 2026

Video

VIDEO - Tempat Usaha Disapu Banjir, Bantuan tak Kunjung Cair

Dengan nada lirih, mantan komisioner KIP Aceh Tamiang ini memastikan tidak berdaya membangun unit usaha yang sudah dirintisnya sembilan tahun.

Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: m anshar

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang

SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG - Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Aceh Tamiang terancam gulung tikar pascabanjir bandang yang terjadi 26 November 2025.

Hantaman banjir yang menyisakan kerusakan sagat parah membuat para pegiat UMKM kesulitan untuk bangkit.

Harapan bangkit sempat muncul ketika pemerintah daerah melalui Dinas Koperasi, UKM dan Perindustrian membuka verifikasi terhadap pelaku usaha yang menjadi korban banjir. Namun hingga dua bulan berlalu, bantuan yang dibutuhkan belum juga diterima. 

Situasi ini membuat Izuddin, pengusaha warung kopi bingung. Pasalnyasemua persyaratan yang diminta sudah dipenuhi, tapi belum ada informasi lanjutan.

Sharing Kopi milik Izuddin merupakan salah satu warung kopi yang mengalami kerusakan paling parah. Kerusakan warung yang berada di Karangbaru ini mencapai 100 persen. Bangunan yang dulunya selalu ramai pengunjung, kini hanya menyisakan puing dan lantai.

Izuddin sangat terpukul mengingat di lokasi itu ada tiga unit usaha yang dirinstis bersama istrinya. Selain warung kopi, ada juga butik pakaian dan papan bunga.

Dengan nada lirih, mantan komisioner KIP Aceh Tamiang ini memastikan tidak berdaya membangun unit usaha yang sudah dirintisnya sembilan tahun. Dirinya semakin terpuruk karena harus membayar cicilan modal usaha kepada pihak bank.

Relaksasi kredit dinilainya sangat tidak tepat karena saat ini dia dan pelaku UMKM lainnya praktis kehilangan pendapatan. Kebijakan relaksasi hanya memberi pelaku UMKM tidak dibebankan kredit selama tiga bulan dengan nilai kewajiban tidak berkurang.

Fitriana, pemilik toko fotokopi dan perlengkapan alat tulis di depan kantor Bupati Aceh Tamiang juga mengaku belum bisa berpikir jernih. Usaha keluarga yang dijalankannya hancur lebur setelah banjir 26 November merusak empat unit mesin fotokopi, lima uit laptop dan seluruh stok dagangannya.

Sama halnya dengan Izuddin, Fitri pun harus berpikir ekstra keras untuk membayar kewajiban cicilan modal kepada bank. Tanggungan ini mamaksanya banting setir membuka usaha menjual sarapan di pagi hari dan menjual gorengan di siang sampai sore. (mad)

Narator: Syita

Video Editor: Muhammad Anshar

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved