Kamis, 4 Juni 2026

Video

VIDEO MUTIARA RAMADHAN Ramadhan dan Perjalanan Mencari Bekal Abadi

Jadikanlah hidup ini seperti musafir, orang yang dalam perjalanan, dan pastikan bahwa kamu akan mengalami kematian

Tayang:

Oleh  Ir H Azman Latif
Ketua Takmir Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, alhamdulillahirabbilalamin.

Para pemirsa yang dirahmati Allah, yang saya hormati, marilah senantiasa kita mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang sudah sangat banyak melimpahkan karunia kenikmatan kepada kita sampai pada hari ini.

Pemirsa yang budiman, ada sebuah hadis, Ibnu Umar itu berkata, suatu ketika Rasulullah memegang kedua pundak saya dan kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Jadikanlah hidup ini seperti musafir, orang yang dalam perjalanan, dan pastikan bahwa kamu akan mengalami kematian,” atau lebih tepatnya dalam hadis itu, “kamu akan sampai ke kubur.”

Nah, hadis ini menjelaskan bahwa hidup ini diibaratkan seperti sebuah perjalanan. Perjalanan yang barangkali bisa dianggap panjang, tapi bisa juga dianggap perjalanan yang sangat pendek, dari saat kita mengalami kesadaran sampai kemudian akhirnya kita pada sebuah kematian. Kita tidak tahu kapan kita akan mati, di mana kita akan mengalami kematian. Semua itu adalah rahasia Allah yang tidak ada seorang pun yang mengetahui, termasuk dirinya sendiri.

Baca juga: Keutamaan Shalat Tarawih Malam ke-6 Ramadhan: Batu dan Tanah Meminta Ampunan Untuknya

Nah, pada bulan Ramadhan ini, terkait dengan perjalanan, ada sebuah kisah. Kisah ini populer di kalangan para tasawuf, di dunia tasawuf, bahwa ketika Zulkarnain, kita mengenal Zulkarnain itu juga ada kisahnya pada Alquran surat Kahfi ayat 83 ke atas.

Nah, dalam kisah yang tidak terdapat di dalam AlQuran, tapi ada di kalangan para sufi ahli tasawuf itu dikatakan, ketika Zulkarnain beserta bala tentaranya itu sedang mengadakan sebuah perjalanan. Nah, sebelum berangkat, Iskandar berpesan kepada bala tentaranya bahwa kamu nanti, kita semuanya akan melewati sebuah sungai, kita akan menyeberang. Waktu itu menyeberang sungai belum ada jembatan, sehingga memang menyeberang betul begitu. Nanti ambil saja semua yang kau injak, silakan diambil.

Betul bahwa kemudian rombongan pasukan itu menyeberangi sungai. Ternyata ada tiga golongan di antara para bala tentaranya Zulkarnain itu. Satu adalah yang sangat menuruti apa yang diperintahkan oleh komandannya, Zulkarnain. Apa pun yang diinjak itu kemudian diambil dan dibawa. Sampai bawaannya banyak itu. Itu golongan yang pertama.

Golongan yang kedua adalah mengambil ala kadarnya saja, ya pokoknya sekadar menuruti perintah. Yang penting sudah menunaikan kewajiban itu supaya kewajiban itu gugur.

Tapi juga ada golongan yang ketiga. Ini yang sama sekali tidak mengambil. Dia hanya, ya untuk apalah maunya barang-barang diinjak ini, paling juga cuma batu, paling juga cuma barang-barang yang tidak berguna. Untuk apa mengambil ini? Hanya akan membuat perjalanan menjadi terganggu karena beban yang terlalu berat.
Ketika kemudian rombongan ini sampai agak jauh, maka Zulkarnain itu memerintahkan untuk membuka apa yang dibawa itu. Wah, betapa kaget bahwa ternyata yang diambil ketika menyeberang sungai itu adalah batu-batu mulia yang sangat indah, yang berkilau, yang sangat mahal harganya.

Baca juga: Yuk Mampir! Expo Ramadhan USK 2026 Hadirkan Beragam Jajanan Kreatif Mahasiswa

Maka kemudian ada tiga sikap dari para bala tentaranya itu. Yang mengambil banyak tentu kemudian menjadi senang sekali, bersyukur karena sudah menuruti perintah komandannya. Yang kedua cukup bersyukur karena sudah juga mengambil barang-barang yang ternyata itu adalah batu mulia. Sementara yang ketiga itu adalah sangat menyesal. Kenapa tadi kok tidak mengambil meskipun barang sekecil apa pun itu?
Nah, para pemirsa yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa ta'ala, maka kemudian para pengikut pasukan dari Zulkarnain ini melanjutkan perjalanan. Nah, kita tidak akan untuk kemudian bercerita lagi tentang Zulkarnain, tapi bahwa pada hakikatnya hidup ini adalah perjalanan.

Perjalanan untuk melewati bulan Ramadhan itu seperti perjalanan ketika pasukannya Zulkarnain ini menyeberangi sungai. Ada potensi bahwa ketika kita menyeberang bulan Ramadhan itu kita akan mendapatkan batu-batu mulia yang luar biasa, yang indah, yang sangat akan bermanfaat untuk masa depan kita.

Perjalanan yang panjang ini akan menjadi sia-sia ketika pada bulan Ramadhan kita tidak akan mendapatkan kesempatan yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala dengan pahala-pahala yang besar. Dalam banyak hadis disebutkan bahwa amal kita ini oleh Allah Subhanahu wa ta'ala setiap satu amal itu akan dilipatkan. Ada yang dilipatkan sampai 10 kali, ada yang dilipatgandakan sampai 27 kali, bahkan ada yang sampai 700 kali lipat itu.

Dalam sebuah hadis disebutkan, kecuali puasa. Puasa ini nanti Aku yang akan mengganti. Artinya bahwa pahala puasa itu oleh Allah Subhanahu wa ta'ala dijanjikan lebih dari sekadar 10 kali lipat, lebih dari sekadar 27 kalinya, lebih dari sekadar 700 kalinya, jauh lebih besar dari semuanya itu.

Maka perjalanan kita yang pada hakikatnya menuju pada sebuah kematian itu akan menjadi sia-sia kalau kita tidak mengambil bekal untuk kehidupan abadi, kehidupan yang Maha panjang yang akan kita jumpai setelah kematian kita.

Perjalanan ini kemudian akan menemui masa panennya adalah ketika kita memasuki, melewati bulan Ramadhan. Maka memanfaatkan bulan Ramadhan itu adalah kesempatan terbaik untuk menambah pundi-pundi pahala, untuk menambah tabungan-tabungan kita sehingga ketika besok kita dihisab, ketika kita di yaumil mizan, di hari ketika amal perbuatan kita ditimbang oleh Allah Subhanahu wa ta'ala, maka pahala di bulan Ramadhan ini akan menemukan momentumnya.

Baca juga: Perkuat Spiritual, 350 Santri Ikut Mukhayyam Al-Qur’an Ramadhan 1447 H di Dayah DQA

Inilah bekas dulu kita ketika masuk bulan Ramadhan, ketika melewati bulan Ramadhan kita mengambil semua amalan-amalan terbaik di bulan Ramadhan sehingga kemudian amal kita menjadi lebih berat dibandingkan dengan amal-amal kejelekan kita, dibandingkan dengan dosa-dosa kita.

Apalagi Allah itu sudah menjamin dalam sebuah hadis qudsi bahwa Allah itu sudah menyediakan pintu khusus untuk para soimin, untuk orang-orang yang berpuasa. Nah, pintu yang memang dikhususkan untuk orang-orang yang mengamalkan puasa yaitu yang disebut dengan Arroyan.

Nah, Arroyan ini masih akan terbuka ketika orang-orang yang berpuasa itu belum masuk. Baru akan ditutup ketika orang yang berpuasa sudah habis, kemudian baru pintunya ini ditutup.

Mudah-mudahan kita akan bisa masuk pintu Arroyan itu yang memang betul-betul dikhususkan untuk orang-orang yang mengerjakan amalan dalam bulan Ramadhan ini.
Hadis ini saya kira menjadi perhatian kita. Betapa mari kita manfaatkan Ramadhan ini untuk memperbanyak bekal kita menuju kepada kehidupan abadi yang segera akan kita temui setelah kita mati. Karena kita tidak tahu kapan kita akan mati, apakah nanti, apakah besok, apakah masih setahun, dua tahun, itu semuanya rahasia Allah.

Tapi yang lebih penting adalah bagaimana kita mempersiapkan kematian kita dengan bekal yang sebanyak-banyaknya. Dan Ramadhan itu adalah kesempatan terbaik untuk menambah-nambah pahala kita.

Matur nuwun. Kurang lebihnya mohon maaf. Terima kasih.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved