Rabu, 15 April 2026

Video

VIDEO - Pesawat Tanker AS Lintasi Langit Indonesia, Sinyal Operasi ke Iran?

Laporan akun OSINT @Osint613 di platform X menyebut pola terbang itu konsisten dengan skema “drag mission”

SERAMBINEWS.COM - Tiga pesawat tanker KC-135R Stratotanker milik Angkatan Udara Amerika Serikat terpantau melintasi koridor udara Indonesia menuju barat, Senin (23/2/2026) malam. Pergerakan ini memicu spekulasi bahwa Washington tengah memperkuat jalur dukungan udara menuju kawasan Teluk di tengah ketegangan dengan Iran.

Data pelacakan penerbangan menunjukkan ketiga tanker bergerak dari jalur Pasifik, melintas di sekitar Natuna, selatan Kalimantan hingga Sulawesi, lalu mengarah ke Selat Sunda dan Samudra Hindia. Pola tersebut dinilai identik dengan misi aerial refueling jarak jauh untuk mendampingi pesawat pembom strategis seperti B-52 Stratofortress.

Laporan akun OSINT @Osint613 di platform X menyebut pola terbang itu konsisten dengan skema “drag mission” yaitu pengawalan jarak jauh yang memungkinkan bomber menjangkau wilayah operasi tanpa mendarat. Meski belum ada konfirmasi resmi dari United States Department of Defense, pergerakan serupa kerap dikaitkan dengan penguatan posisi militer AS di bawah komando United States Central Command.

Baca juga: Iran Borong Rudal dan Ribuan Peluru Kendali dari Rusia, Siap Hadapi Serangan AS

Sejumlah pengamat menilai rute tersebut berpotensi mengarah ke pangkalan strategis Diego Garcia di Samudra Hindia, yang selama ini menjadi simpul penting operasi udara AS. Salah satu tanker dilaporkan berbalik arah di sekitar Selat Sunda, sementara lainnya melanjutkan perjalanan sebelum sinyalnya menghilang dari radar publik, pola yang lazim digunakan untuk membatasi pelacakan terbuka.

Fenomena ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya mobilisasi udara AS ke Timur Tengah dalam beberapa pekan terakhir. Sejumlah aset tempur dan logistik dilaporkan bergerak menuju pangkalan regional seperti Al Udeid di Qatar dan Prince Sultan di Arab Saudi, membentuk apa yang disebut analis sebagai “jembatan udara” berkelanjutan.

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari otoritas Indonesia terkait pelintasan tersebut. Namun lalu lintas militer asing di ruang udara nasional bukan hal baru, selama memenuhi mekanisme perizinan diplomatik yang berlaku.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved