Video
VIDEO - TA Khalid Ajak Masyarakat Aceh Kembangkan Sapi Lokal
Penyebab utamanya adalah praktik perkawinan sedarah dan tidak adanya seleksi bibit di tingkat peternak.
Penulis: Rianza Alfandi | Editor: m anshar
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rianza | Aceh Besar
SERAMBINEWS.COM, ACEH BESAR – Di hamparan padang sabana seluas ratusan hektare di Gampong Reukih Dayah, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, kumpulan sapi berwarna cokelat kemerahan tampak merumput tenang. Di kawasan itulah upaya pemurnian dan pengembangan Sapi Aceh terus dilakukan.
Lokasi seluas 430 hektare tersebut merupakan Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT), lembaga di bawah Kementerian Pertanian RI yang sejak 1978 menjadi pusat pengembangan dan pemurnian Sapi Aceh.
Anggota Komisi IV DPR RI asal Aceh, T A Khalid, meninjau langsung perkembangan di balai tersebut pada Sabtu (28/2/2026). Kunjungan itu bukan yang pertama, namun ia melihat progres yang semakin signifikan.
Sebagai wakil rakyat dari Aceh, ia berkepentingan agar Sapi Aceh terus dimurnikan dan dikembangkan oleh masyarakat sehingga menjadi salah satu sapi unggul di Indonesia.
Ia membandingkan kondisi kawasan balai saat ini dengan beberapa tahun lalu yang masih banyak semak belukar. Kini kawasan tersebut sudah sangat bagus dan ternak sapi terpantau sehat.
Ia berharap balai tersebut dapat semakin banyak menghasilkan pejantan unggul untuk kebutuhan pembibitan di masyarakat agar tidak ada lagi sapi Aceh yang kerdil akibat perkawinan sedarah.
Kepala BPTU-HPT Indrapuri, Yanhendri, mengatakan kualitas Sapi Aceh di tingkat masyarakat cenderung menurun dari tahun ke tahun. Penyebab utamanya adalah praktik perkawinan sedarah dan tidak adanya seleksi bibit di tingkat peternak.
Menurutnya, persoalan utama bukan pada ketersediaan pakan, melainkan pada manajemen pembibitan. Akibatnya, kualitas genetik menurun dan ukuran tubuh sapi semakin kecil.
Untuk mengatasi hal itu, balai menyiapkan pejantan unggul bersertifikat yang bisa didistribusikan ke masyarakat. Saat ini total populasi Sapi Aceh di balai tersebut mencapai sekitar 1.600 ekor.
Pola pemeliharaan dilakukan dengan dua metode. Penggembalaan dikhususkan bagi sapi betina, sementara pemeliharaan intensif untuk sapi jantan dengan tujuan menghasilkan bibit unggulan. Sapi jantan unggul itulah yang kemudian didistribusikan kepada masyarakat dengan mekanisme penjualan.
Pembelian Sapi Aceh dari balai tersebut tidak boleh untuk dipotong, melainkan untuk pengembangan di masyarakat. Prosedur pembelian bisa dilakukan secara langsung maupun melalui aplikasi "LeLeumo". Hasil penjualan tersebut masuk sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak.
Selain sebagai pusat pembibitan, balai ini dalam waktu dekat juga akan difungsikan sebagai tempat wisata edukasi. Selama ini kunjungan umum masih dibatasi karena kekhawatiran penularan penyakit ternak seperti PMK.
Dengan hadirnya sejumlah fasilitas baru, pihak balai sudah siap menghadirkan area khusus sebagai lokasi wisata edukasi untuk masyarakat umum. Area itu nantinya memungkinkan masyarakat berkunjung tanpa prosedur surat-menyurat untuk wisata edukasi atau sekadar melihat aktivitas peternakan. Sementara untuk magang atau penelitian tetap diwajibkan bersurat.
Narator: Syita
Video Editor: Muhammad Anshar