Video
VIDEO - Lebaran di Tenda, Ismahayati Tak Dikunjungi Tamu
Debu beterbangan setiap kali kendaraan melintas, siang hari terasa menyengat, dan malam hari tak pernah benar-benar sunyi dari suara kendaraan.
Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: m anshar
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang
SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG – Di tengah perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah yang hangat bagi sebagian besar umat Muslim, suasana berbeda terasa di Kampung Benuaraja, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang. Di tepi jalan raya yang berdebu, sebuah tenda sederhana menjadi tempat tinggal darurat bagi satu keluarga.
Ismahayati (41) bersama suami dan kedua anaknya, Nazwa Humaira (8) dan Mikhaila Mauliza (1), merayakan hari ketiga Idul Fitri di tenda tersebut. Tidak ada hidangan istimewa maupun tamu yang datang. Kondisi ini berlangsung setelah keluarga itu kehilangan tempat tinggal akibat banjir yang melanda pada November 2026.
Tenda darurat itu berdiri hanya sekitar satu meter dari badan jalan. Debu beterbangan setiap kali kendaraan melintas, siang hari terasa menyengat, dan malam hari tak pernah benar-benar sunyi dari suara kendaraan. Seluruh aktivitas, mulai dari memasak, mencuci, hingga beristirahat, dilakukan dalam ruang yang sama.
Untuk memenuhi kebutuhan buang air, Ismahayati mengaku bergantung pada bantuan tetangga atau fasilitas umum. Dalam kondisi terdesak, ia terpaksa menggunakan bungkusan plastik. Anak bungsunya juga mulai terganggu kesehatannya akibat debu jalanan, sementara panas di siang hari dan kebisingan di malam hari membuat mereka sulit beristirahat.
Suasana Lebaran yang seharusnya menjadi momen silaturahmi terasa sepi lantaran tidak ada sanak saudara yang berkunjung. Hingga kini, Ismahayati mengaku belum menerima bantuan yang berarti dari pemerintah maupun pihak kampung.
Ia berharap ada kepedulian nyata agar keluarganya dapat kembali bangkit, setidaknya untuk membersihkan rumah dan hidup layak seperti sebelum banjir. Di tengah perayaan Idul Fitri, kemenangan itu terasa jauh baginya. Lebaran yang seharusnya membahagiakan justru menjadi pengingat bahwa keluarganya masih bertahan dalam kesulitan di pengungsian, sambil menunggu bantuan yang belum kunjung tiba. (*)
Narator: Dara
Video Editor: Muhammad Anshar