Video
VIDEO - Penuh Resiko, Siswa Aceh Utara Seberangi Sungai Pakai Ban
Kondisi ini mencerminkan belum adanya pembangunan infrastruktur dasar di daerah pedesaan yang memadai.
Penulis: Jafaruddin | Editor: m anshar
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Jafaruddin | Aceh Utara
SERAMBINEWS.COM, LHOKSUKON – Puluhan siswa di Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, dalam empat bulan terakhir ini terpaksa menyeberangi sungai menggunakan perahu karet untuk menuju sekolah setiap hari.
Kondisi ini terjadi akibat jembatan penghubung antar desa di wilayah tersebut rusak dihantam banjir bandang besar pada akhir November 2025 dan sampai sekarang belum dibangun yang layak.
Tiap harinya murid menyeberang dari Desa Sawang menuju Desa Lhok Cut dengan berdiri berdesakan di atas perahu karet. Arus sungai yang cukup deras dan pada waktu tertentu kondisi air keruh menambah risiko dalam proses penyeberangan. Meski demikian, aktivitas tersebut tetap dilakukan karena menjadi satu-satunya akses bagi para siswa untuk berangkat ke sekolah.
Tidak hanya menggunakan perahu karet, sebagian warga juga memanfaatkan rakit sederhana, bahkan ban bekas sebagai alat penyeberangan. Dalam beberapa kasus, anak-anak harus diantar orang tua mereka menyeberangi sungai karena keterbatasan biaya transportasi.
Mobilitas pelajar di wilayah itu memang saling terhubung antar desa. Sejumlah siswa dari Desa Sawang bersekolah di Desa Lhok Cut, termasuk untuk tingkat taman kanak-kanak. Sebaliknya, banyak pula siswa dari Desa Lhok Cut, Kubu, dan Blang Cut yang menempuh pendidikan di Desa Sawang.
Kondisi ini mencerminkan belum adanya pembangunan infrastruktur dasar di daerah pedesaan yang memadai, khususnya akses transportasi yang aman bagi siswa.
Kendati penuh risiko, semangat anak-anak untuk tetap bersekolah tidak surut. Namun, situasi tersebut juga menimbulkan kekhawatiran. Beberapa waktu lalu dilaporkan sempat terjadi insiden anak sekolah yang jatuh ke sungai saat menyeberang.
Menanggapi hal itu, anggota Komisi III sekaligus Panitia Legislasi DPRK Aceh Utara, Abuzar, mendesak pemerintah pusat maupun daerah agar segera mengambil langkah konkret. Ia menilai kondisi ini sangat urgen dan harus segera ditangani agar tidak ada korban lagi.
Abuzar menegaskan kebutuhan paling mendesak saat ini adalah pembangunan jembatan permanen sebagai akses utama masyarakat, khususnya pelajar. Selain itu, penyediaan alat keselamatan seperti rompi pelampung juga dinilai penting untuk mengurangi risiko kecelakaan selama penyeberangan.
Warga berharap pemerintah segera merespons kondisi tersebut, agar aktivitas belajar mengajar tidak lagi dibayangi risiko keselamatan akibat keterbatasan sarana penyeberangan. (*)
Narator: Syita
Video Editor: Muhammad Anshar