Video
VIDEO - Pukat Darat Masih Jadi Mata Pencaharian Andalan Nelayan di Bireuen
Akhir-akhir ini hasil tangkapan pukat darat sangat kecil dibandingkan dengan keringat yang dikeluarkan saat menarik pukat.
Penulis: Yusmandin Idris | Editor: m anshar
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Yusmandin Idris | Bireuen
SERAMBINEWS.COM, BIREUEN - Pukat darat sebagai alat tradisional menangkap ikan masih tetap digunakan oleh nelayan di kawasan Bireuen.
Di kawasan Ujong Blang, Kuala, Jangka, Samalanga, Jeunieb, maupun Simpang Mamplam Bireuen, setiap pagi usai salat subuh para nelayan turun ke laut dengan alat tradisional. Mereka dalam jumlah belasan orang bahu-membahu menarik pukat darat.
Di Kuala Raja, Kecamatan Kuala Bireuen, Sabtu (11/4/2026), nelayan dari desa setempat atau dari Jangka terlihat menarik pukat darat. Pekerjaan menarik pukat di kawasan Ujong Blang biasanya dimulai pada pagi hari. Sekali tarik pukat melibatkan belasan orang dan membutuhkan waktu satu hingga dua jam tergantung keadaan. Setelah ditarik, nelayan bersama-sama melihat hasil tangkapan pada ujung pukat.
Akhir-akhir ini hasil tangkapan pukat darat sangat kecil dibandingkan dengan keringat yang dikeluarkan saat menarik pukat. Seorang nelayan dari Jangka menyebutkan kegiatan ini tetap dipertahankan sebagai sumber mata pencaharian para nelayan. Kegiatan tarik pukat ditiadakan pada hari Jumat atau jika ada kemalangan di desa kawasan itu.
Hasil yang diperoleh kadang-kadang tidak sebanding dengan keringat saat menarik pukat. Hasil tangkapan biasanya hanya ikan kecil dengan jumlah terbatas. Jika dihitung dalam rupiah, sekali tarik hanya memperoleh sekitar Rp50.000. Pada waktu tertentu hasil tangkapan agak lumayan, namun rata-rata sangat sedikit. Sebagai kegiatan melaut untuk menangkap ikan, hasil tangkapan dengan pukat darat dinilai sangat kecil. (*)
Narator: Syita
Video Editor: Muhammad Anshar