Selasa, 14 April 2026

Video

VIDEO - Berburu Mie Aceh di Bali, Silaturahmi dengan Para Perantau Aceh di Bali

Raker Pimpinan Tribun Network selama 10 hari memberikan banyak kesempatan bagi kami untuk bersilaturahmi dengan para perantau Aceh di Bali.

|
Penulis: Zainal Arifin M Nur | Editor: Khusna Maulidia

Laporan Zainal Arifin | Denpasar Bali

SERAMBINEWS.COM, DENPASAR – Kunjungan kami ke Bali kali ini terasa berbeda. Raker Pimpinan Tribun Network yang berlangsung selama 10 hari, memberikan kesempatan yang banyak bagi kami untuk bersilaturahmi dengan para perantau Aceh di Bali. Salah satu caranya adalah dengan menyambangi Warung Mie Aceh Pondok Bangladesh, yang terletak di Jl. Teuku Umar Barat No. 25, Denpasar. 

Benar memang, selama lima hari berada di Bali, di sela-sela Raker Pimpinan Tribun Network yang datang dari seluruh Indonesia, saya dua kali singgah di Warung Mie Aceh Pondok Bangladesh, yang terletak di Jl. Teuku Umar Barat No. 25, Denpasar. Bukan sekadar mencicipi kuliner khas, kunjungan ini menjadi perjalanan rasa, nostalgia, dan perjumpaan dengan komunitas Aceh yang menetap di tanah rantau.

Kunjungan pertama berlangsung pada Sabtu malam, 20 September 2025. Bersama dua sahabat media--Firdaus dari Serambi Indonesia dan Rudi Safruddin dari Tribun Pontianak--kami menikmati mie Aceh yang pedas dan pekat, menyatu dengan suasana warung sederhana di tengah hiruk pikuk Denpasar.

Rasanya tak berubah: autentik, menghangatkan, dan penuh kenangan

Dua hari kemudian, Senin malam 22 September, saya kembali ke warung yang sama.  Kali ini, saya dijamu oleh Azhar dari Peureulak, Aceh Timur, yang kini bertugas di BPK Provinsi Bali, dan Jafri dari Aceh Utara.  Kami berbagi cerita tentang kampung halaman, tantangan hidup di rantau, dan bagaimana semangkuk mie bisa menjadi pengikat rasa dan identitas.

Warung ini dikelola oleh Sudirman, pria asal Panton Labu, Aceh Utara, yang telah menetap di Bali sejak 2007.  Selama 18 tahun, ia merawat cita rasa Aceh di tengah denyut pariwisata Bali. Dibantu tiga pekerja dari Bireuen dan Panton Labu, mereka bukan sekadar tim dapur, tapi penjaga tradisi kuliner Aceh. 

Sudirman menuturkan bahwa warung ini merupakan cabang dari Mie Aceh Pondok Bangladesh yang pertama kali berdiri di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kini, jaringan warung ini telah berkembang ke berbagai wilayah Jabodetabek. Di Bali, selain cabang Teuku Umar Barat, ada satu lagi di Jalan Sesetan, Denpasar. 

Menu andalannya mencakup mie Aceh rebus, tumis, goreng, dan goreng basah, dengan harga mulai Rp 18.000. Toppingnya beragam: ayam, daging, udang, cumi, hingga seafood.  Ada juga nasi goreng dengan pilihan topping telur, ayam, daging, udang, cumi, dan kambing mulai Rp 20.000.  Martabak telor dan roti canai dengan topping gula, susu, cokelat, dan keju turut melengkapi sajian. 
Minuman yang tersedia antara lain es teh, teh tarik, es timun, kopi hitam, dan es jeruk. 

Ulasan pelanggan di internet menunjukkan rating tinggi, antara 4,5 hingga 4,8. Banyak yang menyebut mie Aceh-nya “top” dan “langganan tetap”. Martabak telornya juga disebut “mantap”. Beberapa pelanggan berharap porsi acar ditambah dan sendok disertakan saat bungkus. 

Namun, warung ini bukan sekadar tempat makan. Ia menjadi ruang temu, tempat diaspora Aceh bertukar kabar, menjaga rasa, dan merawat identitas di tengah Pulau Dewata. Dua malam yang saya habiskan di sana menjadi pengingat bahwa di setiap suapan mie, tersimpan cerita panjang tentang perantauan, kerja keras, dan kerinduan akan kampung halaman.

Meunasah Aceh: Titik Silaturahmi Diaspora

Sudirman dan Azhar menyebutkan bahwa saat ini terdapat sekitar 100 kepala keluarga asal Aceh yang menetap di Bali.  Sebagian besar tinggal di Denpasar dan bekerja sebagai aparatur negara di berbagai instansi. Sebagian lainnya tersebar di kabupaten/kota lain di Bali. Komunitas ini rutin menggelar pertemuan silaturahmi di Meunasah Aceh, yang berjarak sekitar satu kilometer dari Warung Mie Aceh Pondok Bangladesh Teuku Umar Barat. Salah satu agenda rutin yang mempertemukan mereka adalah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. “Tahun ini, Maulid Nabi SAW akan dilaksanakan pada 5 Oktober 2025,” ujar Sudirman, sembari mengundang Serambinews.com  untuk hadir dalam momen penting bagi warga Aceh di Bali.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved